GAYENG: Anggota PAKASA Malang Raya, saat berbincang santai dengan Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, seusai audiensi di Pringgitan Pendopo Agung. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
MALANG POST — Modernisasi boleh saja melesat kencang, namun akar budaya Jawa tidak boleh tercerabut dari tanah leluhur. Semangat merawat peradaban itulah yang mendasari Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, menerima audiensi khusus jajaran pengurus Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (PAKASA) Malang Raya, di Ruang Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang pada Selasa (2/6/2026) pagi. Pertemuan strategis ini digelar guna mematangkan koordinasi serta mengunci dukungan penuh pemerintah daerah, demi menyukseskan agenda akbar Pengukuhan Pengurus PAKASA Malang Raya dalam waktu dekat.
Suasana di ruang Pringgitan pagi itu terasa hangat. Khas obrolan orang-orang yang peduli kebudayaan.
Wabup Lathifah tidak sendirian. Ia didampingi jajaran birokrat yang klop dengan urusan ini. Ada Asisten Perekonomian dan Pembangunan, serta perwakilan dinas “tiga serangkai”: Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, hingga Bakesbangpol Kabupaten Malang.
Hadirnya para kepala dinas ini menjadi sinyal kuat. Pemkab Malang memandang urusan adat bukan sekadar tempelan. Ini bagian dari pembangunan karakter yang berkelanjutan.
Ketua PAKASA Malang Raya, Dwi Indrotito Cahyono, langsung menyampaikan maksud kedatangannya.
Dia mengetuk pintu pemkab untuk menjalin sinergi. Tito—sapaan akrabnya—ingin pengukuhan organisasi yang dipimpinnya nanti, tidak berakhir sebagai acara potong tumpeng semata.
“Kami berharap kegiatan pengukuhan ini menjadi sarana mempererat persaudaraan, memperkuat kecintaan terhadap budaya bangsa, serta mengenalkan nilai-nilai luhur budaya Keraton Surakarta kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” ujar Tito.

SAMBUTAN: Wakil Bupati, Lathifah Shohib, ketika menerima Ketua PAKASA, Dwi Indrotito Cahyono dan anggotanya, di Pringgitan Pendopo Agung. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Gayung bersambut. Wabup Lathifah Shohib langsung memberikan dua jempol. Bagi cucu pendiri NU ini, keberadaan organisasi seperti PAKASA, adalah benteng pertahanan zaman. Di tengah gempuran budaya luar yang dinamis, harus ada yang telaten merawat nilai adiluhung warisan leluhur.
Budaya adalah identitas. Sekali identitas itu hilang, bangsa ini akan limbung.
“Budaya merupakan identitas bangsa yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus. Kami berharap kegiatan pengukuhan ini sukses dan memperkuat kolaborasi,” kata Lathifah.
Lathifah melangkah lebih jauh. Baginya, melestarikan budaya itu setali tiga uang dengan membangun karakter manusia. Di dalam ritus budaya, ada ajaran etika yang halus. Ada nilai gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap sejarah. Nilai-nilai inilah yang kini mulai mahal di tengah masyarakat.
Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Malang yang ikut duduk di lingkaran audiensi langsung menangkap umpan lambung tersebut. Sektor sekolah dasar hingga menengah, dinilai menjadi ladang paling strategis untuk menanamkan benih cinta kultur Nusantara sejak dini.
Kurikulum penguatan karakter bisa dikawinkan dengan komunitas budaya. Pelajar bisa diajak mengenal sejarah dan adat istiadat tidak hanya dari buku paket yang kaku, melainkan melihat dan menyentuh langsung praktiknya di lapangan melalui PAKASA.
Sektor pariwisata pun ikut mengendus peluang emas. Perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang melihat, pengukuhan pengurus atau ajang budaya yang nanti digelar PAKASA bisa dikemas menjadi magnet pelancong. Wisatawan zaman sekarang bosan dengan wisata buatan. Mereka mencari pengalaman autentik.
“Event budaya seperti pengukuhan organisasi, pertunjukan seni, maupun kegiatan adat dapat menjadi bagian dari atraksi wisata yang menarik,” jelas perwakilan dinas pariwisata. Sinergi ini diyakini bisa menaikkan citra Kabupaten Malang sebagai destinasi yang kaya nilai tradisi.
Audiensi pun ditutup dengan senyum mengembang dari kedua belah pihak. Nota kesepahaman lisan sudah dikantongi, dinas-dinas terkait sudah siap bergerak.
Kini, bola ada di tangan PAKASA Malang Raya untuk mengemas prosesi pengukuhan nanti menjadi sebuah panggung budaya yang tidak hanya agung, tapi juga mengedukasi dan mendatangkan berkah ekonomi bagi pariwisata daerah. (PKP/Ra Indrata)




