Lautan Awan, mungkin gambaran ini yang bikin rindu makin candu untuk para pendaki akan keindahan gunung. (Foto: Istimewa)
MALANG POST—Ada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan dari wajah Muhammad Rafie AA Muhni saat ia menjejakkan kaki di jalur setapak Sumber Brantas, Kota Batu.
Di pundaknya tergantung carrier penuh perlengkapan, sementara di hatinya membuncah kerinduan yang sudah enam bulan terpendam.
“Libur panjang kuliah om, ya ke gunung cari keringat biar badan makin segar,” ujarnya sambil tersenyum lebar kepada Redaksi Malang Post. Kamis (21/5/2026).
Rafie adalah salah satu dari ratusan pencinta alam yang akhirnya bisa mengobati kerinduannya menjamah puncak Arjuno dan Welirang. Setelah penantian panjang selama enam bulan, UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo resmi membuka kembali gunung legendaris di Jawa Timur ini pada awal Mei lalu.
Udara dingin khas pegunungan langsung menyapa Rafie begitu ia memulai pendakian. Ia memilih jalur barat—Sumber Brantas (KWB)—yang dikenal memiliki panorama memikat serta ramah bagi para pendaki pemula.
Sepanjang perjalanan, ia tak sendirian. Bersama para sahabat, ia berbaur dengan pendaki dari berbagai daerah yang mulai berdatangan, memenuhi jalur-jalur pendakian utama seperti Desa Wonosari Lawang di Malang, Tretes di Prigen, dan Tambakwatu di Purwodadi.

“Alhamdulillah tidak ada hambatan yang berarti. Cuaca cukup bersahabat, cerah dan sangat mendukung untuk perjalanan menuju puncak,” cerita Rafie.
Meski begitu, alam tetap mengingatkan bahwa ia tak bisa sepenuhnya ditebak. “Sore hari sempat hujan, jadi kami tetap wajib waspada dan membawa perlengkapan hujan,” tambahnya.
Satu hal yang membuat Rafie bersyukur, rambu-rambu penanda jalan masih terlihat jelas. Bagi para pendaki yang menargetkan waktu tempuh normal sekitar 7-10 jam perjalanan, petunjuk arah yang baik menjadi penyelamat.
“Jalurnya sangat layak dan aman untuk didaki. Bagi rekan-rekan pendaki, ini waktu yang tepat untuk kembali berkegiatan. Tentunya dengan tetap menjaga kebersihan alam dan mematuhi SOP pendakian,” pesannya.
Gunung Arjuno sendiri memiliki beberapa jalur pendakian dengan karakteristik yang berbeda-beda. Jalur via Tretes dikenal cukup terjal namun memiliki sumber air yang melimpah.
Sementara via Lawang menjadi favorit pendaki yang ingin perjalanan lebih cepat. Ada juga jalur via Purwosari yang terkenal dengan nuansa spiritual dan situs bersejarah, serta jalur via Sumber Brantas yang dinilai lebih ramah bagi pendaki pemula.
Sebelumnya, merangkum berbagai sumber, Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat UPT Tahura Raden Soerjo, Ajat Sudrajat, menjelaskan bahwa pembukaan kembali ini bukan tanpa persiapan. Pihaknya telah menyiapkan sistem registrasi yang bisa diakses melalui laman resmi atau layanan tiket pendakian.

Setiap hari, kuota pendakian dibuka untuk 500 hingga 550 pendaki. Empat pintu masuk utama—Tretes, Tambaksari, Lawang dan Sumber Brantas—kembali berdenyut dengan aktivitas para petualang dari berbagai penjuru.
Tarif pendakian pun masih bersahabat: Rp 20.000 per orang per hari untuk WNI, dan Rp 200.000 untuk WNA, ditambah biaya asuransi Rp 10.000. Sementara untuk kendaraan, tarif parkir dikenakan sekitar Rp 5.000 untuk roda dua dan Rp 10.000 untuk roda empat.
Syarat lainnya meliputi KTP, surat izin orang tua bagi pendaki usia 10–18 tahun, serta surat sehat dari rumah sakit, puskesmas atau klinik.
Dalam hal ini, Ajat menekankan satu hal penting: kelestarian alam. Setiap pendaki diwajibkan membawa turun sampah logistik sesuai jumlah yang dibawa saat datang. Petugas di masing-masing pos akan memeriksa dan menghitung secara saksama.
“Kalau misalnya dia membawa empat botol minuman air mineral, maka turunnya harus membawa sebanyak empat botol itu juga. Jangan sampai ada yang membuang sampah sembarangan,” tegasnya.
Pendaki juga diwajibkan mematuhi aturan yang berlaku demi keselamatan dan kelestarian alam.
Pengelola melarang penggunaan sandal gunung, membawa tisu basah, drone, maupun pengeras suara selama pendakian. Selain itu, pendakian tektok (naik turun tanpa menginap) juga tidak diperbolehkan.
Seperti kata Rafie, “Cari keringat biar badan makin segar.” Dan tentu saja, bawa pulang kenangan—bukan sampah. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




