MALANG POST – Universitas Negeri Malang (UM) melalui program UM International Camp (UMiCamp) 2026 sukses mempertemukan 66 peserta dari 29 negara dalam rangkaian kegiatan budaya, sosial, dan interaksi lintas budaya selama sepekan. Rangkaian perjumpaan internasional ini resmi ditutup melalui Closing Ceremony di Graha Cakrawala UM pada akhir pekan ini.
Kegiatan tahunan ini tidak hanya mengenalkan budaya dan kehidupan masyarakat Malang secara mendalam, melainkan juga menjadi ruang inklusif bagi para peserta internasional untuk membangun jejaring serta mempererat persahabatan lintas negara.
Wakil Rektor IV UM, Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag., menegaskan bahwa UMiCamp bukan sekadar program musim panas (summer camp) atau kegiatan wisata biasa. Menurutnya, program ini dirancang sebagai wadah konkret untuk membangun koneksi lintas budaya secara nyata dan bermakna.
“UM Summer Camp selalu lebih dari sekadar program musim panas atau pariwisata. Ini adalah ruang untuk membangun koneksi lintas budaya yang nyata,” ujar Prof. Munjin.
Selama program berlangsung, para peserta tidak hanya mempelajari kebudayaan Indonesia, tetapi juga saling berbagi cerita, nilai-nilai budaya, serta perspektif unik dari negara asal masing-masing. Perjumpaan multicultural ini menjadikan keberagaman sebagai pengalaman bersama yang memperluas wawasan sekaligus mempererat tali persahabatan global.
Pengalaman berkesan dirasakan langsung oleh Silsyano Soerianto Modiwirijo, peserta asal Suriname. Ia mengaku tertarik mengikuti UMiCamp setelah melihat kesuksesan penyelenggaraan program ini pada tahun sebelumnya. Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah aksi pembersihan pantai (beach clean-up) yang mengajarkan pentingnya kolaborasi dan kepedulian lingkungan.

Silsyano menyadari bahwa aktivitas sederhana dapat menjadi sarana ampuh untuk saling memahami, meskipun para peserta memiliki latar belakang budaya dan bahasa utama yang berbeda.
“Kita tidak membutuhkan banyak hal untuk bersenang-senang bersama. Meskipun ada peserta dari Jepang, Tiongkok, negara-negara Arab, dan berbagai negara lainnya, kami tetap bisa memahami satu sama lain, bahkan hanya dengan menari bersama,” ungkap Silsyano.
Pengalaman yang tak kalah emosional dirasakan oleh Moh. Ibrahim, peserta asal Ethiopia. Ia mengaku awalnya membayangkan UMiCamp hanya sebagai agenda formal selama tujuh hari. Namun, interaksi intensif dengan sesama peserta dan masyarakat lokal membuat pengalaman tersebut jauh melampaui ekspektasinya.
Selain mengikuti workshop budaya seperti membatik dan mengenal ragam kuliner tradisional, Ibrahim berkesempatan menjalani program tinggal bersama keluarga lokal (homestay). Pengalaman tersebut membuatnya menemukan kehangatan sisi kehidupan masyarakat Malang yang sulit dijangkau jika hanya berkunjung sebagai turis biasa.
Bagi Ibrahim, pelajaran terpenting dari UMiCamp adalah bukti bahwa perbedaan bahasa bukanlah penghalang untuk membangun hubungan antarmanusia.
“Bahasa bukanlah penghalang. Yang terpenting adalah keterbukaan untuk belajar dan kesediaan untuk saling memahami. Kami memang tidak memiliki bahasa yang sama, tetapi memiliki ketertarikan dan tujuan yang sama untuk terhubung dengan orang lain,” jelas Ibrahim.
Melalui UMiCamp 2026, Universitas Negeri Malang berhasil memfasilitasi para peserta dari berbagai belahan dunia dalam ruang belajar yang kolaboratif dan inklusif. Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas): Diwujudkan melalui pembelajaran inklusif lintas budaya dan pengayaan pengalaman global bagi para peserta.
- SDGs Poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Diwujudkan melalui penguatan jaringan diplomasi budaya, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi internasional yang berkelanjutan.
(*/M. Abd. Rachman. Rozzi – Januar Triwahyudi)




