Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mulai melakukan pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam kurun waktu kurang dari sepekan sejak menjabat. (Foto: Anisha Aprilia/Disway)
MALANG POST – Kurang dari sepekan menjabat, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengambil langkah tegas dengan menutup (suspend) secara permanen 883 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta memecat 261 pegawai bermasalah pada Senin (27/7/2026) demi menertibkan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Belum genap sepekan menjabat, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono langsung tancap gas. Sapu bersih. Tak ada kompromi bagi siapa pun yang main-main dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah pembenahan tata kelola dipacu dalam tempo tinggi. Target utamanya jelas: menertibkan dapur penyedia gizi hingga memecat oknum pegawai bermasalah.
Per Senin (27/7/2026), BGN resmi menjatuhkan sanksi berat. Sebanyak 883 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG ditutup (suspend) secara permanen karena terbukti melanggar standar kelayakan.
“Kami telah menemukan ada 883 dapur yang kami suspend per hari ini,” tegas Sudaryono saat menggelar konferensi pers di kantor BGN, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Sebaran dapur bermasalah itu merata di berbagai daerah. Wilayah 1 (Sumatra) menyumbang 98 SPPG, Wilayah 2 (Jawa dan Madura) sebanyak 311 SPPG, sementara Wilayah 3 (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua) mendominasi dengan 474 SPPG.
Penyebabnya fatal. Mulai dari urusan higienitas dapur yang buruk, pengabaian Standar Operasional Prosedur (SOP), hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tak sesuai ketentuan.
Gaya kepemimpinan Sudaryono berbeda. Ia mengubah total mekanisme penindakan. Kalau dulu dapur kena suspend masih bisa menerima kucuran anggaran, kini kran uang langsung dikunci rapat.
“Dapur yang di-suspend secara permanen ini bukan seperti yang lalu. Kalau dulu di-suspend tapi tetap dibayar, kalau ini sudah suspend, tutup, tidak dibayar!” tandasnya tanpa ragu.
Bukan cuma dapur penyedia makan yang disasar. Pembersihan internal juga menyasar sumber daya manusia di tubuh BGN sendiri.
Pada hari yang sama, sebanyak 261 pegawai resmi diberhentikan. Rinciannya: 224 pegawai non-ASN dan 37 tenaga ahli. Dosa mereka tak main-main: terindikasi judi online, tidak disiplin, hingga main mata dengan praktik gratifikasi.
“Pegawai non-ASN ini diberhentikan, salah satu penyebab paling besar adalah karena diduga adanya pelanggaran, ketidakdisiplinan, dan lain-lain,” lanjut Sudaryono.
Pembersihan tak berhenti di situ. BGN kini sedang memproses sembilan pegawai berstatus ASN dan PPPK yang kedapatan melakukan pelanggaran berat. Sanksi terberat menanti: pemecatan. Sementara 39 pegawai lainnya bersiap menerima sanksi administratif berupa mutasi, demosi, hingga surat peringatan.
Bagi Sudaryono, tindakan drastis ini adalah harga mati demi menjaga transparansi Program MBG dan nama baik institusi.
“Harus kita hukum orang-orang yang tidak baik. Yakni mereka yang mencoreng nama baik orang-orang yang selama ini bekerja dengan baik,” pungkasnya.
Sebuah pesan keras telah dikirimkan dari kantor BGN: program makan gratis tidak boleh dikotori oleh mentalitas pemburu rente dan birokrat korup. (Disway/Ra Indrata)




