Connect with us

Hi, what are you looking for?

Opini

Dukun Dalam Paradoks Kebudayaan

Beberapa hari yang lalu publik sempat tercengang dengan fenomena berdirinya paguyuban dukun nusantara di Banyuwangi. Sekelompok masyarakat dari ujung timur Jawa Timur itu dengan percaya diri menggunakan istiah dukun untuk perkumpulan yang mereka prakarsai. Suatu sikap yang tergolong sangat berani dan penuh resiko, ketika sekelompok orang secara terus terang mengaku dirinya sebagai dukun, padahal istilah dukun dalam kasanah kebudayaan Indonesia kontemporer menempati posisi subordinatif, dan terstigmatisasi sebagai produk budaya masa lalu yang patut disingkirkan.

Dukun menjadi ruang oposisional yang berseberangan dengan kalangan agamawan ataupun kaum terpelajar. Ketika sekelompok masyarakat dengan tegas menyebut identitas mereka sebagai dukun, otomatis menimbulkan sikap pro dan kontra, mengingat selama ini istilah dukun cenderung dihindari. Banyak komunitas yang menyebut diri mereka sebagai paranormal, pengusada, spiritualis, hingga parapsikolog, untuk menghindari sebutan dukun atau yang semakna, untuk aktivitas pengobatan alternatif yang mereka lakukan. Keberadaan dukun sebagai kearifan lokal bangsa Indonesia mulai dijauhi dan disalah artikan oleh sekelompok orang. Padahal istilah dukun pada awalnya memiliki konotasi yang netral dan tidak selalu merujuk pada sikap negatif.

Baca Juga ----------------------------

Dukun dalam kosa kata  bahasa Indonesia dapat dimaknai sebagai ahli pengobatan atau ahli dalam ilmu-ilmu nujum. Dukun seperti halnya shaman merupakan figur tetua adat atau sosok yang memahami kearifan tradisional dengan baik. Posisi sosial seorang dukun  sangat sakral dan dihormati dalam struktur masyarakat tradisional. Kebebesaran raja-raja nusantara tidak dapat dilepaskan dari kehadiran sosok dukun di sekitarnya. Dukun menjadi tokoh penting dalam budaya nusantara yang bersifat kosmosentris, dimana setiap aktivitas kebudayaan selalu dikaitkan dengan perhitungan-perhitungan kosmologis.

Dukun adalah penghubung antara dunia manusia yang tampak secara fisik dengan dunia atas yang tidak terlihat. Pada konsep kosmologi nusantara, dunia manusia berada di dunia bawah,yang perlu menjalin komunikasi dengan dunia atas, dukun menjadi medium yang berada di dunia tengah. Dunia tengah merupakan dunia penghubung antara dunia bawah dan dunia atas.

Kebudayaan Kosmosenstris

Kebudayaan nusantara berbeda dengan kebudayaan Barat yang bersifat antropomorfis, dimana semua aktivitas berpusat pada eksistensi manusia. Manusia dengan segala akal budinya menjadi indikator tunggal untuk memahami semua fenomena alam. Pada titik tersebut keberadaan logika  menjadi penting. Logika dibangun dari fakta-fakta empiris yang harus dapat  diukur secara indrawi. Satu fenomena menjadi rasional atau masuk akal bila dapat dijelaskan dengan logika, baik secara empiris maupun kritis.  

Bukti-bukti empiris yang terstandar dalam format logika adalah jantung modernitas. Satu konsep yang mengesampingkan faktor irrasional dalam pembentukan peradaban manusia. Paham rasionalisasi dalam segala aspek tersebut  menjadi  pintu masuk ke alam modern yang dianggap lebih beradab.

Fenomena yang dimulai sejak masa Renaisans Eropa pada abad ke 14. Paham ini secara cepat menyebar ke berbagai belahan dunia lain, termasuk ke Indonesia. Kebudayaan Barat kemudian meletakan sendi-sendi rasionalitas untuk membangun peradaban dan menjadi ukuran tunggal keilmuan.

