LAWAN SEDIMEN: Petugas UPT PSDA Turen saat melakukan pembersihan sedimentasi di Dam Tumpukrenteng, untuk memperlancar irigasi sawah di Desa Tumpukrenteng Turen Kabupaten Malang, Selasa (9/6/2026). (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Petugas UPT PSDA Turen melakukan terobosan, dengan menguji coba alat pompa air bertekanan tinggi, untuk menguras endapan lumpur (sedimentasi) di Dam Tumpukrenteng, Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Selasa (9/6/2026). Langkah taktis ini ditegaskan oleh Kepala UPT PSDA Turen, Agus Prayoga, sebagai strategi mutakhir untuk mempercepat pemeliharaan jaringan irigasi yang mengairi 98 hektare baku sawah warga di tengah keterbatasan jumlah personel.
Air bagi petani itu seperti darah. Kalau alirannya tersumbat, sawah bisa kering dan tanaman padi bisa mati.
Hari Selasa ini, para petugas lapangan sibuk di Dam Tumpukrenteng, Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Mereka sedang bertarung melawan musuh abadi saluran air: sedimentasi. Alias endapan lumpur.
Tapi tidak tampak cangkul di sana. Petugas membawa senjata baru: alat pompa air berkekuatan semprot tinggi. Lumpur tebal langsung ditembak dengan air bertekanan besar. Hasilnya? Pekerjaan jauh lebih cepat dan mampu menjangkau sudut sempit dam yang paling sulit.
Taktik ini lahir karena kondisi yang memaksa mereka memutar otak.
“Pembersihan sedimen dengan cara ini kami lakukan, untuk mengurangi keterbatasan personel,” cerita Kepala UPT PSDA Turen, Agus Prayoga, Selasa (9/6/2026).
Mari tengok paradoksnya. Tahu berapa jumlah pasukan juru pengairan yang dimiliki Agus? Hanya 10 orang! Kurang dari satu kesebelasan sepak bola.

PERAWATAN: Petugas UPT PSDA Turen, saat memotong rumput dan tanamam di atas sempadan saluran irigasi Dam Tumpukrenteng Turen Kabupaten Malang. (Foto: Istimewa)
Padahal, wilayah kerja UPT PSDA Turen ini raksasa. Membentang luas mencakup 11 kecamatan, mulai dari Poncokusumo hingga Ampelgading.
Khusus wilayah Kecamatan Turen saja, total baku sawah yang butuh air irigasi luasnya mencapai 2.500 hektare. Sungguh tidak seimbang.
Maka, jurus pompa semprot ini adalah dewa penolong. Aliran dari Dam Tumpukrenteng ini sangat vital untuk mengairi sawah seluas 98 hektare di Desa Tumpukrenteng dan sebagian kecil Desa Talangsuko.
Urusan membersihkan dam ini dilakukan rutin hampir setiap pekan, atau 3-4 kali sebulan. Baik saat musim kemarau maupun musim hujan. Sistem kerjanya digilir berpindah-pindah titik dam setiap minggu.
Bagaimana jika kondisinya darurat dan endapan lumpur kelewat raksasa? Agus tidak akan membiarkan 10 pasukannya mati konyol. Setir strategi langsung diubah.
“Tergantung kondisi. Jika terlalu banyak endapan, kami gunakan alat berat atau dibantu masyarakat petani setempat. Jika tidak cepat ditangani, bisa mengganggu aliran air limpasan di bawahnya,” tandas Agus.
Setelah dari Dam Tumpukrenteng, petugas bersiap menggeser mesin pompa menuju Dam Jaruman I. Dam irigasi primer ini menangkap limpasan air dari Tumpukrenteng untuk disalurkan ke tiga desa sekitar: Desa Talangsuko, Kedok, dan Undaan Turen.
Kondisi alam saat ini memang sedang menguji. Saat musim hujan, debit air di sana bisa mencapai 140 liter per detik. Tapi begitu musim kemarau mulai menyengat seperti sekarang, debitnya langsung merosot kurang dari itu.
Di sinilah peran penting juru pengairan diuji. Tugas 10 pasukan PUSDA Kabupaten Malang ini bukan cuma memegang selang. Setiap hari, mereka wajib memelototi dan melaporkan debit air, mengawasi tanaman sekitar bendungan, hingga menghitung curah limpasan air hujan.
“Tentunya, kami juga harus menjaga dan melaporkan kondisi fisik jaringan irigasi, agar berfungsi normal,” pungkas Agus Prayoga. (Ra Indrata)




