Mas Botok pulang.
Ribuan orang yang datang bersamanya juga pulang. Jakarta kembali seperti Jakarta. Jalan depan DPR kembali menjadi jalan. Bukan lagi lautan manusia.
Matahari 27 Agustus 2026 bahkan belum tenggelam ketika massa asli Aliansi Masyarakat Pati Bersatu mulai meninggalkan Senayan.
Syukurlah.
Belakangan barulah terasa: keputusan pulang sebelum gelap itu mungkin jauh lebih penting daripada yang disadari Mas Botok sendiri. Sebab ketika matahari mulai turun, ternyata masih ada yang ingin bermain.
Kita tahu sekarang mereka kecele.
YANG DATANG BELAKANGAN
Sejak siang sebenarnya sudah ada keganjilan.
Mas Botok kemudian bercerita tentang orang-orang di luar kelompoknya yang ikut berada di sekitar aksi. Ada provokasi. Ada situasi yang menurutnya berbeda sekali dengan demonstrasi yang biasa ia hadapi di Pati.
Malam harinya kericuhan memang terjadi.
Polisi kemudian menyatakan menangkap 65 orang yang diduga hendak menunggangi demonstrasi untuk melakukan kerusuhan.
Ada pula cerita yang beredar di lapangan mengenai kelompok yang datang belakangan, kendaraan yang masuk, sampai orang-orang yang mengenakan atribut menyerupai ojol.
Mana yang benar-benar terorganisasi, siapa mereka, siapa yang membawa, dan apakah semua cerita itu saling berkaitan? Belum terang.
Tidak bisa buru-buru menuduh.
Tetapi satu hal yang terang: massa Mas Botok sudah pulang.
Mereka sudah meninggalkan arena setelah mendapatkan komitmen DPR.
Yang masih ingin membuat kerusuhan akhirnya kehilangan panggung utama; kecele.
Mau menumpang keramaian, yang punya hajatan sudah pulang.
Pak Dahlan Iskan, pada disway 29 Agustus ini menyebut, kemungkinan itu sebagai skenario “rusuh malam” yang kehilangan momentum.
Saya kira istilahnya pas.
Gelap memang sering memberikan keuntungan lain.
Siapa demonstran?
Siapa penonton?
Siapa provokator?
Siapa yang tiba-tiba melempar?
Semakin sulit dibedakan.
Kalau kemudian satu batu terbang, batu kedua gampang menyusul.
Api kecil menyala.
Kamera merekam.
Medsos meledak.
Besok paginya yang tersisa satu kata: Rusuh.
Padahal belum tentu yang rusuh adalah mereka yang sejak pagi datang membawa tuntutan.
ANARKO LAGI
Ini bukan cerita baru.
Pada demonstrasi May Day di depan DPR, 1 Mei 2025, polisi mengamankan 14 orang yang disebut berasal dari kelompok Anarko. Tiga belas kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dituduh melakukan tindakan anarkis, melawan petugas, bahkan melempari kendaraan masyarakat yang melintas di jalan tol.
Belum lama setelah itu, pada demonstrasi di DPR 25 Agustus 2025, polisi menangkap 351 orang setelah kericuhan. Polisi ketika itu menyatakan mereka bukan massa yang sejak awal datang menyampaikan pendapat. Sebagian diduga merusak fasilitas umum, melempari kendaraan dan menyerang petugas.
Kini pola serupa muncul lagi. Aksi utama berjalan.
Menjelang atau setelah sore, kelompok lain muncul. Provokasi.
Benturan. Kerusakan.
Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar:
siapa mereka?
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting: mengapa mereka selalu bisa ada?
Kalau keberadaannya sudah berkali-kali terdeteksi, mengapa pola serupa terus berulang?
Apakah mereka kelompok yang sama?
Berbeda-beda?
Bergerak spontan?
Terorganisasi?
Siapa yang membiayai?
Kita tidak boleh menjawabnya dengan tuduhan tanpa bukti.
Tetapi kita juga jangan berhenti bertanya.
Sebab kalau kelompok seperti itu benar-benar berulang kali menumpang demonstrasi, merusak fasilitas dan membelokkan tuntutan masyarakat, yang paling dirugikan justru demokrasi. Demonstran damai dicap perusuh.
Aspirasi hilang.
Yang tersisa hanya gambar api.
UNTUNG MAS BOTOK PULANG
Di sinilah keputusan Mas Botok menjadi menarik.
Ia masuk DPR.
Bertemu Sufmi Dasco Ahmad dan pimpinan DPR lainnya. Mendapat komitmen: RUU Perampasan Aset akan diketok, diberlakukan paling lambat 15 Desember 2026.
Lalu ia keluar.
Menghadap massa.
Pulang. Sebagian orang marah. Ada yang kecewa.Menganggap Mas Botok terlalu cepat mengakhiri aksi. Tetapi coba bayangkan kalau ia memilih bertahan.
Matahari tenggelam.
Ribuan massa Pati masih berada di jalan. Lalu masuk kelompok lain.
Ada yang melempar.
Ada yang membakar.
Polisi bereaksi. Massa bereaksi.
