BULAN DZULHIJJAH merupakan salah satu bulan yang paling dimuliakan dalam Islam. Di dalamnya terdapat rangkaian ibadah dan peristiwa besar, terutama ibadah haji dan Hari Raya Idul Adha. Pada sepuluh hari pertama bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh karena memiliki keutamaan yang sangat besar di sisi Allah SWT.
Hari Raya Idul Adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum untuk merenungi keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS, sebuah keluarga yang dibangun di atas fondasi iman, keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan mutlak kepada Allah SWT.
Di dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim AS disebut sebagai uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat manusia. Dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 4, Allah SWT berfirman, “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim AS menghadapi ujian hidup yang sangat berat, tetapi beliau menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada Allah SWT.
Idul Adha mengajarkan kepada kita bahwa dalam menjalankan perintah Allah, terkadang manusia harus rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, bahkan keluarga dan anak yang sangat disayangi.
Kisah itu tergambar ketika Nabi Ibrahim AS membawa istrinya, Siti Hajar, bersama putranya, Nabi Ismail, yang saat itu masih bayi, menuju sebuah lembah tandus di Makkah. Tempat yang dahulu sunyi dan gersang itu kemudian menjadi lokasi munculnya sumber air zam-zam di kawasan Masjidil Haram.
Sulit membayangkan bagaimana keadaan seorang ibu dan anak kecil yang ditinggalkan di tengah padang pasir tanpa bekal yang cukup, tanpa air, dan tanpa pertolongan. Sang anak menangis kehausan, sementara seorang ibu harus menghadapi rasa takut dan kesendirian. Namun, semua itu dijalani dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT.
Di sinilah tampak kemuliaan keluarga Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim adalah sosok suami dan ayah yang taat kepada perintah Allah. Siti Hajar menunjukkan kesabaran dan keteguhan hati sebagai istri yang salehah. Sedangkan Nabi Ismail tumbuh menjadi anak yang penuh adab dan ketaatan.
Pelajaran besar dari Nabi Ismail AS sangat relevan bagi para penuntut ilmu dan generasi muda hari ini. Ketika sang ayah menyampaikan perintah Allah yang sangat berat, Nabi Ismail tidak membantah, tidak mengeluh, dan tidak melawan. Beliau justru berkata, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Kalimat itu menunjukkan tingginya adab seorang anak kepada ayahnya sekaligus bukti ketundukan kepada Allah SWT.
Dari sini kita belajar bahwa keberkahan ilmu tidak hanya lahir dari kecerdasan akal, tetapi juga dari adab kepada guru dan bakti kepada orang tua. Banyak orang memiliki ilmu tinggi, tetapi tidak semuanya mendapatkan keberkahan ilmu. Keberkahan itu lahir dari sikap hormat, tawadhu’, dan kepatuhan kepada orang tua serta para guru.
Karena itu, menghormati kedua orang tua adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Jangan sampai hati ibu terluka dan ayah kecewa, sebab ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua. Begitu pula kepada para guru dan masyayikh di pesantren, karena merekalah yang membimbing kita mengenal Al-Qur’an, memahami akhlak, membedakan halal dan haram, serta menuntun jalan menuju ridha Allah SWT.
Abdullah bin Mubarak pernah berkata, “Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.” Perkataan ini mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, merasa paling benar, dan mudah merendahkan orang lain.
Oleh sebab itu, Nabi Ismail AS layak dijadikan teladan bagi generasi muda. Jadilah anak yang taat kepada orang tua, murid yang tawadhu’, serta pribadi yang beradab dalam menuntut ilmu dan bergaul dengan sesama.
Keluarga Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa ikhlas bukan berarti menyerah karena tidak memiliki pilihan, melainkan memilih taat kepada Allah meskipun hati terasa berat. Ikhlas adalah kemampuan menundukkan ego dan rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintai demi meraih ridha Allah SWT.
Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail juga mengajarkan bahwa keluarga adalah madrasah pertama dalam kehidupan. Dari keluargalah nilai tauhid, kesabaran, pengorbanan, dan ketakwaan ditanamkan.
Nabi Ibrahim mengajarkan keteguhan iman sebagai seorang ayah, Siti Hajar mengajarkan kesabaran dan kemuliaan sebagai seorang ibu, sedangkan Nabi Ismail mengajarkan bakti dan ketaatan seorang anak kepada orang tua serta kepada Allah SWT.
Melalui momentum Idul Adha, kita diingatkan bahwa keberanian sejati bukanlah tentang kekuatan fisik, melainkan kesiapan untuk tetap taat kepada Allah meskipun hati terasa berat. Cinta yang paling tinggi bukanlah tentang memiliki, tetapi tentang keikhlasan untuk melepaskan demi meraih ridha-Nya.
Pada akhirnya, Idul Adha mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang keikhlasan dalam melepaskan. Keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS menjadi pengingat bahwa cinta kepada Allah harus ditempatkan di atas segala-galanya. Dari keluarga inilah kita belajar bahwa rumah tangga yang dibangun dengan iman akan melahirkan keteguhan dalam ujian, kekuatan dalam pengorbanan, dan keberkahan dalam kehidupan.
Semoga kita mampu meneladani iman Nabi Ibrahim AS, kesabaran Siti Hajar, dan ketaatan Nabi Ismail AS, sehingga Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat ketakwaan, menumbuhkan adab dalam kehidupan, serta mendekatkan hati kepada Allah SWT. (***)




