MALANG POST – Dari pagi buta, Aura Herlinda Veronika dan Fitri Agustina sudah hadir di lokasi tes UTBK FISIP Universitas Brawijaya (UB) sejak pukul 06.00 pada Selasa (21/4/2026).
Keduanya datang bukan sekadar untuk mengikuti ujian, tetapi membawa satu harapan besar. Lolos seleksi dan melanjutkan studi di kampus impian.
Namun, perjalanan hari itu tidaklah sama bagi semua orang. Aura dan Fitri sama-sama memiliki kebutuhan khusus—dan justru di situlah ujian terasa lebih dari sekadar akademik. Ada perjuangan, keberanian dan dukungan yang harus terus hadir.
Aura Herlinda, menyatakan, “Awalnya grogi, tapi Alhamdulillah lancar”
Aura Herlinda, adalah seorang penyandang disabilitas tuli. Ia bercerita bahwa sejak awal ia sempat merasakan rasa grogi. Meski begitu, ujian tetap bisa ia jalani dengan tenang.
“Tadi saya sempat grogi, Alhamdulillah sekarang lancar ya,” ungkap Aura melalui bahasa isyarat.
Bagi Aura, proses UTBK bukan perjalanan tanpa tujuan. Ia mengaku optimis dapat meraih kesempatan kuliah di Universitas Negeri Malang (UM), kampus yang ia jadikan target untuk melanjutkan pendidikan.

Sementara itu, peserta lain yaitu, Fitri Agustina menyatakan jika dia meyakini jika tantangan tetap bisa diatasi.
Fitri Agustina, juga seorang penyandang disabilitas. Dia tuna daksa. Dirinya juga merasakan tantangan dalam mengerjakan soal.
Baginya, soal UTBK memang tidak mudah. Namun dia tetap yakin, bahwa usaha yang serius akan membuahkan hasil.
“Lebih kayak susah banget, tapi kita pasti bisa sih kalau ngerjainnya,” katanya.
Fitri turut mengapresiasi fasilitas yang disediakan FISIP UB. Menurutnya, dukungan layanan membuat proses ujian lebih nyaman bagi peserta disabilitas.
“Sangat membantu sih… petugasnya semua welcome. Jadi sangat ramah disabilitas menurut aku,” tambah Fitri.
Dukungan orang tua, sudah pasti menjadi kunci yang tak terlihat. Di momen yang sama, ibunya Fitri menyampaikan rasa syukur. Baginya, dukungan orang tua adalah pondasi yang sangat penting dalam pendidikan anak.
“Sebagai orang tua, pastinya cuma bisa mendukung dan menyemangati agar anaknya bisa sukses dunia dan akhirat,” ujarnya.
Aura dan Fitri, menyatakan jika mereka mendapat pelayanan maksimal. Sejak awal hingga selesai ujian.
Bahkan, sejak tiba di lokasi tes, Aura dan Fitri mendapatkan pelayanan maksimal dari petugas.
Mulai dari pemeriksaan berkas, hingga proses pemeriksaan menggunakan metal detector dilakukan dengan pendampingan dan respons yang baik.
Selesai mengikuti UTBK, keduanya sama-sama menegaskan bahwa pengalaman hari itu memberi harapan baru. Bahwa akses dan layanan yang tepat dapat membuat peserta disabilitas bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Pihak FISIP UB juga optimal menyiapkan ruang inklusif.
Selasa (21/4/2026), UTBK di FISIP UB diikuti oleh sembilan peserta disabilitas. Fasilitas ramah disabilitas yang disediakan meliputi:
Pendampingan selama ujian, pelayanan petugas yang responsif, infrastruktur pendukung mobilitas serta lingkungan ujian yang aksesibel.
Pelaksanaan UTBK hari pertama, akhirnya menjadi lebih dari sekadar seleksi masuk perguruan tinggi.
Bagi Aura dan Fitri, momen tersebut adalah bukti bahwa pendidikan inklusif bisa diwujudkan. Dan kesempatan yang sama tidak berhenti di kalimat, tetapi hadir dalam layanan nyata.
Harapan mereka tetap satu. Lolos dan melanjutkan masa depan, dengan cara menunjukkan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi akhir dari mimpi. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




