MALANG POST – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan penguatan fenomena El Niño 2026 kategori sangat kuat yang melanda Indonesia, termasuk wilayah Malang Raya, Minggu (6/9/2026), guna memicu kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
Dunia kembali menghadapi ancaman perubahan cuaca ekstrem. Fenomena El Niño 2026 terus menguat dan kini berada pada kategori sangat kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan dampaknya terhadap kondisi cuaca dan musim kemarau di Indonesia.
Kondisi tersebut seperti yang terjadi di Malang Raya yang belum juga diguyur hujan hingga memasuki September. Praktis sejak Mei lalu tidak terjadi hujan selama sekitar empat bulan atau bahkan memasuki bulan kelima. Sinar matahari pun terasa makin menyengat.
Berdasarkan analisis terbaru BMKG, indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) rata-rata tiga bulan (Juni, Juli, dan Agustus 2026) mencapai +2,2, yang menunjukkan kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Sementara itu, nilai anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 pada Agustus juga berada pada level yang sangat tinggi.
BMKG sebelumnya juga telah menyampaikan bahwa El Niño 2026 berpotensi mencapai level sangat kuat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sebagian wilayah Indonesia sehingga risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut meningkat.
Dampak El Niño sudah terlihat dari kondisi curah hujan di Indonesia. Dalam analisis BMKG, pada dasarian kedua Agustus 2026, sekitar 90,29 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, sementara 88,61 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal.
BMKG juga memprakirakan sejumlah wilayah berpotensi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan selama September 2026. Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain sebagian Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Kondisi ini dapat memberikan tekanan terhadap ketersediaan air, sektor pertanian, dan perkebunan, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Peluang El Niño Terkuat dalam 70 Tahun
Sejumlah laporan internasional menyebut El Niño 2026 berpotensi menjadi salah satu episode terkuat dalam sejarah pengamatan modern. Reuters melaporkan bahwa prakiraan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan peluang El Niño yang sangat kuat pada periode Oktober–Desember 2026 dan berpotensi masuk ke dalam jajaran peristiwa terkuat sejak 1950.
Namun, penting untuk meluruskan informasi tersebut. BMKG sendiri, berdasarkan sumber terbaru yang tersedia, menyatakan El Niño saat ini berada pada kategori sangat kuat. BMKG tidak menyatakan secara spesifik bahwa fenomena ini merupakan “El Niño terkuat dalam 70 tahun terakhir”.
Oleh karena itu, klaim “El Niño terkuat dalam 70 tahun” sebaiknya diposisikan sebagai penilaian dari sejumlah lembaga prakiraan internasional, bukan sebagai kutipan langsung dari BMKG.
Lalu, apa itu El Niño? El Niño adalah fenomena iklim ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis menjadi lebih hangat dari kondisi normal, disertai perubahan pola angin dan sirkulasi atmosfer.
Ketika El Niño terjadi, pusat pertumbuhan awan dan hujan bergeser menjauh dari wilayah Indonesia menuju bagian tengah Samudra Pasifik. Akibatnya, curah hujan di Indonesia cenderung berkurang.
Sederhananya: suhu Laut Pasifik menghangat, pola angin dan atmosfer berubah, pembentukan awan bergeser, lalu wilayah Indonesia cenderung menjadi lebih kering.
Kendati demikian, El Niño tidak berarti seluruh Indonesia otomatis mengalami kekeringan. Dampaknya berbeda-beda menurut wilayah, musim, intensitas fenomena, dan kondisi atmosfer lainnya.
BMKG telah mendorong kesiapsiagaan menghadapi dampak El Niño, terutama dalam menjaga ketersediaan air serta mencegah kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah dan masyarakat perlu mengantisipasi kondisi kering, khususnya di wilayah yang memang sedang berada dalam periode musim kemarau.
Dengan kondisi El Niño yang kini berada pada kategori sangat kuat, imbauan BMKG bukanlah untuk membuat masyarakat panik, melainkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.
Indonesia kini menghadapi dampak El Niño yang sangat kuat. Bagi Indonesia, ancaman terbesar bukan sekadar suhu panas, melainkan kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, ancaman karhutla, dan tekanan terhadap sektor pertanian.
Oleh karena itu, informasi cuaca dan iklim resmi dari BMKG menjadi acuan penting untuk menentukan langkah antisipasi di masing-masing wilayah. El Niño bukan sekadar perubahan suhu laut di Samudra Pasifik, melainkan dampaknya dapat terasa hingga ke kehidupan sehari-hari. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




