DOSEN Sosiologi Universitas Negeri Malang, Abdul Latief Bustomi. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Menariknya, di tengah gaya hidup modern yang semakin individualistis, Idul Adha justru menghadirkan ruang perjumpaan sosial yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Ibadah kurban tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai ritual keagamaan tahunan, melainkan sebagai gerakan sosial yang memperkuat empati, pemerataan kesejahteraan, hingga ketahanan sosial masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan dosen sosiologi dari Universitas Negeri Malang (UM), Abdul Latief Bustami. Menurutnya, pembahasan mengenai kurban selama ini terlalu sering berhenti pada aspek teologis.
Padahal Idul Adha memiliki dampak sosial dan budaya yang sangat luas dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, kurban memang merupakan bentuk ketaatan spiritual sekaligus ungkapan syukur atas nikmat kehidupan.
Nilai tersebut tercermin dalam Surah Al-Kautsar melalui perintah mendirikan salat dan berkurban. Namun, lebih dari itu, kurban menghadirkan manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kurban menjadikan agama yang bersifat langit hadir di bumi dan dapat dinikmati masyarakat secara konkret. Jadi, ajaran agama tidak berhenti pada aspek normatif, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.
Dalam perspektif sosial budaya, kurban membentuk rantai sosial dan ekonomi yang saling terhubung. Prosesnya tidak hanya berhenti pada penyembelihan hewan, tetapi melibatkan peternak, pedagang, distribusi, panitia, hingga masyarakat penerima manfaat.
Momentum Idul Adha bahkan menjadi salah satu sarana pemerataan akses konsumsi protein hewani bagi masyarakat.
Fakta ini penting karena tidak semua kelompok sosial memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati konsumsi daging dalam kehidupan sehari-hari.
Distribusi daging kurban menjadi simbol pemerataan kebahagiaan sekaligus bentuk nyata kepedulian sosial. Di titik inilah kurban memperlihatkan wajah agama yang humanis dan membumi.
Abdul Latief juga menyinggung penelitian antropolog Roy Rappaport dalam buku Pig for the Ancestors yang membahas praktik penyembelihan hewan dalam masyarakat tradisional.
Menurutnya, konsep kurban dalam Islam telah lebih dahulu menghadirkan sistem sosial yang tidak hanya menjaga keseimbangan masyarakat, tetapi juga memperkuat kesejahteraan kolektif.
Lebih jauh, kurban mampu melebur sekat sosial yang selama ini membedakan masyarakat berdasarkan status ekonomi, pendidikan, maupun pekerjaan.
Saat Idul Adha berlangsung, masyarakat bekerja bersama tanpa memandang latar belakang. Semua terlibat dalam proses penyembelihan, pengemasan, hingga distribusi daging kurban.
“Dengan adanya kurban, orang tidak lagi mempertimbangkan status sosial, melainkan bersatu sebagai warga. Semua terlibat bersama dalam proses penyembelihan hingga distribusi daging sehingga tercipta solidaritas sosial di tengah masyarakat,” ucap pakar antropolog itu.
Tidak hanya memperkuat solidaritas, tradisi kurban juga berdampak langsung pada perputaran ekonomi rakyat. Aktivitas Iduladha menghidupkan sektor peternakan, perdagangan hewan, distribusi logistik, hingga industri kreatif berbahan kulit hewan untuk kerajinan maupun kesenian tradisional. Artinya, kurban memiliki efek berantai terhadap penguatan ekonomi masyarakat lokal.
Fenomena menarik lainnya terlihat dari meningkatnya partisipasi generasi muda dalam berkurban. Di tengah derasnya budaya digital dan gaya hidup instan, anak muda mulai memaknai kurban sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus penguatan identitas nilai kemanusiaan.
“Idul Adha bukan berbagi kemiskinan, tetapi berbagi kebahagiaan. Melalui kurban, masyarakat dapat merasakan kebersamaan, pemerataan kenikmatan, hingga tumbuhnya kepedulian sosial di tengah kehidupan bersama,” katanya.
Karena itu, Idul Adha seharusnya tidak dipahami hanya sebagai agenda ritual tahunan. Kurban merupakan instrumen sosial yang mampu memperkuat gotong royong, membangun empati, dan menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat modern yang kian kompetitif.
Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 1 (No Poverty), poin 2 (Zero Hunger), poin 3 (Good Health and Well-being), serta poin 10 (Reduced Inequalities). Distribusi daging kurban menjadi bentuk nyata pengurangan kesenjangan sosial sekaligus penguatan solidaritas masyarakat berbasis nilai kemanusiaan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kepentingan pribadi, kurban mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari menumpuk kepemilikan, melainkan dari kesediaan berbagi dan menguatkan sesama. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




