Idul Adha adalah sebuah deklarasi sekaligus proklamasi agung tentang ketahanan keluarga (family resilience). Itulah salah satu dimensi yang sering luput dari ruang refleksi kita mengenai hari raya yang menandai sejarah heroik dibalik kisah Ibrahim dan putera tercintanya, Ismail, serta ibunda tangguhnya, Siti Hajar. Ada narasi yang mendominasi ruang publik berupa kesalehan ritual dan jaminan ketahanan pangan lewat pembagian daging kurban di balik riuh rendahnya pelaksanaan idul kurban, yakni dimensi sosial-ekonomi yang sangat vital. Peristiwa suci di altar Mina ribuan tahun lalu yang menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah haji dan umrah tersebut, sejatinya bukanlah drama sosiologis yang berdiri sendiri. Ia adalah ujian terakhir dari sebuah proses panjang parenting di “Madrasah Ibrahimiah”, sebuah institusi edukatif domestik yang diperankan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Model madrasah Ibrahimiah ini menawarkan sebuah blueprint yang sangat relevan untuk menyelamatkan masa depan calon generasi penerus bangsa tercinta, ketika institusi keluarga menghadapi guncangan nilai, teknologi, dan kesehatan mental akibat disrupsi.
Disrupsi digital telah melahirkan paradoks besar, yakni mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Rumah sering kehilangan identitas dan fungsinya sebagai perlindungan dan tempat yang paling nyaman. Ruang keluarga riuh dengan gawai namun sunyi dari dialog. Semua sibuk dengan keasikan menjelajah dunia maya tanpa mempedulikan apa yang terjadi di ekitarnya. Hal-hal semacam inilah di antara pemicu rapuhnya ketahanan keluarga modern sehingga berujung pada perceraian, depresi pada remaja, hingga alienasi sosial, karena gagalnya komunikasi antar dan lintas generasi.
Fenomena tersebut menjadikan Madrasah Ibrahimiah sebagai model ideal dalam komunikasi lintas generasi, antara ayah dan anak. Keberhasilan Nabi Ibrahim membentuk karakter Nabi Ismail yang tangguh, santun, dan matang secara emosional tidak terbentuk secara instan namun melalui proses panjang penempaan karakter, di antaranya melalui komunikasi dialogis dan demokratis. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang secara lengkap diabadikan dalam QS al-Shaffat: 100-107 ini merupakan ujian keimanan terbesar bagi bapak monotheisme dan bapak para Nabi (abul anbiya’) ini. Peristiwa yang menjadi dasar hukum bagi ibadah qurban tersebut merupakan bukti sejarah paling monumental dalam proses pendidikan anak. Sebagai ayah yang pada hakikatnya memiliki ororitas mutlak dan hak veto, Ibrahim tidak memaksakan kehendak, meski beliau terima sebagai perintah Allah. Ayah yang sangat bijaksana itu mendatangi puteranya seraya mengajukan pertanyaan reflektif: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS al-Shaffat:102).
Dialog dan komunikasi transformatif dalam al-Quran tersebut mencerminkan bagaimana pentingnya membuka membuka ruang diskursus yang setara. Ia menghargai hak asasi anaknya sebagai manusia merdeka untuk berpikir dan merespons. Di era disrupsi, ketika anak-anak kita lebih sering mendengarkan “suara” algoritma media sosial ketimbang suara orang tuanya, pola komunikasi sebagaimana dalam madrasah Ibrahimiah ini laksana obat penawarnya. Ketahanan keluarga tidak akan pernah terbentuk lewat kepatuhan buta yang dipaksakan melalui otoritas mutlak orang tua, melainkan dari kedekatan emosional dan sentuhan perasaan yang dibangun di atas fondasi saling mendengar dan menghargai.
Relevansi lain yang dapat diambil dari momen Idul Adha bagi ketahanan keluarga adalah pentingnya manajemen ego dan pengorbanan bersama (mutual sacrifice). Dalam konteks membangun kedekatan dan merajut keharmonisan dalam satu atap rumah, ego individual dari setiap anggota keluarga harus berani “disembelih”, sebagaimana makna etimologis dari diksi “kurban”, yang berarti mendekat. Keluarga tangguh di era modern membutuhkan pengorbanan nyata dari seluruh anggota keluarga. Seorang ayah harus rela mengorbankan sebagian waktu kesibukan profesionalnya demi hadir secara utuh (fisik dan psikis) di samping anak-anaknya. Seorang ibu harus tangguh sebagaimana Siti Hajar yang tidak menyerah ketika ditinggalkan Ibrahim di lembah Bakkah yang kering dan tandus. Hajar adalah simbol ketahanan ekonomi dan psikologis. Ia berupaya keras menyambung hidup bayinya dengan berlari antara bukit Safa dan Marwa. Ia merepresentasikan bahwa perempuan adalah pilar utama yang menjaga ruang domestik tetap bertahan saat badai krisis melanda. Anak-anak juga harus berkorban dengan menghilangkan sifat manja, egoisme dan ketergantungan, menuju kemandirian, ketaatan dan kepasrahan secara total. Pada umumnya, rumah tangga yang rapuh dihuni oleh individu-individu yang enggan berkorban. Ketika suami dan istri lebih memilih validasi di dunia maya ketimbang kehangatan di dunia nyata, maka tinggal tunggu waktu retak dan hancurnya bangunan keluarga tersebut.
Kemandirian dan kecerdasan anak sebagaimana digambarkan dalam sosok Ismail yang penuh kesalehan itu, menjadi tantangan berat bagi ayah dan ibu untuk mewujudkannya.
Kesalehan Ismail yang tercermin dari jawaban atas pertanyaan ayahnya: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” menunjukkan bahwa Ismail memiliki frekuensi spiritualitas dan keyakinan yang sama dengan orang tuanya. Ibrahim, Ismail dan Hajar, memiliki ikatan yang sangat kuat laksana jangkar yang menambatkan atau menahan posisi kapal agar tetap stabil, tidak mudah goyah dan turbulensi oleh guncangan angin, badai dan gelombang kehidupan. Karena itu, Idul Adha harus menjadikan rumah kita sebagai replika Madrasah Ibrahimiah. Sebuah tempat di mana dialog dihidupkan, ego diredam, ketangguhan mental ditempa, hak asasi dihormati, dan nilai-nilai spiritual dijadikan kompas utama. Karena hanya dari rahim keluarga yang tangguh seperti inilah, sebuah peradaban akan dilahirkan. Mari kita refleksikan momen Idul Adha sebagai madrasah ibrahimiah, yang akan menjadi kompas spiritualitas utama untuk menyembelih egoisme dan keangkuhan, membuka ruang dengar bagi anak-anak, serta menjadi tempat paling aman dan paling nyaman (baiti jannati) di tengah disrupsi digital yang kian riuh. Semoga Allah menerima ibadah qurban kita untuk orang-orang tercinta. Eid Mubarak, wallah a’lam. (***)




