Oleh: Dahlan Iskan
Huruf G diidentikkan dengan angka sembilan. Sementara S mewakili angka delapan, dan J sebagai angka tujuh. Jokowi jadi presiden ketujuh. Subianto menjadi presiden kedelapan. Berarti Ganjar terlalu cepat mencapreskan diri pada tahun 2024. Apakah ia punya peluang mewakili angka sembilan di tahun 2029? Belum tentu. Ada nama lain yang huruf depannya juga G—misalnya Gubrak.
Dari situ pula mulai muncul ramalan jangka panjang. Presiden kesepuluh akan jatuh ke nama yang berhuruf depan S. Bisa jadi itu Sudaryono, atau Sahlan Siskan. Yang kedua itu rasanya tidak mungkin: umur Sahlan kini sudah 76 tahun.
Jalan panjang untuk Sudaryono itu kini mulai terbuka: Selasa lalu ia dipromosikan menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sepeninggal Nanik S. Deyang. Itu jabatan setingkat menteri—sangat strategis untuk era kepresidenan Prabowo Subianto. Yakni sebuah lembaga yang anggarannya lebih besar dari umumnya kementerian.
Kalau MBG (Makan Bergizi Gratis) sukses di tangan Sudaryono, itu prestasi yang menakjubkan. “Sukses” di situ termasuk bisa menggalakkan ekonomi di pedesaan: berasnya dari desa setempat, telurnya, ikannya, buahnya, hingga tempe dan tahunya. Semuanya.
Jika itu bisa terjadi, rasanya tidak ada yang keberatan MBG menghabiskan dana APBN ratusan miliar rupiah. Uang itu beredar langsung di lapisan bawah.
Sudaryono sudah “sekolah” pertanian selama hampir dua tahun menjabat Wakil Menteri Pertanian. Ia tahu betul bagaimana mengaitkan MBG dengan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

Saya melihat logika berpikir Sudaryono sangat baik. Caranya berkomunikasi juga pas—tidak kurang dan tidak berlebihan. Sudaryono mengaku sebagai “anak telur”: masa kecilnya banyak makan telur karena orang tuanya, warga desa Tambirejo, Toroh, kabupaten miskin Grobogan, memelihara ayam di pekarangan.
Sebagai anak yang bergizi cukup, Sudaryono bisa masuk SMA unggul Taruna Nusantara. Ia berhasil lulus sebagai yang terbaik di angkatannya, lalu kuliah di Jepang, dan meraih gelar doktor dari IPB Bogor.
Kini Sudaryono terjun ke lembaga yang bermandikan oli. Ia bisa tergelincir atau digelincirkan.
MBG kini di tangan anak muda yang pintar, cerdas, tegas, dan dekat dengan Presiden Prabowo. Dalam pisau analisis politik, Sudaryono berada di kelompok “Hambalang Boys”: kader sejati Prabowo yang bertumbuh di Hambalang, dekat Sentul.
Sebagai “Hambalang Boys”, Sudaryono tahu persis keinginan Prabowo pada program MBG: anak-anak dapat makan bergizi seperti dirinya di waktu kecil, lalu ekonomi rakyat bergerak.
Setelah tahu siapa yang “naik” ke jabatan itu, saya menilai pengunduran diri Deyang adalah keputusan yang baik. Deyang telah memberi jalan kepada orang yang lebih muda dan lebih potensial.
Setidaknya, Deyang telah menjadi “tukang bongkar” di saat menjabat Wakil Kepala BGN. Sampai-sampai orang seperti Sufmi Dasco Ahmad, salah satu tokoh responding andalan Prabowo, mengenang Deyang sebagai sosok yang rajin keliling dapur MBG untuk melihat apa yang tidak benar.
Maka, orang seperti Jenderal Polisi Sony Sonjaya, mantan Wakil Kepala BGN yang kini jadi tersangka, menilai Deyang-lah yang menjebloskan mereka ke tahanan. Anda sudah tahu: tiga orang pimpinan BGN diberhentikan dan kini ditahan di Kejaksaan Agung.
Sepanjang hari kemarin, saya berkomunikasi dengan para pengusaha yang memiliki dapur MBG di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Salah satunya mengelola empat dapur. Menurut mereka, dalam sebulan terakhir terjadi perubahan aturan yang besar.
“Investasi dapur MBG sekarang tidak bisa lagi Rp700 juta atau Rp800 juta. Sudah membengkak menjadi Rp1,2 miliar,” katanya.
“Palet untuk menaruh karung beras pun kini harus stainless steel,” kata sahabat Disway itu. “Tidak boleh lagi pakai kayu,” tambahnya.
Demikian juga talenan—alas untuk mengiris bawang atau cabai—tidak boleh lagi dari kayu, melainkan harus bahan plastik. “Pokoknya peralatan yang diperkirakan bisa menjadi pemicu munculnya jamur tidak boleh dipakai,” tegasnya.
Yang paling mahal adalah sistem pengolahan limbah. Kini pengolahannya harus lima tahap (five steps)—melalui lima kali pengendapan air. Pada tahap terakhir, air limbahnya harus diisi ikan. Ikannya harus hidup sebagai pertanda tidak ada kandungan racun.
“Berarti tidak bisa lagi setahun balik modal?” tanya saya.
“Dulu delapan bulan bisa balik modal. Sekarang butuh 1,5 tahun,” jawabnya.
“Masih baguslah…” komentar saya.
“Iya, masih bagus.”
Sudaryono tidak punya waktu lagi untuk trial and error. Ia harus langsung tancap gas. Sudah terlanjur terlalu banyak petani dan peternak yang menggantungkan nasibnya pada MBG—harga telur, sayur, dan ayam langsung anjlok saat MBG diliburkan sewaktu libur panjang sekolah.
Anak yang cukup gizi kini mengurus makan anak-anak agar bergizi. Ia juga yang mengurus dana ratusan triliun rupiah yang sempat membuat orang seperti Deyang ngeri sendiri. (Dahlan Iskan)



