MALANG POST – Jalur Penanjakan menuju Gunung Bromo itu magis. Indah luar biasa. Tapi, jalur itu juga kejam. Ekstrem. Salah sedikit, taruhannya adalah nyawa melayang ke jurang.
Sepanjang enam bulan pertama di tahun 2026 ini, alarm bahaya sedang berbunyi keras di jalur wisata internasional tersebut. Angka kecelakaan dilaporkan melonjak tajam.
Kenyataan pahit ini dibongkar habis oleh Kaurmin Lantas Polres Pasuruan, Ipda Arie Setyo Nugroho, dalam program talk show Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM pada Kamis (11/6/2026). Ipda Arie menyodorkan data yang membuat bulu kuduk berdiri.
Belum juga tahun 2026 ini berakhir, jumlah kecelakaan di jalur Bromo via Pasuruan sudah melampaui total kasus sepanjang tahun 2025 lalu. Ada selisih peningkatan 2 hingga 3 kecelakaan fatal.
“Mei 2026 kemarin, ada kecelakaan turis asing (WNA) karena rem blong motor roda dua. Lalu bulan lalu, ada kecelakaan jip wisata yang sangat tragis. Sopir dan satu penumpangnya tewas di tempat. Penyebabnya sama: gagal pengereman alias rem blong,” ungkap Ipda Arie.
Mengapa rem blong massal ini bisa terjadi secara beruntun? Jawabannya klasik tapi mematikan: human error. Sopir kurang waspada, ugal-ugalan, dan teledor memeriksa kesiapan armada.
Syahwat Mengejar Waktu Sunrise
Sisi gelap di balik kemudi jip Bromo ini diakui secara jujur oleh pelaku lapangannya.
Perwakilan Komitas Jeep Wisata Bromo, Eko Yudi Irawan, menyebut sejak era 1980-an sampai detik ini, kendaraan jenis Toyota Land Cruiser alias Hardtop adalah raja tunggal yang paling ideal untuk menaklukkan medan Bromo. Mesinnya badak. Daya tampungnya mumpuni. Kendaraannya tidak salah.
Lalu apa yang salah? Manusianya.
Eko blak-blakan menyebut musuh terbesar para sopir jip saat ini adalah syahwat mengejar waktu. Demi memburu momen matahari terbit (sunrise), sopir sering kali mengemudikan jip seperti kesurupan. Kejar-kejaran di kegelapan malam.
“Banyak driver yang terburu-buru. Akibatnya mereka abai pada teknik dasar mengemudi di medan ekstrem. Mereka malas mengaktifkan mode 4 Wheel Drive (4×4 atau 4XR) padahal itu penting untuk traksi roda supaya mobil stabil,” urai Eko.
Dosa kedua yang sering dilakukan sopir adalah melupakan teknik engine brake (pengereman memanfaatkan transmisi mesin) saat jalanan menurun curam. Mereka hanya mengandalkan pedal rem kaki secara terus-menerus. Akibatnya fatal: kampas rem menjadi terlalu panas (overheat), minyak rem mendidih, dan rem mendadak blong di tengah jalan.
“Kami mendesak otoritas BB TNBTS (Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) dan pihak terkait untuk memperketat lagi SOP operasional jip di lapangan. Jangan longgar,” tegas Eko.
Kucing-Kucingan Sopir Tanpa SIM
Lalu, apa kabar pengawasan dari aparat hukum?
Aparat ternyata menghadapi tembok keterbatasan yang nyata. PS Kanit Kamsel Polres Pasuruan, Aipda Arifian, mengakui bahwa enam bulan lalu pihaknya sudah duduk bersama dengan BB TNBTS. Komitmennya klir: perketat pengawasan jip wisata.
Namun, teori di atas meja selalu berbenturan dengan realita di lapangan. “Kendala utama kami adalah jumlah personel yang sangat terbatas. Sementara titik pengawasan di jalur penanjakan itu sangat jauh dan areanya luas,” aku Arifian jujur.
Bayangkan saja bebannya. Di masa liburan, jumlah jip wisata yang melintas membelah jalur Pasuruan bisa tembus hingga 5.000 unit per hari. Raksasa.
Dishub sebenarnya sudah turun tangan membantu melakukan ramp check (uji kelaikan kendaraan). Jip yang lolos uji akan ditempeli stiker khusus sebagai tanda aman. Namun, jip Bromo ini asalnya dari banyak pintu ekor naga: ada yang masuk dari Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, hingga Kabupaten Malang. Kerap kali jip luar masuk tanpa pemeriksaan yang sama.
Lebih mengerikan lagi, dalam beberapa kali operasi dadakan, polisi menemukan borok yang tak kalah fatal di balik kemudi jip wisata bertarif ratusan ribu itu.
“Kami beberapa kali menemukan pengemudi jip yang ternyata sama sekali tidak punya SIM. Ada juga yang punya, tapi status SIM-nya sudah mati bertahun-tahun. Ini kan gila, mereka membawa nyawa wisatawan di atas mobil wisata tanpa kompetensi hukum yang sah,” ketus Arifian.
Jangan Pernah Nekat Pakai Mobil Matic
Sinyal darurat ini diamini oleh pakar keselamatan berkendara. Sigma Safety Drive and Ride Coach, Arsyad M Mustaqim, menjatuhkan vonis bahwa jalur Bromo bukanlah tempat untuk orang yang gemar berspekulasi atau terlalu percaya diri.
“Jalur penanjakan itu tergolong ekstrem. Alasan human error mendominasi karena banyak driver yang sebenarnya belum menguasai medan, tapi mereka overconfident—terlalu percaya diri—pada kondisi kendaraannya,” analisis Arsyad.
Bagi Arsyad, sesering apa pun seorang sopir melewati jalur Bromo, ritual memeriksa unit kendaraan sebelum berangkat adalah hal yang haram ditinggalkan. Fisik pengemudi dan kondisi rem harus dipastikan 100 persen prima.
Arsyad juga mengeluarkan satu fatwa tegas bagi para wisatawan mandiri yang ingin mengendarai kendaraan pribadi menuju kawasan penanjakan Bromo.
“Hindari menggunakan kendaraan jenis matic. Tolong, jangan nekat. Jalur penanjakan Bromo ini sangat tidak memungkinkan untuk transmisi matic dalam jangka waktu lama. Risiko rem blong akibat ketiadaan engine brake yang kuat pada mobil matic di turunan curam itu sangat tinggi. Nyawa taruhannya,” pungkas Arsyad.
Gunung Bromo akan selalu menyuguhkan keindahan matahari terbit yang magis bagi siapa saja. Namun, membiarkan sopir tanpa SIM, jip tanpa stiker uji layak jalan, dan pengemudi yang hobi memburu waktu menguasai jalanan Penanjakan, adalah cara instan mengubah perjalanan wisata yang indah menjadi sebuah tragedi pemakaman massal. Pengetatan SOP dari TNBTS kini ditagih, bukan lagi besok, melainkan hari ini juga sebelum ada jip berikutnya yang terjun bebas ke dasar jurang. (Wulan Indriyani / Ra Indrata)




