Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, Alfi Sapitri, M.Pd. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Di tengah maraknya promosi superfood dari luar negeri, Indonesia memiliki kekayaan lokal yang sangat istimewa. Salah satunya adalah andaliman, rempah khas Sumatera Utara yang selama ini lebih sering dikenal sebagai pelengkap masakan Batak.
Menurut mahasiswa S3 Pendidikan Biologi UM, Alfi Sapitri, M.Pd., andaliman bukan sekadar bumbu dapur. Melainkan bagian dari identitas budaya, warisan leluhur dan potensi masa depan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Andaliman yang rasanya mirip merica ini, tumbuh di Sumatera Utara dan lekat dengan kehidupan masyarakat Batak. Ciri khasnya terletak pada sensasi rasa pedas getir disertai efek kebas atau getar di lidah.
“Rasa unik inilah yang membedakan andaliman dari rempah lain,” ujar Alfi.
Lebih dari sekadar penambah cita rasa, andaliman juga menyimpan pengetahuan lokal yang telah lama dimanfaatkan masyarakat dalam pengobatan tradisional.
Dalam praktik sehari-hari, andaliman telah digunakan untuk membantu mengatasi diare, kembung, nyeri, hingga meningkatkan nafsu makan. Pada beberapa tradisi, rempah ini juga dimanfaatkan untuk membantu pemulihan ibu pascamelahirkan dan menghangatkan tubuh.
“Kearifan lokal seperti ini semestinya tidak dipandang sebelah mata, justru dari sanalah ilmu pengetahuan bisa bertumbuh,” ujar Alfi.
Seiring berkembangnya penelitian, andaliman mulai mendapatkan pengakuan ilmiah. Sejumlah studi menunjukkan bahwa rempah ini mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi.
Fakta ini menunjukkan bahwa andaliman bukan hanya bernilai budaya, tetapi juga bernilai akademik dan kesehatan. Menurut Alfi, dunia pendidikan perlu lebih berani menjadikan kekayaan lokal sebagai sumber belajar yang kontekstual.
“Sudah saatnya pembelajaran keluar dari pola yang abstrak dan jauh dari kehidupan siswa,” tegasnya.
Andaliman, dengan nama ilmiah Zanthoxylum acanthopodium, dapat dijadikan media pembelajaran biologi, khususnya dalam memahami keanekaragaman hayati, morfologi tumbuhan, habitat, dan perannya dalam ekosistem.
Lebih jauh, andaliman juga dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran berbasis proyek. Siswa dapat diajak mengembangkan produk sederhana seperti pangan fungsional atau media edukasi kesehatan berbasis bahan lokal.
“Pembelajaran akan menjadi lebih hidup ketika siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga mengamati, meneliti, dan mencipta,” tulis Alfi.
Pendekatan ini sekaligus melatih kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan pemecahan masalah. Gagasan tersebut juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Menurut Alfi, pendidikan berkualitas tidak boleh berhenti sebagai transfer pengetahuan semata.
“Pendidikan harus menjadi jalan untuk membangun kesadaran kritis, keberpihakan pada realitas lokal, dan kepedulian terhadap masa depan,” ujarnya.
Ironisnya, ketika dunia mengagungkan quinoa, chia seed, dan kale, andaliman justru belum mendapat perhatian yang sepadan. Padahal, andaliman memiliki kandungan senyawa bioaktif.
Seperti flavonoid, alkaloid, terpenoid, tanin, saponin, dan minyak atsiri. Kandungan ini memberi peluang besar dalam pengembangan pangan fungsional, bahan pengawet alami, hingga produk kesehatan.
Potensi andaliman bahkan terbuka luas di sektor farmasi dan kosmetik. Beberapa hasil penelitian menunjukkan peluangnya sebagai antikanker, pereda nyeri, antiinflamasi, dan imunomodulator. Dengan pengembangan yang tepat, andaliman dapat menjadi bagian dari nutraceutical, yakni produk pangan yang memiliki manfaat kesehatan.
Pemanfaatan andaliman juga memiliki kaitan erat dengan agenda SDGs lainnya, seperti SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, SDG 8 tentang pertumbuhan ekonomi, SDG 9 tentang inovasi, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta SDG 15 tentang pelestarian ekosistem daratan.
“Andaliman mengajarkan kita bahwa satu komoditas lokal dapat menyentuh banyak aspek pembangunan sekaligus,” tulis Alfi.
Namun, tantangan masih besar. Keterbatasan riset, minimnya integrasi dalam kurikulum, dan kurangnya dukungan kebijakan membuat andaliman belum berkembang optimal.
“Tanpa sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat, andaliman akan terus menjadi harta tersembunyi yang hanya dibicarakan, tetapi belum benar-benar dimanfaatkan,” tegas Alfi.
Bagi Alfi mengangkat andaliman ke ruang publik bukan hanya soal pelestarian budaya, melainkan juga langkah strategis menuju kemandirian bangsa.
“Dari dapur tradisional hingga laboratorium modern, andaliman membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat tumbuh dari akar budaya, kini saatnya Indonesia berhenti menjadi penonton dan mulai tampil sebagai pelaku utama dengan mengangkat kekayaan lokalnya sendiri,” tulisnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




