Kerjasama Desa Sumberporong, Lawang, Kab Malang dengan PT Baruna Madhavi Atharrazka untuk menggandeng para pelaku usaha menggerakkan Desa Mandiri yang berdikari. (Foto: Istimewa)
MALANG RAYA – Pemerintah Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, secara resmi memulai langkah radikal, untuk menyulap wilayahnya menjadi pusat sentra industri kreatif baru dengan merangkul PT Baruna Madhavi Atharrazka (BMA). Langkah strategis yang dipaparkan langsung oleh Kepala Desa Sumberporong, Hj. Idhinningrum, di Balai Desa pada Rabu (10/11) pagi kemarin, sengaja diambil guna mewadahi, mendata, sekaligus membina sekitar 750 pelaku UMKM lokal agar mampu naik kelas, mandiri, dan memperluas jaringan pemasaran secara masif.
Membangun ekonomi bangsa itu, sejatinya bukan dimulai dari gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Bukan dari ruang rapat para menteri. Tapi dari bawah. Dari lorong-lorong desa yang bising oleh suara mesin jahit, bau gorengan, atau ketukan palu para perajin.
Dari sektor bernama UMKM.
Ledakan jumlah pelaku usaha kecil itulah, yang kini sedang dibaca dengan sangat jeli oleh Pemerintah Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Mereka tidak mau membiarkan warganya bertarung sendirian di pasar yang kejam. Harus ada campur tangan negara.
Rabu pagi kemarin, suasana di Balai Desa Sumberporong tampak beda. Semangatnya menyala-nyala.
Kepala Desa Sumberporong, Hj. Idhinningrum, membuat gerakan nyata. Tidak mau sekadar memberi izin usaha, dia ingin menyulap Sumberporong menjadi pusat sentra industri kreatif yang disegani di Malang Utara.
Buktinya konkret: pemerintah desa resmi menjalin kongsi dengan PT Baruna Madhavi Atharrazka. Sebuah sinergi swasta-pemerintah untuk mewadahi, mendidik, dan mengawal para pelaku usaha kecil agar tidak sekadar bertahan hidup, tapi bisa berkembang dan mandiri.
Kades yang akrab disapa Bu Didin ini punya visi yang jelas. Kerja sama dengan PT BMA ini bukan urusan seremonial tanda tangan di atas meterai lalu bubar. Harus ada golnya.

ANDALAN: VoP PT BMA (kiri) bersama Kades Sumberporong (tengah) dan Dirut PT BMA (kanan) meminjau hasil karya Desa Sumberporong, Lawang di halaman Balai Desa. (Foto: Istimewa)
Targetnya: melahirkan ‘ciri khas desa’ yang mandiri. Identitas produk asli Sumberporong yang dalam waktu dekat akan segera dilaunching ke publik.
Langkah ini diyakini tidak hanya memicu adrenalin warga desa untuk terus berkarya dan berinovasi. Efek dominonya jauh lebih nyata dari itu: membuka lapangan pekerjaan baru bagi pemuda desa yang masih menganggur.
Logika berdikari Bu Didin ini didukung oleh basis data yang kuat di lapangan.
“Ada sekitar 750 UMKM dan pelaku usaha di sini (Sumberporong). Ke depan kita akan mulai untuk mengembangkan dan membina kegiatan ini,” tegas Bu Didin di sela-sela sambutannya.
Angka 750 itu raksasa untuk ukuran satu desa. Itu adalah modal sosial yang luar biasa besar jika dikelola dengan manajemen yang benar. Maka, menggandeng mitra profesional seperti PT Baruna dipandang sebagai keputusan taktis yang paling tepat.
Sinyal gayung bersambut langsung datang dari pihak swasta. Manajemen PT Baruna Madhavi Atharrazka tampak sangat antusias melihat pergerakan agresif dari Sumberporong ini.
VoP PT Baruna, RT. Endro Wiyono Kusumawijaya, langsung menukik pada persoalan utama yang sering membuat UMKM mati muda: urusan pasar. Bagi Endro, produk yang bagus akan sia-sia kalau tidak pintar jualan.
“Harus segera dilakukan dan dikerjakan untuk kegiatan pemasarannya, terutama yang mengangkat potensi desa (Sumberporong) ini,” cetus Endro saat ditemui di halaman Balai Desa.
Setir eksekusi langsung dipasang. Direktur Utama PT Baruna, Hery Cahyono, yang akrab disapa Hery Cho atau Cepot, langsung membeberkan cetak biru kerjanya di hadapan warga desa.
Hery Cho emoh menunda waktu. Pasukannya akan sesegera mungkin melakukan pendataan ulang secara digital di lapangan. Langkah ini penting agar program pembinaan tidak salah sasaran. Setelah data rapi, eksekusi program akan langsung dikoordinasikan dengan jajaran pemerintah daerah.
Siasat komersialnya pun sudah disiapkan dengan matang.
“Nantinya akan kita berikan KTA (Kartu Tanda Anggota) bagi mitra yang terdaftar. Lalu kita juga sudah berkomunikasi dengan pemerintah dan mitra-mitra Baruna untuk bisa segera membantu mewujudkan apa yang menjadi keinginan Desa Sumberporong,” papar Hery Cho dengan nada optimistis. Jaringan bisnis Baruna akan dibuka lebar-lebar untuk menampung produk warga.
Geliat di balai desa ini rupanya juga dipantau ketat dari ruang rapat di kota lain. Komisaris PT Baruna, Bayu Kusumo, memberikan perhatian penuh.
Meski sedang terjebak rapat penting lainnya, Bayu tidak mau proyek desa ini berjalan lambat. Lewat utusan resminya, Agung Suherman, sang komisaris menitipkan pesan tegas via telepon pada Rabu sore tadi. Instruksinya pendek dan menghentak: segera tindak lanjuti dan langsung eksekusi kegiatan di lapangan berdasarkan laporan tim. Jangan biarkan momentum ini mendingin.
Birokrasi desa memang harus berani melangkah seperti ini. Keluar dari zona nyaman, menjemput bola, dan berani menggandeng jaringan bisnis profesional.
Dengan modal 750 UMKM, ditambah mesin penggerak dari PT Baruna, Desa Sumberporong sedang menulis sejarahnya sendiri. Sejarah tentang bagaimana sebuah desa menolak miskin dan memilih berdaulat secara ekonomi melalui jalur industri kreatif. Kita tunggu saja kapan produk ‘ciri khas’ Sumberporong ini menguasai pasar Malang Raya. (*/Ra Indrata)




