Nadia Aura Maharani, S.Psi. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Stigma negatif yang menempel pada Generasi Z sebagai pekerja malas dan tidak loyal ternyata tidak sepenuhnya benar. Sebuah penelitian terbaru justru mengungkapkan bahwa Gen Z masih memiliki semangat berkontribusi tinggi, namun dengan satu syarat: mereka ingin tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance).
Temuan menarik ini diungkap oleh Renticabella Praharanie Edytya, MMRS, mahasiswa program studi Magister Manajemen Rumah Sakit.
Dalam tesisnya yang berjudul “Generasi Z dan Dunia Kerjanya di Rumah Sakit Pemerintah: Antara Kenyataan dan Harapan,” ia berhasil lulus dengan IPK 3,99 dalam waktu studi yang tergolong cepat, yakni 1 tahun 4 bulan 21 hari.
Ide penelitian ini berawal dari pengalaman seorang temannya yang memilih resign karena merasa pekerjaannya tidak linier dengan pendidikannya.
“Dari situ saya berpikir, ternyata Gen Z punya cara pandang yang berbeda terhadap dunia kerja,” ungkap Renticabella.
DUA KUBU GEN Z dan KRITIK PADA BIROKRASI
Hasil penelitiannya menunjukkan fenomena unik. Ketika ditanya soal ambisi menjadi pimpinan, responden Gen Z terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama menolak dengan alasan tidak ingin “muluk-muluk.” Namun, kubu lainnya justru menyambut positif.
“Mereka berharap diberi tanggung jawab lebih besar demi melakukan perbaikan pada sistem,” jelas Penelitian mahasiswa alumni Universitas Airlangga ini menegaskan.
Meski demikian, hampir seluruh responden sepakat untuk tetap menjunjung tinggi prinsip work-life balance.
Penelitian ini juga menemukan ‘peperangan’ tersembunyi antara Gen Z dan sistem birokrasi.
“Mereka menganggap alur birokrasi yang berjenjang itu rumit. Mereka butuh kecepatan, tetapi administrasi memiliki alur yang panjang,” tuturnya.

Renticabella Praharanie Edytya, MMRS. (Foto: Istimewa)
Sebagai solusi, Renticabella menawarkan konsep LEVEL UP. Salah satu poin utamanya adalah Listening and Support (mendengarkan dan mendukung).
“Harapannya Gen Z dapat didengarkan, diberi wadah untuk menyalurkan ide, dan jika dimungkinkan ada semacam kompetisi khusus Gen Z untuk menyampaikan inovasi,” pungkasnya.
Sementara itu, kegelisahan terhadap isu perundungan (bullying) pada siswa disabilitas mendorong seorang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk berinovasi. Nadia Aura Maharani, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), menciptakan board game (permainan papan) edukatif bernama “Inclusive Journey.”
Inovasi tersebut sukses mengantarkannya meraih predikat Wisudawan Terbaik FISIP pada Wisuda UB Periode XVII (9/5/2026), dengan IPK 3,92 dan predikat dengan pujian.
Ide pembuatan permainan ini berawal dari pengalaman Nadia saat Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia menemukan bahwa kasus perundungan terhadap siswa disabilitas di sekolah inklusi sering kali luput dari perhatian. “Melalui board game ini, saya ingin mengedukasi anak-anak, khususnya di sekolah dasar, untuk lebih memahami keragaman,” jelas gadis asal Kudus, Jawa Tengah ini.
BUKAN SEKADAR ULAR TANGGA, TAPI EDUKASI EMPATI
Permainan ini bisa dimainkan oleh lima orang dengan mekanisme mirip ular tangga. Namun, yang membedakan adalah penentuan pemenang. Pemenang bukanlah yang pertama sampai di garis akhir, melainkan pemain yang paling banyak mengumpulkan token empati hijau—didapat dari menjawab pertanyaan atau menyelesaikan tantangan dengan benar.
Permainan dibagi dalam tiga level edukatif:
Level 1: Berisi pertanyaan dasar tentang disabilitas dan perundungan untuk membangun pemahaman awal.
Level 2: Berisi tantangan simulasi, di mana siswa dapat merasakan pengalaman menjadi penyandang disabilitas sekaligus belajar cara mencegah perundungan.
Level 3: Berisi pertanyaan refleksi untuk merenungkan seluruh pengalaman bermain.
Hasil penelitian Nadia menunjukkan peningkatan sikap positif yang signifikan pada anak-anak sekolah dasar setelah memainkan Inclusive Journey. Ia berharap media ini bisa menjadi katalis perubahan.
“Saya berharap melalui cara ini bisa sedikit banyak membawa perubahan yang lebih baik untuk bangsa,” katanya.
Selain berprestasi di akademik, Nadia juga aktif dalam organisasi dan meraih berbagai penghargaan. Kini, ia bekerja sebagai asisten psikolog dan bertekad untuk melanjutkan pendidikan profesi guna mewujudkan cita-citanya menjadi psikolog klinis anak dan remaja. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




