Connect with us

Hi, what are you looking for?

Opini

Negeri Zamrud Khatulistiwa: Tanah Kita Tanah Surga, Bukan Tanah Penjajahan

Rencana pembangunan proyek wisata di Taman Nasional Komodo (TNK) menimbulkan polemik serta menuai kontroversi di berbagai kalangan aktivis, tokoh-tokoh, maupun masyarakat. (Sumber Foto: Portonews.com)

Rencana pembangunan proyek wisata di Taman Nasional Komodo (TNK) menimbulkan polemik serta menuai kontroversi di berbagai kalangan aktivis, tokoh-tokoh, maupun masyarakat. Yang di mana, kalau dilihat secara mendalam proyek tersebut mengancam kelestarian alam, keselamatan satwa liar yang dilindungi, serta masyarakat setempat. Yang katanya, tujuan pemerintah mengadakan sebuah proyek besar ini agar masyarakat tidak mengalami kemiskinan yang sangat-sangat deras.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pemerintahan sekarang ini bukan malah mengupas beban kesusahan/penderitaan rakyatnya, tapi malah memperkeruh keadaan, menambah beban-beban masyarakat, membuat keresahan serta kekhawatiran yang sangat pilu. Jikalau pemerintah benar-benar serius ingin memutuskan buhul-buhul kemiskinan yang terjadi sekarang ini, bukan menggunakan langkah tersebut, mengorbankan aset bangsa yang sejak dulu sangat kaya-sakral akan kemewahan alam serta adat budayanya yang masih dilestarikan.

Itu semua bukan suatu solusi, kemiskinan bukan terletak pada alam tapi terletak pada rakyat itu sendiri. Oleh karena itu, menurut penulis jikalau ingin memajukan suatu bangsa, maka mulailah membangun rakyat-rakyatnya dengan berbagai disiplin ilmu, percuma saja membangun berbagai hal tetapi rakyatnya buta huruf akan segala hal. Janganlah menjadikan masyarakat sebagai objek, tapi jadikanlah mereka sebagai subyek, maka pasti kedepannya suatu negara akan maju; terbebas dari segala keterpurukan maupun berbagai krisis ekonomi.

Adat-budaya Harus Dilindungi

Pulau komodo bukan hanya sekedar tempat yang terkenal akan kekayaan alamnya, tempatnya yang sangat menakjubkan-eksotis, atapun kadalnya yang besar-besar membuat para turis asing melihatnya terpesona. Tetapi pulau komodo mempunyai historis sangat menarik, kebudayaan adat setempat yang sangat sakral dan sampai sekarang ini masih dipelihara dan dijaga. Indra Wati salah satu warga pulau komodo, ia menjelaskan pada awak-media BBC News Indonesia,

“Bahwa komodo bukan saja dikenal dengan hewan yang sangat besar. Komodo sudah menjadi ‘saudara sedarah’ kami, mereka sudah menjadi sebagian dari keluarga kami. Mempunyai hubungan ikatan batin dengan manusia yang sangat erat sekali. (18/7/19). Tetapi, sangat disayangkan sekarang ini mereka masyarakat asli penghuni pulau komodo harus dipindahkan di tempat lain, dilihat dari hewan tersebut yang sangat agresif dan sangat buas. Oleh karena itu masyarakat harus mengosongkan pulau tersebut, tidak boleh ada manusia yang tinggal di situ. Yang katanya “Gubernur NTT Viktor Laiskodat  (18/6).

Pemerintah seharusnya melihat terlebih dahulu sebelum bertindak. Masyarakat setempat tidak bisa dipisahkan begituh saja dengan pulau komodo. Mereka mempunyai sosial adat-budaya warisan leluhur mereka yang sangat kental dan sakral yang di mana sampai sekarang ini adat-budaya tersebut masih dilestarikan dan dijaga. Sebenarnya pemerintah harus menjaga, melindungi, serta menjunjung tinggi kebudayaan setiap daerah sebagai salah satu ikhtiar penghormatan kepada leluhur terdahulu yang sudah merawatnya sekuat tenaga.

Sebagaimana pula tertuang dalam UU Pasal 32 “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Menurut pandangan penulis, nilai-nilai adat-budaya dalam suatu daerah merupakan hak asasi masyarakat setempat. Karena budaya itu sendiri sudah lahir sebelum manusia hadir di muka bumi. Eksistensinya sudah diakui pula dari turun temurun yang melekat dari sanubari setiap insan. Oleh karenanya, pemerintah pula harus berlaku adil memberi kebebasan kepada masyarakat yang mempunyai adat-budaya warisan leluhurnya yang masih terjaga sampai sekarang ini untuk melestarikan serta membudi-dayakan keanekaragam SDA di dalamnya, sebagaimana dalam butir sila ke-5 “Keadilan Sosila Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

 Untuk Generasi Mendatang

Sangat disayangkan, jikalau alam dijadikan titik-temu konversi secara terus menerus. Yang pastinya Indonesia jatuh pada kemiskin dan mengalami kemuduran. Mengapa demikian ? Yah, karena Indonesia sudah tidak  memiliki tiang penyanggahnya yaitu kekayaan alam yang melimpah ruah.

Sebenarnya alam tidak bisa dirubah semaunya manusia, karena alam sangat berarti bagi keberlangsungan hidup semua mahluk, untuk itu harus dijaga dan dilestarikan pula sebaik-baiknya demi generarasi  yang akan mendatang. Mereka juga berhak mencicipi hasil kekayaan alamnya sendiri.

Harapan penulis selaku anak bangsa, semoga tulisan ini bermanfaat serta dapat membuka pola pikir para elit-negara agar lebih menilik keadaan secara komprehensif. Dan juga, sebagai rekontruksi keadaan Indonesia sekarang ini, yang di mana berbagai gejolak politik, perekonomian, dan lainya mengalami kerancuan yang sangat draktis.

“Memajukan suatu bangsa bukan terletak seberapa hebatnya kita membangun segala infrastruktur. Tetapi, dilihat dari seberapa pintarnya kita dalam membangun perubahan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa”  -Anak Bangsa-

Penulis : Helmi Rizkih Saputra Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam
FAI Universitas Muhammadiyah Malang
1 Comment

1 Comment

  1. TIARA AMELIA PITALOKA

    November 4, 2020 at 10:57 am

    Betul sekali ,kemiskinan itu bukan dari alam melainkan diri kita sendiri dalam mencari nafkah untuk hidup.kita sebagai manusia harus bisa menjaga alam dengan sebaiknya .apa kata kalo alam ini rusak bukan hanya hewan saja yang akan punah tetapi kita sendiri juga akan kehilangan tempat hidup dan juga tempat untuk mencari makan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Di's way

Batu – Penyakit jantung termasuk silent killer. Saat ini menempati posisi teratas penyakit tak menular paling mematikan di Indonesia. Paling banyak diderita lansia. Namun,...

Opini

Bebas tapi sadar batas…. Demikian yang beberapa tahun saya kampanyekan ke forum-forum milenial. Pada dasarnya, setiap manusia ditakdirkan untuk bersikap bebas dan tidak berbatas....

Di's way

Malang – Diluar nama-nama Dendi Santoso dan Johan Ahmad Alafarizi, Hendro Siswanto merupakan pemain terlama berkostum tim berjuluk Singo Edan. Sepanjang 13 tahun karir...

Di's way

Malang – Seluruh pasien yang meninggal dunia, akibat terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Malang, bukan murni karena coronavirus disease. Melainkan karena ada komorbid atau...