Perbedaan konsep kebudayaan barat dan Timur inilah yang menjadi akar persoalan komunikasi lintas budaya di kemudian hari. Kebudayaan Barat melihat fenomena irrasional sebagai subjek di luar sistem (outer subjek matter) yang tidak mendapat tempat dalam paradigma keilmuaan barat, atau ilmu pengetahuan (sains).

Fakta-fakta empiris semata tidak cukup menjadikan satu fenomena sebagai ilmiah, tetapi perlu dikaji melalui metodologi yang kritis, sehingga fenomena dukun atau segenap aktivitas paranormal yang bersentuhan dengan dunia irrasionalitaspun  menjadi tidak lazim untuk  diperbincangkan.

Dukun, meskipun memiliki kapasitas sebagai tenaga penyembuh tetapi ia tetap bukan tenaga medis yang dihasilkan dari proses pendidikan dengan kurikulum terstandar, tetapi figur yang belajar secara non formal bahkan kadang otodidak. Aktivitas perdukunan atau aktivitas paranormal adalah sesuatu yang berada diluar sains atau ilmu pengetahuan, dimana rasionalitas menjadi tolok ukur tunggal.

Penjaga Harmonisasi

Pada satu sisi, paradigma kosmosentris dalam kebudayaan nusantara, tidak menempatkan rasionalitas sebagai pendekatan paling penting dalam pengambilan keputusan. Prinsip kosmosentris melihat kuasa adi kodrati lebih utama dari kuasa logis manusia. Kuasa adi kodrati yang ditunjukan melalui gejala-gejala alam maupun pada proses mediumisasi, menjadi petunjuk awal untuk memulai suatu aktivitas. Kosmosentris berpedoman pada prinsip keseimbangan antar unsur di alam, sehingga segala sesuatu harus ditempatkan pada tempat yang semestinya.

Gangguan terhadap keseimbangan kosmos  akan menimbulkan konflik, bencana ataupun penyakit tertentu. Upaya penyembuhan suatu penyakit dimaknai sebagai upaya untuk mengembalikan  keseimbangan dalam diri manusia, dalam relasinya dengan unsur-unsur makrokosmos. Manusia adalah perwujudan mikrokosmos atau jagad cilik yang eksistensinya sangat tergantung pada makrokosmos atau jagad gede.  Sesuatu yang terjadi pada diri manusia, baik musibah, penyakit ataupun kesialan berkaitan dengan sesuatu di luar dirinya.

Pada intinya kebudayaan nusantara melihat relasi yang harmonis antara mikrokosmos dan makrokosmos harus tetap terjaga dengan laku atau tindakan-tindakan tertentu. Aktivitas menjaga keseimbangan inilah yang tidak dapat dilogika secara ilmiah, sehingga sering menimbulkan salah paham bagi pihak-pihak lain. Aktivitas penyembuhan yang dilakukan para dukun pada hakekatnya adalah aktivitas mengembalikan keseimbangan kosmologis tersebut.

Pada titik tersebut peran dukun ataupun ketua adat menjadi penting. Dukun dipandang sebagai figur yang memiliki kapasitas untuk mengembalikan keseimbangan atau harmonisisi. Prinsip penjaga keseimbangan kosmos inilah yang tidak dipahami oleh pola fikir yang bertumpu pada paradigma barat. Logika Barat berpusat pada diri manusia sebagai penguasa hakiki alam semesta, sehingga konsekuensi eksploitasi menjadi sesuatu yang wajar.

Sejarah kebudayaan barat menunjukkan proses ekspansi maupun eksplorasi yang berujung eksploitasi dilakukan atas nama kemajuan dan modernitas. Logika budaya Barat tersebut yang berseberangan dengan logika budaya timur yang lebih mengedepankan harmonisasi dalam setiap penyelesaian konflik. Kebudayaan timur tidak mengambil peran ekploitatif tetapi lebih kepada sikap kolaboratif untuk menghadapi konflik, mengingat manusia, dalam kacamata budaya timur tidak bersifat otonom, tetapi sangat tergantung pada kuasa makrokosmos.