Dalam hitungan menit batas antara demonstran asli, provokator, penonton dan orang yang sekadar terbawa emosi bisa lenyap. Besok paginya headline bukan lagi:
RUU pwrampasan aset, melainkan: Jakarta Rusuh.
Mas Botok mungkin tidak merencanakannya sejauh itu. Tetapi keputusannya memulangkan massa telah memisahkan dua hal yang sangat penting:
demonstrasi dan kerusuhan.
Yang satu, hak demokrasi. Yang satunya; tindak kekerasan.
DEMO YANG SANTUN
Karena itulah saya justru menghargai demonstrasi 27 Agustus.
Massa datang.
Membawa tuntutan.
Wakilnya diterima.
Berdialog.
Mendapat kesepakatan.
Lalu pulang.
Begitulah demokrasi semestinya bekerja.
Tidak setiap demonstrasi harus berakhir dengan pagar roboh.
Tidak setiap perjuangan rakyat harus menghasilkan asap gas air mata.
Pemerintah bahkan seharusnya bersyukur masih ada orang seperti Mas Botok.
Ketika ia berkata maju, massa maju.
Ketika ia berkata bertahan, mereka bertahan.
Ketika ia mengatakan pulang, mereka pulang.
Figur seperti itu adalah rem sosial.
Yang perlu dikhawatirkan justru kalau suatu hari tidak diperlukan lagi seorang Mas Botok untuk mengumpulkan massa.
Atau lebih gawat:
ketika seorang Mas Botok mengatakan pulang, tetapi tidak ada lagi yang mau pulang.
JANJI YANG BERTANGGAL
Mas Botok memang pulang. Tetapi ia tidak membawa UU Perampasan Aset.
Baru janji.
Bedanya, janji kali ini mempunyai tanggal:
15 Desember 2026.
Maka tanggal itu bukan lagi sekadar agenda legislasi. Ia menjadi tanggal jatuh tempo kepercayaan.
James C. Davies pernah memperkenalkan _J-Curve Theory_. Salah satu pelajarannya sederhana: gejolak sosial tidak selalu muncul ketika masyarakat berada pada keadaan paling buruk.
Ia bisa muncul ketika harapan sudah naik, lalu kenyataan jatuh jauh dari harapan itu.
Ted Robert Gurr menyebut konsep yang berkaitan sebagai _relative deprivation_: kemarahan tumbuh dari jarak antara apa yang orang merasa layak mereka dapatkan dan apa yang kenyataannya diterima.
Maka bahaya sebuah janji bukan ketika diucapkan. Bahaya itu muncul setelah harapan dibangun.
Hari ini berharap. Besok menunggu. Lusa masih menunggu.Sampai suatu ketika: Sudah.
Janji gagal sekali, melahirkan kecewa.
Dua kali, melahirkan sinisme.
Berkali-kali? Bisa menghilangkan kepercayaan.
AIR BAH
Karena itu jangan hanya membaca keberhasilan 27 Agustus dari Jakarta yang tidak jadi rusuh besar. Ada dua pekerjaan rumah.
Pertama, aparat perlu menjelaskan secara terang siapa kelompok yang diduga menunggangi demonstrasi dan hendak membuat kerusuhan.
Jangan hanya ditangkap.
Ungkap. Siapa mereka.
Dari mana. Bagaimana berkomunikasi. Apakah saling terkait. Dan, siapa yang menggerakkan.
Sebab demokrasi yang sehat memerlukan demonstrasi yang aman dari provokator. Negara wajib melindungi orang yang menyampaikan pendapat secara damai, bukan membiarkan aspirasi mereka dibajak oleh orang yang mencari api.
Pekerjaan rumah kedua jauh lebih besar.
15 Desember.
Janji DPR harus ditepati.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah undang-undang. Tapi
kepercayaan.
Rakyat 27 Agustus masih datang dengan santun. Masih mau berdialog.
Masih percaya pada tanda tangan. Bahkan masih bersedia pulang.
Jangan sia-siakan kemewahan demokrasi itu. Pemerintahan tidak menjadi kuat karena mampu membuat rakyat diam. Pemerintahan menjadi kuat ketika rakyat masih percaya.
Hari itu Mas Botok berdiri di depan massa: pulang.
Mereka pulang.
Para penumpang gelap pun kehilangan penumpang. Kecele.
Tetapi jangan sampai kesantunan rakyat dianggap kelemahan.
Jangan pula janji dianggap sekadar obat penenang. Sebab rakyat yang hari ini masih mau disuruh pulang, suatu hari bisa datang kembali ketika merasa kepercayaannya dikhianati.
Dan ketika berbagai kekecewaan bertemu—harga hidup, pekerjaan, korupsi, ketimpangan, ketidakadilan, ditambah janji yang tidak ditepati—mereka mungkin tidak lagi datang sebagai satu rombongan yang bisa diarahkan seorang koordinator.
Mereka bisa datang dari mana-mana. Tidak perlu disuruh. Tidak perlu satu pemimpin. Tidak perlu satu komando. Mereka datang sendiri. Bergelombang. Bisa seperti air bah.
(Imawan Mashuri)

