MALANG POST – BPBD Jawa Timur, mengajukan permohonan tambahan armada helikopter water bombing, guna menjinakkan amuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang muncul secara bersamaan di empat kawasan pegunungan vital Jawa Timur, Rabu (16/9/2026).
Penanganan kebakaran hutan di medan pegunungan, tidak pernah menjadi pekerjaan yang ramah. Ketika lidah api mengepung puncak gunung secara serentak, kombinasi keterbatasan armada udara dan kelelahan fisik relawan, menjadi ujian berat yang harus ditaklukkan.
Ancaman karhutla itu, kini merata melanda bentang pegunungan Jawa Timur.
Titik api dilaporkan muncul bersamaan di kawasan Bromo-Semeru, Kawi-Arjuno, Butak, hingga Gunung Lawu.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, membeberkan, pola karhutla tahun ini berbeda dibanding tahun 2023 yang terjadi secara berurutan.
“Saat ini Pemprov Jatim hanya mengoptimalkan satu helikopter water bombing. Keterbatasan armada menjadi kendala utama di tengah medan terjal dan perubahan arah angin yang cepat. Kami sudah mengajukan tambahan helikopter,” ujar Satriyo dalam talkshow Idjen Talk Radio City Guide FM, Rabu (16/9/2026).
Upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), juga tidak bisa dilakukan sembarangan lantaran sangat bergantung pada potensi awan di atmosfer.
OMC skala besar bahkan sudah dihentikan sejak 9 September lalu karena nihilnya pasokan awan potensial. Saat ini modifikasi cuaca terpaksa memburu awan lokal di sekitar Bromo-Semeru.
Satriyo menegaskan, sekitar 90 persen kasus karhutla di Jawa Timur murni dipicu aktivitas manusia dan minimnya rasa peduli lingkungan.
Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan, hingga membuat perapian di tengah lahan kering menjadi pemantik utama. Sejumlah oknum pembakar di kawasan Bromo pun telah diamankan dan dijatuhi sanksi.
Tantangan makin berat karena para relawan dan petugas gabungan, sudah bertugas secara spartan lebih dari satu bulan hingga didera kelelahan.
Meski belum ada asuransi formal bagi relawan, Pemprov Jatim berkomitmen menjamin santunan jika terjadi musibah saat bertugas.
Dari kacamata akademisi, Kepala Pusat Lingkungan dan Mitigasi Bencana LPPM UMM, Dr. Heni Masruroh, menilai tidak ada metode tunggal untuk memadamkan karhutla.
Heni menekankan pentingnya mengombinasikan water bombing, pemadaman darat, sekat bakar, dan OMC secara terintegrasi.
“Pemanfaatan data penginderaan jauh seperti MODIS dan VIIRS harus dioptimalkan untuk memetakan titik panas secara akurat demi mempercepat respons di lapangan,” imbau Heni. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




