20 Mei 2026 yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional ke-118 mengambil tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Tema yang dirilis oleh Kemenkomdigi ini menekankan pentingnya peran strategis generasi muda sebagai penerus bangsa sehingga menjadi pilar penting dalam mengawal dan menjaga kedaulatan NKRI. Hari bersejarah ini tidak saja membawa pesan yang lebih mendalam dari sekadar seremonial untuk menandai bangkitnya perlawanan terhadap kolonialisme, namun juga menjadi tantangan untuk merespons perkembangan transformasi digital yang semakin kompleks. Negeri ini sedang berada di persimpangan jalan, karena harus mampu mengelola disrupsi teknologi agar tidak mengerosi identitas dan jati diri bangsa. Karena itu, penting membangun sinergi yang kokoh dua pilar utama, ketahanan keluarga dan pendidikan karakter di era disrupsi digital.
Menenun ketahanan dan karakter keluarga merupakan metafora yang menggambarkan proses membangun kekuatan sebuah keluarga secara perlahan, teliti, dan saling terikat satu sama lain, layaknya sehelai kain tenun. Makna filosofi menenun menunjukkan adanya proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Dalam konteks keluarga, maknanya bahwa keberlanjutan ketahanan tidak lahir dari proses dalam tempo yang singkat melainkan hasil dari interaksi harian secara longitudinal, kebiasaan kecil, dan konsistensi orang tua dalam mendidik anak-anak.
Ketahanan keluarga tidak mewujud pada keluarga yang tidak bermasalah, melainkan keluarga yang memiliki resiliensi secara fisik, ekonomi, psikis, dan sosial-keagamaan. Ketahanan fisik memenuhi kebutuhan dasar dan kemandirian finansial di tengah uncertainty ekonomi digital, ketahanan psikologis berupa kemampuan anggota keluarga untuk saling mendukung saat menghadapi tekanan dan perundungan dari luar, serta ketahanan sosial-keagamaan berupa kemampuan menjaga nilai-nilai sosial dan agama di tengah arus budaya yang menginfiltrasi keluarga melalui ruang digital.
Keluarga adalah kompas moral yang harus menanamkan nilai-nilai dan integritas digital sejak dini. Sebagai kompas moral, keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan kejujuran, tanggung jawab, dan empati agar anak-anak memiliki filter internal saat mereka tidak sedang diawasi oleh orang tua. Karakter keluarga dengan integritas digital juga mewujud dalam etika komunikasi di media sosial, kearifan dalam menyerap informasi, serta memiliki kemampuan literasi yang cerdas memilih, memilah, dan mengolah dan memanfaatkan informasi.
Menenun ketahanan dan karakter keluarga sangat penting untuk kebangkitan, karena keluarga adalah unit terkecil dari sebuah negara. Jika tenunan di tingkat keluarga rapuh, maka kain besar bernama “Bangsa Indonesia” juga akan mudah robek. Menenun ketahanan dan karakter keluarga adalah upaya sadar untuk menciptakan domestik sphere yang kuat secara moral, sosial, agama, psikologi dan ekonomi, sehingga mampu menjadi fondasi utama bagi kemajuan bangsa di masa depan.Tanpa fondasi domestik yang kuat, transformasi digital hanya akan menciptakan masyarakat yang terkoneksi secara teknis, namun terputus secara mental dan emosional. Konsep keluarga sebagai benteng literasi menempatkan rumah sebagai garis pertahanan pertama sekaligus filter utama bagi derasnya arus informasi di era digital, yang semakin mengokohkan keluarga sebagai institusi pendidikan paling mendasar.
Karakter adalah jangkar bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Karakter berperan sebagai penyaring agar teknologi digunakan untuk merajut persatuan dan kesatuan menuju Indonesia Emas. Keluarga harus mampu menjadikan momentum transformasi digital sebagai akselerator bagi penguatan ketahanan dari rumah, sehingga tidak mudah tergerus oleh arus. Teknologi hanyalah media dan sarana yang mendatangkan banyak kemudahan, sementara manusia dengan nilai dan karakternya adalah nahkoda yang menentukan arah dan tujuan. Keluarga yang tangguh akan melahirkan individu berkarakter, mandiri dan beretika. Dengan benteng yang kokoh, transformasi digital tidak akan merusak tatanan keluarga, melainkan bisa menjadi sarana untuk mencapai kemandirian dan kebangkitan. Keluarga yang memiliki resiliensi akan melahirkan masyarakat yang tidak mudah terprovokasi. Keluarga yang berkarakter akan melahirkan pemimpin-pemimpin negeri yang berintegritas tinggi. Karena itu, mari kita jadikan momentum harkitnas ini sebagai pelecut bagi penguatan ketahanan dan karakter masyarakat dan bangsa dari jendela keluarga kita. Dengan menguatnya ketahanan dan karakter keluarga, berarti kita turut serta menjaga tunas bangsa. Wa allah a’lam. (***)




