MALANG POST – Kota Batu memiliki modal sosial dan ekonomi yang sangat besar untuk membangun ekosistem usaha yang tangguh. Keberadaan lebih dari 7.500 UMKM, sekitar 70 pelaku ekonomi kreatif, serta potensi pariwisata dan kekayaan alam melimpah menjadi kekuatan utama yang terus didorong sebagai penggerak utama kesejahteraan masyarakat.
Potensi besar tersebut mendapat perhatian khusus dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar, saat meluncurkan program Perintis Berdaya Connect (PBC) di Kota Batu, kemarin.
Menko Muhaimin menegaskan bahwa penguatan sektor UMKM tidak cukup hanya mengandalkan bantuan stimulan maupun program kerja yang berjalan sendiri-sendiri secara parsial. Para pelaku usaha membutuhkan ekosistem terpadu yang mampu menghubungkan mereka secara langsung dengan pasar, industri, permodalan, inovasi, teknologi, hingga berbagai sumber daya strategis lainnya.
“Inilah semangat kita semua untuk terus mengusung dari ruang menjadi peluang. Kita ingin ekosistem yang terbentuk kita dorong terus naik kelas, UMKM kita naik kelas,” kata Muhaimin.

HASIL UMKM: Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar saat melihat hasil UMKM Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Implementasi PBC di Kota Batu ini menjadi pelaksanaan kedua di Indonesia setelah sebelumnya sukses digelar di Kota Bandung. Program tersebut dirancang khusus sebagai model orkestrasi ekosistem pengembangan usaha berbasis masyarakat dengan mengoptimalkan berbagai aset dan potensi lokal yang sudah tersedia.
Menurut Muhaimin, daerah yang telah memiliki ekosistem usaha perlu terus diperkuat kapasitasnya. Sementara itu, daerah yang belum memiliki ekosistem yang memadai harus segera didorong untuk membangun konektivitas baru.
“Yang belum terbangun ekosistem, kita bangun ekosistem baru agar kita terus lakukan orkestrasi, sehingga orkestrasi kita menjadi sangat cepat mendorong peningkatan kemajuan, produktivitas, pendapatan, dan kemajuan UMKM dan ekonomi kreatif kita,” jelasnya.
Ia menilai bahwa ekosistem yang kuat secara otomatis akan melahirkan struktur usaha yang sehat. Keberhasilan hal tersebut tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah semata, melainkan membutuhkan orkestrasi yang presisi dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) ekonomi.
Oleh karena itu, pemerintah diimbau untuk tidak lagi bekerja secara terisolasi. Peran pemerintah perlu bergeser menjadi fasilitator sekaligus agregator yang lincah dalam mempertemukan berbagai kepentingan dan potensi besar para pelaku usaha.
Sektor swasta dan industri besar, misalnya, didorong untuk bertindak sebagai penyerap produk (offtaker) UMKM. Sementara itu, kalangan investor dan perguruan tinggi dapat mengambil peran krusial dalam menghadirkan skema pembiayaan, riset inovasi, adopsi teknologi, sekaligus peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kalau semua bergerak bersama, kita bisa menciptakan business matching, konektivitas, dan akses pasar yang benar-benar dibutuhkan UMKM untuk berkembang,” tegasnya.

Optimalisasi PLUT Kota Batu dan Industri Kreatif Daerah
Muhaimin juga menyambut positif keberadaan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Kota Batu. Menurutnya, PLUT memiliki peran vital untuk menjadi agregator utama sekaligus simpul konektivitas bagi para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di daerah.
PLUT diharapkan tidak sekadar berfungsi sebagai tempat pelayanan administratif bagi pelaku usaha. Lebih dari itu, fasilitas terpadu tersebut harus mampu menghubungkan potensi produk lokal dengan berbagai peluang pasar eksternal dari luar daerah.
Kekuatan UMKM, lanjut Muhaimin, menjadi bagian tak terpisahkan dalam membangun kemandirian ekonomi nasional secara berdikari. Selain sektor industri manufaktur yang membutuhkan investasi skala besar, kapasitas dan daya tahan UMKM juga harus terus diperbesar agar mampu memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih dominan.
Kota Batu dinilai memiliki peluang emas untuk menjadi inspirator sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif di tingkat nasional. Pasalnya, laju pertumbuhan ekonomi kreatif saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada kota-kota megapolitan seperti Jakarta, Bandung, maupun Surabaya, melainkan terus tumbuh subur dari kawasan daerah.
Oleh sebab itu, kolaborasi antarkementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, serta komunitas pelaku ekonomi harus terus dipererat. Kemenko PM mengambil peran strategis dalam mengorkestrasi sinergi tersebut agar berbagai program pemberdayaan masyarakat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri secara tidak terarah.
“Kita ingin Batu menjadi rumah yang kuat bagi kemajuan UMKM dan ekonomi kreatif. Dengan ekosistem yang baik, saya yakin Batu bisa unggul dan menjadi contoh bagi kota-kota lainnya di Indonesia,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




