MBOIS LOP: Careca mencetak gol spektakuler saat bermain imbang 3-3 lawan PSM. Gol itu dibuat dengan bola panjang hampir setengah lapangan. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Arema FC menjelma menjadi tim paling subur hingga Pekan 2 Super League 2026/2027, dengan mengoleksi tujuh gol yang lahir dari tujuh pemain berbeda, meski tampil tanpa mengandalkan penyerang murni sejak menit awal.
Ketajaman lini serang sebuah tim sepak bola, tidak melulu diukur dari seberapa banyak gol yang dilesakkan oleh seorang penyerang nomor sembilan. Ketika sumber ancaman menyebar merata di setiap lini, pertahanan lawan justru makin bingung menentukan fokus pengawalan.
Kolektivitas mematikan itulah yang kini ditunjukkan oleh skuad Singo Edan.
Arema FC mengukuhkan diri sebagai tim paling produktif, di panggung Super League 2026/2027 hingga laga Pekan 2.
Tujuh gol berhasil disarangkan oleh anak asuh Marcos Santos, hanya dalam dua pertandingan perdana.
Hebatnya lagi, ketujuh gol tersebut disumbangkan oleh tujuh nama pemain yang berbeda.
Produktivitas tinggi Singo Edan terukir dalam dua bentrokan, dengan karakter kompetisi yang bertolak belakang.
Arema FC menggelontorkan empat gol tanpa balas, saat menggilas Isen Mulang Kalteng FC 4-0 di laga pembuka.
Pada Pekan 2, Singo Edan kembali menyarangkan tiga gol saat ditahan imbang 3-3 oleh tuan rumah PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, pada 13 September 2026.
Rataan statistik Arema FC, berada di angka 3,5 gol per pertandingan. Jika dihitung durasi menit bermain, Arema sanggup mencetak satu gol saban 25,7 menit.
Sementara di barisan belakang, gawang Arema kebobolan tiga gol dalam 180 menit, atau rata-rata kebobolan satu gol per 60 menit.
Torehan tujuh gol menempatkan Arema di takhta puncak daftar tim tersubur.
Arema mengungguli Bali United yang mengoleksi enam gol, serta Madura United dengan tabungan lima gol.
Di bawah mereka, PSM Makassar, Persib Bandung, dan Persita Tangerang menyusul dengan empat gol. Disertai Dewa United, Persija Jakarta, Bhayangkara FC, dan Java United yang mengemas tiga gol.
Daya tarik produktivitas Arema bukan sekadar bertumpu pada jumlah. Singo Edan memiliki kedalaman sumber gol yang sangat bervariasi.
Kondisi ini terwujud lantaran pelatih Arema FC, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, sama sekali tidak menurunkan penyerang murni sebagai starter di dua laga awal.
Satu-satunya striker murni yang diturunkan adalah pemain muda Mauro Nils Zijlstra, itu pun baru masuk pada menit ke-80 saat melawan Kalteng FC.
Sebaran gol Arema lahir dari seluruh lini. Johan Ahmat Farizi mencetak gol dari posisi bek sayap.
Diego Landis menyumbang gol dari pos stopper. Marcos Vinicius dan Gabriel Silva masing-masing mencetak gol dari posisi winger.
Sementara Gustavo Franca dan Careca melengkapi daftar pencetak gol dari lini tengah, melengkapi satu gol milik Mauro Zijlstra.
Marcos Santos menegaskan, taktik bermain tanpa target man murni merupakan jawaban solutif atas keterbatasan komposisi lini depan.
Keputusan memakai taktik false nine, dilatarbelakangi absennya Gustavo Henrique akibat cedera, hengkangnya Joel Vinicius, serta rekrutan anyar Samuel Otusanya yang kala itu belum bisa dimainkan.
“Setiap pemain wajib berkontribusi saat mendapat peluang. Skema ini terbantu karena Arema FC diisi pemain lini kedua yang agresif dan berinsting tajam,” terang Marcos Santos.
Marcos memasang Gustavo Franca sebagai false nine, yang ditopang Careca sebagai gelandang serang.
Pola ini membuat alur serangan Singo Edan mengalir sangat cair, dinamis, dan terbukti sukses menutup absennya penyerang utama. (Ra Indrata)




