Oleh: Dahlan Iskan
Saya berlinang membaca pesan-pesan WhatsApp kekhawatiran Evi yang tidak dibalas oleh suaminya. Evi, pada Senin malam itu, tidak tidur semalam suntuk menunggu suaminya pulang. Pukul 04.00 WIB pun Evi masih mengirim pesan ke suaminya: “Ayah nginep?”
Tidak juga ada jawaban.
Lihatlah foto tangkapan layar (screenshot) WhatsApp antara Evi dan suaminya, Heriyanto, pemandu lima wartawan yang meliput erupsi Anak Krakatau dari dekat pada Senin lalu.
Pukul 18.13 WIB, sang suami tiba-tiba mengirim foto Anak Krakatau yang menyemburkan abu di tiga atau empat titik yang agak berjauhan. Tidak ada teks pada pesan ke istrinya itu. Hanya foto. Satu foto.
Evi langsung melihat pesan WhatsApp yang berisi foto tersebut. Agak lama ia menatap foto kiriman suaminya itu. Foto yang bagus (Lihat Disway kemarin).
Tujuh menit kemudian, Evi membalas kiriman foto dramatis tersebut: “Wow,” respons Evi atas karya sang suami yang bisa memotret erupsi dari dekat.

Evi menunggu pesan susulan dari sang suami. Tidak ada. Tunggu lagi. Tidak ada. Ia memantau layar ponsel suaminya. Lho, kok tiba-tiba tidak ada sinyal. Setiap dikontak hanya terdengar nada tut pendek. Padahal, selama ini sinyal di sekitar Krakatau selalu bagus.
Atau sang suami kehabisan baterai (lowbat)? Tidak mungkin. Setiap mengantar turis ke Krakatau, suaminya tidak pernah kehabisan baterai. Suaminya selalu membawa pengisi daya portabel (power bank) dalam keadaan penuh.
Pukul 23.00 WIB lewat, Evi mengirim pesan WhatsApp lagi ke suaminya. Ia curiga perahu motor (long boat) suaminya meneruskan perjalanan ke Lampung, atau perahunya terdampar di sana. “Bisi kabawa ka Lampung hente yah,” tulis Evi dalam bahasa Sunda.
Artinya Anda sudah tahu: Barangkali terbawa ke Lampung tidak ya…
Evi tidak bisa tidur. Lewat tengah malam ia masih mencoba mengontak. Gagal. Pukul 04.00 WIB ia mengirim pesan lagi. Tidak dijawab. Kirim pesan lagi. Sama saja.
Pukul 08.00 WIB keesokan harinya, Evi mengajak anaknya ke Dermaga Carita. Ia menemui orang-orang kapal cepat (speed boat) dan perahu motor (long boat) di dermaga pemberangkatan kapal ke Krakatau, termasuk yang sehari sebelumnya juga membawa turis ke Anak Krakatau. Tidak satu pun yang memiliki kabar tentang suaminya.

Anak Evi masih SD. Itulah anak satu-satunya bersama Heriyanto. Ia masih memiliki satu anak lagi: anak Heriyanto dari istri terdahulu. Anak itu kini sudah berumah tangga dan telah memberikan Evi satu cucu. Meskipun itu anak Heriyanto bersama istri terdahulu, anak tersebut sudah seperti anak Evi sendiri.
Pulang dari dermaga, Evi merasa hampa. Ia disarankan untuk melapor ke RT, lurah, dan polisi. Sampai kemarin sore, enam hari kemudian, tidak juga ada kabar berita.
Evi kini berumur 30 tahun. Suaminya 49 tahun. Mereka menikah tujuh tahun lalu. Sampai sekarang mereka masih tinggal di rumah kontrakan.
Menurut Evi, suaminya adalah seorang pekerja keras. Juga seorang humoris dan sangat baik hati. Kini Evi tidak tahu harus bagaimana. Setiap malam para tetangga Evi berkumpul di rumahnya, berdoa untuk keselamatan Heriyanto dan semua penumpang long boat Arupadhatu 1: lima wartawan, dua kru kapal, dan Heriyanto.
Lima wartawan itu agak mendadak menyewa (mencarter) perahu motor milik kepala desa Sukajadi, Sandi Wyasa. Heriyanto pun secara mendadak pamit kepada istrinya. Pukul 14.16 WIB, ketika suami mulai melepas tali kapal, Evi mengirim pesan kepadanya: “Hati-hati ya ayah…”.
Ketika suaminya sudah lebih dari satu jam berada di laut, Evi mengirim pesan: “Ibu nonton bola ewes geh tinggalen yah” (15.34).

Rupanya Evi penggemar sepak bola. Kalau di Surabaya, ia disebut Bonita. Sore itu ada pertandingan sepak bola antar-kampung (tarkam). Evi ingin melihat tim desanya berlaga.
Pesan Evi itu rupanya tidak segera terbaca oleh Heriyanto. Mungkin ia sedang sibuk melayani lima wartawan. Baru pukul 16.30 WIB sang suami membalas. Intinya ia melarang Evi menonton bola. “Udh di rumah aja,” tulisnya.
Kebetulan Evi terlambat berkumpul bersama sesama Bonita Sukajadi. Ia ditinggal, lalu Evi kembali ke rumah dan tidak jadi menonton bola.
Setiba di rumah, Evi membuka ponselnya. Ia membaca pesan suaminya yang melarang menonton bola. Maka Evi langsung menjawab: “Iya, ini di rumah”.
Pesan itu adalah kontak terakhir Heriyanto kepada Evi. Dilihat dari jamnya, berarti Heriyanto sudah sampai di tujuan: lokasi terdekat dengan erupsi Anak Krakatau.
Setelah itu, Heriyanto memang masih mengirim satu pesan ke istrinya, tetapi tanpa kata-kata. Hanya mengirim foto erupsi Anak Krakatau. Satu foto. Hanya satu foto. Tanpa apa-apa. (Dahlan Iskan)




