JAWARA: Hilmy Adilah Harind bersama tim riset, didampingi Kepala MAN 2, Samsudin, usai meraih medali emas dalam kompetisi penelitian digelar oleh BRIN Jakarta. (Foto: istimewa)
MALANG POST – Lereng Gunung Arjuno ternyata menyimpan lebih dari sekadar bentang alam. Jejak vegetasi purba, sistem hidrologi, dan sejarah ekologinya, menjadi bahan riset tiga siswa MAN 2 Kota Malang, hingga membawa mereka meraih medali emas dalam kompetisi riset tingkat nasional.
Mereka adalah Hilmy Adilah Harind, Sabiluna Al Kautsar, dan Sahilla Atsania Khutbi, siswa kelas XII K jurusan IPS MAN 2 Kota Malang.
Ketiganya tergabung dalam tim riset madrasah, yang berkompetisi pada kategori ilmu sosial dan humaniora dalam Bootcamp for Research Ability and Visionary Experience (B-Brave) BRIN 2026.
Kompetisi yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut, berlangsung pada 21–24 September 2026 di Jakarta. Tim MAN 2 Kota Malang berhasil keluar sebagai Juara 1 dan membawa pulang medali emas.
Prestasi itu diraih melalui karya ilmiah bertajuk “Historical Ecology Singasari”, yang mengkaji rekonstruksi lanskap ekologis lereng Gunung Arjuno.
Riset Ekologi untuk Ketahanan Pangan
Hilmy menjelaskan, penelitian tersebut memadukan analisis biodiversitas vegetasi purba dan sistem hidrologi, untuk merumuskan model ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Riset tersebut tidak hanya melihat aspek ekologis masa lalu. Tim juga mencoba menghubungkan temuan sejarah, dengan kebutuhan pengelolaan lingkungan dan pangan pada masa kini.
“Kami padukan dengan pendekatan sejarah, vegetasi purba, tata kelola air lokal guna merumuskan strategi ketahanan pangan modern, tetapi bersifat adaptif dan berbasis local wisdom atau kearifan lokal,” ujar Hilmy didampingi Pembina Riset Nefa Wahyuning A, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Hilmy, tim sengaja memilih ekologi sejarah lereng Gunung Arjuno, karena ingin melihat hubungan antara kondisi lingkungan masa lalu, dengan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Salah satunya adalah persoalan ketahanan pangan yang beririsan dengan isu lingkungan.
“Kita kaji secara metodologis maupun empirisnya agar bisa mendapatkan benang merah dari sejarah tersebut. Goal-nya kita bisa hadir sebagai seorang riset (peneliti) dari akademis, memberikan nilai manfaat besar bagi masyarakat luas,” imbuhnya.
Melalui penelitian tersebut, ketiga siswa tidak hanya berusaha memahami kondisi ekologis masa lalu, tetapi juga mencari kemungkinan penerapannya dalam menghadapi persoalan lingkungan dan pangan pada masa sekarang.
Kesiapan Jadi Peneliti

PAPAN LOMBA: Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. H. Samsudin, M.Pd., menunjuk papan materi dari tim riset MAN 2 Kota Malang, yang sukses menjuarai B-Brave BRIN 2026 dengan meriah medali emas. (Foto: Istimewa)
Kepala MAN 2 Kota Malang Dr. H. Samsudin, M.Pd., mengatakan keberhasilan tim, tidak lepas dari kesiapan materi dan mental sebelum memasuki kompetisi nasional.
Menurut dia, persiapan tidak boleh dilakukan secara mendadak. Peserta harus mendapatkan pembekalan dan memiliki kesiapan yang teruji jauh sebelum kompetisi berlangsung.
“Menjadi satu keharusan sekaligus ditekankan lebih siap jauh hari dari segalanya. Kami tidak ingin kesiapan yang kurang optimal, kurang matang sekaligus kesiapan mentalnya.”
“Jangan sampai menjadikan kelemahan atau celah tim. Untuk itu pembekalan dan kesiapannya harus teruji jauh hari sebelumnya,” kata Samsudin.
Dia menilai persiapan menjadi penting, karena ketika peserta sudah memasuki kompetisi, hasil akhir tidak lagi bisa diperbaiki.
“Karena kalau sudah memasuki kompetisi yang sebenarnya, kekalahan atau kemenangan dalam kompetisi sudah tidak bisa diperbaiki sama sekali. Apa yang kami tekankan bisa memotivasi hingga suksesi menjuarai, meraih medali emas,” tegasnya.
Menurut Samsudin, keikutsertaan MAN 2 Kota Malang dalam B-Brave BRIN, juga menjadi bagian dari proses mempersiapkan siswa sebagai calon peneliti dan pakar di masa depan.
Madrasah, kata dia, ingin membangun tradisi riset sekaligus mendorong siswa untuk terus berinovasi dalam berbagai bidang ilmu, teknologi, dan penelitian.
“Kami dalam memberikan layanan pendidikan, bertekad mencetak siswa-siswi madrasah yang kaya secara intelektualitas dan moralitasnya maupun prestasinya,” ujarnya.
Namun, Samsudin menekankan, kemampuan akademik harus berjalan beriringan dengan karakter.
“Semua keilmuan yang didapatkan dan diterapkan harus berimbang, berlandaskan pada kebaikan moral atau adab, karakter, etika, serta kepedulian dan kepekaannya. Targetnya untuk kemaslahatan umat manusia lebih bermartabat,” jelasnya.
BRIN Dorong Talenta Peneliti Sejak Dini

PARA PEMENANG: Hilmy Adilah H, Sabiluna Al Kautsar dan Sahilla Atsania Khutbi, siswa-siswi kelas XII K, jurusan IPS MAN 2 Kota Malang, saat mempresentasikan hasil risetnya dihadapan tim penilai. (Foto: Istimewa)
Sementara itu, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria mengatakan, proses membentuk calon peneliti tidak bisa dilakukan secara instan.
Menurut dia, talenta riset perlu dipersiapkan melalui proses panjang yang didukung ilmu pengetahuan, wawasan, pengalaman, dan kerja keras.
“Ajang B-Brave BRIN setiap tahun digelar ini kami jadikan wadah untuk pengembangan talenta calon peneliti. Dari sekarang kita harus mempersiapkannya untuk proses jangka panjang,” kata Arif.
Dia menilai setiap anak memiliki potensi untuk berkembang dan memberikan kontribusi melalui penelitian.
“Setiap anak berpotensi dan bertalenta sekaligus berkontribusi secara nyata demi kemajuan pembangunan daerah hingga nasional, umumnya bagi bangsa dan negara.”
“Berawal dari penelitian kecil, jika dikembangkan dan dikuatkan, kami yakini bakal menghasilkan penelitian bernilai besar dari seorang peneliti,” pungkasnya.
Prestasi Hilmy, Sabiluna, dan Sahilla di B-Brave BRIN 2026 menjadi capaian bagi MAN 2 Kota Malang, sekaligus menunjukkan bahwa riset berbasis sejarah dan lingkungan, dapat dikembangkan sejak tingkat madrasah.
Karya tentang ekologi historis lereng Gunung Arjuno tersebut, juga membawa isu lokal ke panggung kompetisi nasional, dengan fokus pada hubungan antara pengetahuan masa lalu, kelestarian lingkungan, dan kebutuhan ketahanan pangan di masa depan. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




