MALANG POST – Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang bersama PHRI dan akademisi, meracik skema tur 48 Hours in Malang, guna memperpanjang durasi menginap (length of stay) wisatawan yang saat ini tercatat menembus 2,49 juta jiwa, Rabu (9/9/2026).
Tantangan utama pariwisata Kota Malang sejatinya bukan lagi soal mendatangkan orang. Masalah krusialnya adalah bagaimana menahan rombongan pelancong, agar tidak sekadar menumpang lewat menuju Bromo atau Pantai Selatan.
Sebab, durasi menginap (length of stay) wisatawan di Kota Malang saat ini masih tertahan di angka rata-rata 1,3 hari.
Kondisi tersebut dibeberkan oleh Pengamat Ekonomi Pariwisata dari Politeknik Negeri Malang, Dr. Aang Afandi, dalam talk show di program Idjen Talk Radio City Guide 911 FM, Rabu (9/9/2026).
Aang menegaskan, tolok ukur suksesnya pariwisata tidak cukup dihitung dari angka kedatangan. Daya belanjanya saat makan, minum, hingga berbelanja oleh-oleh justru menjadi penentu utama perputaran roda ekonomi lokal.
Guna memecah kebuntuan tersebut, Aang mendorong Pemkot Malang mengemas panduan rute perjalanan bertajuk 48 Hours in Malang.
Informasi itinerary detail tersebut disebar lewat QR Code, banner, hingga booklet di titik-titik krusial pintu masuk. Mulai dari tol Singosari hingga Stasiun Malang Kota Baru.
Gagasan tersebut sejalan dengan langkah Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang.
Kepala Disporapar Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, membeberkan bahwa angka kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2026 hingga saat ini telah menembus 2.492.054 jiwa. Capaian tersebut menyentuh 72,50 persen dari target 3,4 juta orang.
Rinciannya terdiri dari 45.784 wisatawan mancanegara serta lebih dari 2,4 juta wisatawan nusantara.
Guna mengejar sisa target akhir tahun, Disporapar memoles pasar-pasar tradisional menjadi destinasi wisata baru yang unik.
Pasar Klojen dan Pasar Oro-Oro Dowo sudah lebih dulu naik kelas. Ke depan, Pasar Bareng bakal menyulip masuk dalam peta destinasi heritage.
“Selain pasar tradisional, kawasan Kayutangan Heritage tetap menjadi primadona utama. Sementara gedung Malang Creative Center (MCC) difokuskan sebagai ruang edukasi dan pengembangan ekonomi kreatif,” terang Arif.
Optimisme serupa disampaikan Ketua BPC PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki. Agoes menyebut durasi menginap tamu hotel di Kota Malang sejatinya bergerak dinamis di kisaran 1 hingga 3 hari.
Lahirnya hotel-hotel baru serta gempuran event sport tourism, budaya, hingga keagamaan dinilai sangat ampuh mendongkrak okupansi.
Sinergi antara ajang berskala nasional, penguatan UMKM, dan promosi wisata terpadu diyakini mampu mengubah Kota Malang dari sekadar kota transit menjadi destinasi tinggal yang berkesan. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