Pemahaman terhadap  konsep kebudayaan timur ini yang semakin lama semakin terpinggirkan. Masyarakat kontemporer lahir dan tumbuh dalam konsep yang serba logis sebagai paradigma tunggal kebenaran, sedangkan sisi irrasionalitas tidak mendapat tempat dalam iklim modern.

Kebudayaan timur selalu dilihat tumbuh dan besar dalam iklim yang irrasional dalam padangan kebudayaan barat, sehingga apapun pencapaian dalam terminologi timur dipandang tidak rasional dan tidak ilmiah, sehingga berujung pada sikap antipati.

Eksistensi dukun yang diklasifikasikan sebagai aktivitas tidak ilmiah dan tidak rasional dinilai tidak layak diperbincangkan dalam forum-forum resmi. Posisi dukun yang pada masa lampau dianggap sebagai salah satu penjaga keharmonisan kosmos, posisinya telah digantikan oleh sains dan konsep-konsep kebudayaan baru, yang menempatkannya sebagai figur yang teralineanisasi dari struktur masyarakatnya sendiri.

Masyarakat kontemporer tidak lagi membutuhkan figur-figur penjaga keseimbangan kosmologis, karena pemahaman mereka telah terkontaminasi dengan doktrin-doktrin baru yang mengusung konsep fikir oposisional dan dikotomis. Masyarakat kontemporer cenderung melihat konflik terbuka sebagai solusi paling efektif untuk menyelesaikan satu persoalan dari pada membangun sikap kolaboratif, sebagaimana yang diajarkan nenek moyang bangsa ini.

Penulis :

Rudi Irawanto (Dosen Jurusan Seni dan Desain FS UM, Mahasiswa Doktoral Kajian Budaya Universitas Udayana, Founder Nusantaraterra)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

Malang Raya

Malang Post – Ketua Bhayangkari Malang Kota, Ny Enic Budi Hermanto, resmi membuka proses pembangunan Gedung Bhayangkari. Prosesi peletakan batu pertama pembangunan Kantor Bhayangkari...

Malang Raya

Malang Post – Polresta Malang Kota gelar acara tasyakuran HUT Polisi Lalu lintas ke-66, Jumat (24/9/2021) dan dihadiri seluruh perwira jajaran Satlantas Polresta Malang...

headline

Malang Post – GMNI Malang melakukan unjuk rasa menyikapi Walikota Malang Sutiaji yang diduga melanggar peraturan PPKM, Minggu 19 September 2021. Viral di medsos...

Pendidikan

Malang Post —  Universitas Negeri Malang (UM) melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dengan tema: Pengembangan Konten Pembelajaran Interaktif Pada Guru Sekolah Luar Biasa (SLB)...

Malang Raya

Malang Post – Jumat, 24 September 2021, Babinsa di Kota Malang menyebar di sejumlah lokasi pelaksanaan vaksinasi.Pertama, vaksinasi dosis 2 ditempat ibadah yang ada...

Malang Raya

Malang Post – Dalam rangka menyambut peringatan HUT TNI ke-76 Tahun 2021, Korem 083/Bdj beserta Kodim 0833/Kota Malang secara serentak melaksanakan Bakti sosial berupa...

headline

Malang Post- Soal kasus rombongan “Gowes”  Walikota Malang, Sutiaji dan jajaran OPD ke Pantai Kondang Merak, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang Minggu (19/9) lalu, memang sudah...

Malang Raya

Malang Post – Bupati Malang Drs HM Sanusi MM pernah menjanjikan akan memberikan dana ekstra kepada 378 Desa dan Kelurahan di Kabupaten Malang sebanyak...