PADA momen kita berada di hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq 1447 H, hewan berupa sapi dan kambing mendadak menjadi makhluk yang paling terkenal. Mereka dikandangkan di pinggir jalan atau di tanah lapang yang tersebar di sekitar kota dan pinggir jalan. Termasuk yang sedang diikat di samping rumah dan halaman masjid dengan wajah tenang seperti imuwan yang baru selesai membaca buku filsafat ilmu.
Seekor kambing putih mulus gemuk sebangsa kambing Etawa memandang ke arah penulis dengan pandangan yang agak lama, tidak kalah merasakan pandangannya yang merasuk dalam hati. Tatapannya dalam, melampaui hitungan dan janji kampanye. Saya merasa dia sedang bertanya
“Batin ini tergerak untuk menghubungkannya dengan Manusia, secara jujur sebenarnya siapa yang sedang dikurbankan? Aku (Ruh yang Sidiq- Amanah-Tabligh-Fathonah) atau Jiwa-mu (hawa-nafsu-dunia-syetan (HNDS)?” Saya susah menjawab pertanyaan seekor filsuf. Bisa jadi, kambing sering lebih jujur daripada manusia. Kambing tidak pernah pura-pura miskin demi bantuan sosial. Kambing tidak pernah mengaku pejuang rakyat, sambil menyimpan tabungan di rekening luar negeri. Kambing juga tidak pernah membuat konferensi pers setelah memakan daun singkong. Di pasar hewan sana, di pinggir jalan, para kambing berdiri seperti peserta seleksi calon pejabat. Giginya diperiksa, badannya ditimbang, bulunya dilihat, kesehatannya dipastikan. Begitulah, untuk menjadi qurban saja kambing harus memenuhi syarat yg sangat ketat. Sementara manusia kadang bisa memimpin tanpa pernah diperiksa apakah hatinya sehat, apakah niatnya tidak pincang, apakah lidahnya tidak rabies, apakah persyaratan administrasinya memenuhi (misal keaslian ijazahnya).
Sementara, seekor sapi besar tampak termenung di bawah tenda biru sana. Barangkali ia sedang menyusun memoar: Aku Pernah Merumput di Sebuah Padang, lalu Menjadi Simbol Keikhlasan. Matanya basah tapi bukan karena takut. Mungkin, ia sedih melihat manusia yang setiap tahun menyembelih hewan, tetapi lupa menyembelih HNDS dan kesombongannya sendiri. Karena kata ustadz, kyai, tuan guru, ulama bahwa qurban sesungguhnya, bukanlah sekadar urusan pisau, darah, daging, plastik kresek putih, dan antrean kupon. Qurban sesungguhnya adalah ujian apakah hati manusia masih bisa dibagi tanpa harus difoto dari tujuh sudut untuk pencitraan. Hal tersebut, karena kini ada gejala, keikhlasan pun sering menunggu sinyal internet. Sebelum daging sampai ke tangan fakir miskin, kadang sudah lebih dulu sampai ke “story” Instagram atau status.
Ada panitia yang sibuk menghitung paha, iga, jeroan, dan kepala. Kulit pun di kalkulasi untuk siapa dan ke mana?!Semua harus adil dan tercatat. Sementara di sudut lain, Malaikat mungkin sedang menghitung sesuatu yang lebih halus: siapa yang memberi karena cinta dan kasih-sayang, siapa yang memberi karena malu, dan siapa yang memberi karena namanya ingin disebut di lapangan pada saat Shalat Id.
Di dunia dan alam mimpi, mungkin kambing-kambing dan sapi itu berkumpul malam sebelum disembelih. Mereka rapat di bawah bulan sabit. Ketua kambing membuka sidang: “Saudara-saudara para kambing dan sapi sekalian, besok sebagian dari kita akan menjadi jalan bagi manusia untuk mengingat Ibrahim. Tapi mohon dicatat, jangan sampai mereka hanya menyembelih kita, sementara kerakusan mereka tetap dipelihara seperti anak emas.” Semua kambing dan sapi mengangguk. Seekor kambing muda bertanya, “Apakah setelah qurban manusia akan menjadi lebih lembut, lebih beriman, dan lebih bertaqt?” Kambing tua menjawab, “Secara teori, iya. Secara praktik, tergantung apakah hatinya ikut dipotong kecil-kecil lalu dibagikan ke fakir miskin secara ikhlas atau tidak?.”
Begitulah, Idul Adha datang setiap tahun bukan untuk membuat kambing dan sapi panik, melainkan untuk membuat manusia sadar. Alat yang ditajamkan bukan hanya pisau para petugas yang menyembelih, tetapi juga pertanyaan di dalam batin: “Apa yang sudah kita korbankan selain uang? Apa yang sudah kita lepaskan selain hewan? Apakah kita sanggup mengurbankan ajib, ria’, takabur, iri, dengki, hasut, fitnah, tamak, loba/rakus, dan sombong (10 maksiat batin). Kebiasaan ingin dipuji dan kebiasaan merasa paling benar?” Qurban tanpa perubahan batin hanyalah festival daging dengan sedikit aroma spiritual. Perut kenyang, “freezer” penuh, tetapi hati tetap alot seperti sandal jepit yang direbus atau digodok tiga hari.
Ketika takbir berkumandang, kambing-kambing dan sapi-sapi itu mungkin tersenyum diam-diam. Mereka tahu, tubuh mereka akan selesai dipotong, sementara tugas manusia justru baru dimulai: “belajar menjadi lebih mukmin daripada sebelumnya”. Qurban yang paling berat bukanlah membeli kambing atau sapi, tapi menyembelih “sifat manusia (HNDS)” yang selalu merasa lebih dari segala-galanya: tidak mau kelintasan(angin, tidak mau kerendahan (air), tidak mau kekurangan (tanah), dan tidak mau kalah (api), alias “ paling kaya atau paling gagah/cantik”. Ingat firman Allah dalam surat Al Hajj Ayat 37, bahwa daging dan darahnya sekali kali tidak akan dapat mencapai Allah. Tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Wallahu a’lam. (*)
Subhanallah wa Barakallah
Semoga bermanfaat,
بارك الله فيكم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته




