MALANG POST – Fenomena perubahan iklim El Niño membawa dampak serius bagi kondisi cuaca di Indonesia. Peningkatan suhu yang signifikan, baik di darat maupun di laut, kini memunculkan ancaman kesehatan serius yang sebelumnya lebih identik dengan kawasan Timur Tengah, yakni heatstroke atau sengatan panas.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang, dr. Husnul Muarif, memperingatkan masyarakat bahwa ancaman sengatan panas kini nyata dan patut diwaspadai di dalam negeri.
“Jadi kalau El Niño, suhu meningkat ya. Baik di daratan maupun di laut, meningkat sehingga berpotensi menyebabkan sengatan panas atau heatstroke,” tegas Husnul.
Selama ini, kasus heatstroke lebih banyak disosialisasikan dan diwaspadai oleh jemaah haji asal Indonesia saat menunaikan ibadah di Arab Saudi. Namun, eskalasi cuaca membuat potensi ancaman tersebut kini bergeser ke Tanah Air.
“Nah, sengatan panas ini biasanya terjadi di Arab Saudi saat masa-masa haji. Tapi sekarang potensinya sudah ada di Indonesia. Untuk menghindarinya, pertama, upayakan aktivitas di luar ruangan tidak terlalu lama. Jangan terlalu lama terpapar udara panas atau sinar matahari,” paparnya.

KEPALA Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Lebih lanjut, Kadinkes menyoroti karakter cuaca di Indonesia di mana sengatan panas diperparah oleh tingkat kelembaban yang tinggi. Masyarakat sering kali terkecoh karena merasa aman saat mendung atau hujan turun, padahal penguapan tubuh tetap terjadi.
“Panas itu kelembabannya tinggi, sehingga sekalipun ada hujan, dehidrasi tetap akan berjalan,” ungkapnya.
Proses dehidrasi ini kerap tidak disadari. Hilangnya cairan tubuh tidak selalu dalam bentuk keringat yang mengucur saat beraktivitas berat.
“Dehidrasi bisa terjadi lewat penguapan saat kita bicara, penguapan lewat kulit, atau penguapan lewat saluran pembuangan kencing. Sehingga jika dehidrasi terjadi dan udaranya panas, mudah untuk terkena sengatan panas atau heatstroke,” jelas Kadinkes.
Sementara itu, Prakirawan BMKG Juanda, Levi Ratnasari, menyebut awal musim kemarau di Jawa Timur Raya diprediksi terjadi pada dasarian III Mei 2026.
“Secara umum, awal musim kemarau di jatim Raya terjadi pada akhir Mei,” ujar Levi dalam keterangan tertulisnya.
Meski begitu, sebagian wilayah seperti Surabaya, Malang, Blitar, hingga Jawa Timur bagian barat diperkirakan lebih dulu memasuki musim kemarau pada pertengahan Mei.
Levi juga menanggapi istilah ‘Godzilla El Niño’ yang sempat ramai di media sosial. Menurut dia, istilah tersebut bukanlah istilah resmi BMKG, meskipun fenomena El Niño memang diprediksi menyertai musim kemarau tahun ini. “Kondisi kemarau akan terasa lebih kering dan terik karena dipengaruhi El Niño,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan antisipasi sejak dini. Warga diminta bijak menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari agar tidak kekurangan saat puncak kemarau. Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk menghindari pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari dan perbanyak minum agar tidak dehidrasi,” pungkasnya. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




