MALANG POST – Menikmati sore di Kota Batu tak harus selalu diisi dengan jalan-jalan ke tempat wisata arus utama. Bagi yang ingin santai sambil berburu kuliner, Pasar Apung di kawasan Museum Angkut bisa menjadi pilihan ideal.
Berada di Jalan Terusan Sultan Agung, tempat ini menawarkan suasana pasar tradisional yang dikemas unik dengan nuansa Nusantara. Menariknya, pengunjung tidak perlu membayar tiket khusus untuk masuk ke area Pasar Apung. Cukup membeli tiket masuk Museum Angkut, pengunjung sudah bisa menikmati seluruh kawasan tersebut.
Begitu memasuki area Pasar Apung, suasana berbeda langsung terasa. Deretan bangunan di tepi sungai buatan dirancang dengan konsep arsitektur khas Nusantara. Ada rumah panggung berbahan kayu dan bambu, hingga bangunan beratap jerami yang menghadirkan nuansa pedesaan yang asri.
Suasananya sekilas mengingatkan pada pasar apung di Thailand. Namun, ornamen dan konsep kawasan ini tetap kental dengan identitas budaya Indonesia. Tak heran jika kawasan tersebut menjadi salah satu spot favorit pengunjung untuk berfoto.

NYORE: Pasar Apung Museum Angkut Kota Batu bisa jadi salah satu pilihan untuk menghabiskan waktu sore yang seru. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Selain deretan bangunan unik, pengunjung juga bisa menemukan replika rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia. Area tersebut dapat digunakan untuk berswafoto sekaligus menjadi tempat beristirahat yang nyaman setelah puas berkeliling Museum Angkut.
“Pengunjung bisa menaiki perahu menyusuri sungai buatan sambil berkeliling melihat stan-stan yang berjajar di tepi air,” kata Public Relations Museum Angkut, Indriana Novia, Kamis (27/8/2026).
Saat ini, terdapat 43 stan yang menjajakan ragam makanan, minuman, oleh-oleh, hingga pakaian. Kuliner yang ditawarkan sangat bervariasi, mendominasi menu tradisional dari berbagai pelosok daerah di Indonesia.
Mulai dari rawon, nasi bebek Madura, serabi Solo, sate, nasi uduk, hingga beragam jajanan pasar legendaris dapat ditemukan di kawasan ini.
Pilihan minumannya pun tak kalah khas. Tersedia jamu tradisional, dawet, wedang ronde, dan sejumlah minuman hangat lainnya yang sangat cocok dinikmati saat hawa dingin Kota Batu mulai merengkuh sore.
Bagi pengunjung yang ingin membawa buah tangan, sejumlah stan juga menyediakan suvenir dan pakaian khas.
“Setelah puas menikmati koleksi Museum Angkut, pengunjung langsung bisa menikmati kuliner di Pasar Apung sekaligus mencari buah tangan untuk dibawa pulang,” ujar Indriana.
Sensasi Naik Perahu dan Edukasi Keragaman Nusantara
Salah satu daya tarik utama yang tak boleh dilewatkan adalah berkeliling kawasan sungai buatan menggunakan perahu. Dengan tiket terjangkau sebesar Rp20 ribu per orang, pengunjung bisa menyusuri aliran air sambil mencermati deretan stan kuliner dari atas perahu.
Konsep ini sekaligus menjadi bagian dari edukasi kebudayaan yang ditawarkan oleh Pasar Apung. Pengunjung tidak hanya diajak memanjakan lidah lewat kuliner, tetapi juga diajak lebih mengenal keberagaman budaya Indonesia.
“Konsep Nusantara ini untuk mengedukasi pengunjung bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam rumah adat, makanan, dan kerajinan,” jelasnya.
Pengalaman berkesan tersebut dirasakan oleh Rina Ekawati, salah seorang pengunjung asal Malang. Ia mengaku kerap kali mampir ke Pasar Apung setiap kali berlibur ke Kota Batu.
“Saya paling suka naik perahunya sambil jajan serabi hangat. Anak-anak juga senang banget,” ujarnya.
Menurut Rina, kawasan ini sangat cocok untuk destinasi wisata keluarga. Selain suasananya bersih dan estetis, pilihan makanannya melimpah dengan harga yang tetap terjangkau di kantong.
Pasar Apung juga menjadi tempat yang pas untuk melepas lelah setelah puas berkeliling Museum Angkut. Terlebih menjelang malam, saat lampu-lampu hias mulai menyala dan membuat suasana kawasan terasa kian hidup.
“Sore-sore ke sini sambil lihat lampu-lampu nyala itu romantis banget. Kayak liburan ke luar negeri, tapi tetap nuansa Indonesia,” katanya.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati Kota Batu dengan suasana santai, Pasar Apung menawarkan paket komplit yang sederhana: jalan kaki, berburu jajanan, naik perahu, sekaligus menikmati ragam budaya Nusantara dalam satu kawasan terpadu. (Ananto Wibowo)




