MALANG POST – Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen resmi mengumumkan hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang SMP/MTs/sederajat pada Selasa (26/6/2026). Di Kabupaten Malang, MTs Negeri 6 Malang sukses mencatatkan prestasi gemilang, setelah hasil TKA para siswanya terdongkrak melebihi rerata nasional, bahkan mencetak nilai sempurna 100 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia berkat strategi kelas peminatan khusus.
Matematika itu momok. Sejak dulu. Ternyata, sampai tahun 2026 ini pun belum berubah. Secara nasional, nilai Matematika kita memang tiarap.
Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja merilis datanya. Selasa lalu (26/5). Hasilnya potret nyata: rerata nasional Matematika jenjang SD cuma 43,41. Di tingkat SMP? Lebih anjlok lagi: 40,34.
Untunglah, urusan modal bahasa kita masih selamat. Rerata nasional Bahasa Indonesia jenjang SD tercatat 60,14, dan SMP nangkring di angka 60,83. Angka-angka itu dirinci langsung oleh Kapusmendik Kemendikdasmen, Rahmawati, berdasarkan jenis dan status sekolah.
Tapi, lupakan sejenak potret buram nasional itu. Mari tengok apa yang terjadi di Kabupaten Malang. Tepatnya di MTs Negeri 6 Malang.
Di madrasah ini, hasilnya bikin tersenyum lebar. Sangat memuaskan. Rerata nilai TKA anak-anak pilihan di sana sukses menjinakkan angka nasional. Jauh di atasnya.
Ada lima siswa yang mencatatkan hasil terbaik. Salah satunya Dinita Afifah Nurbaiti. Gadis ini meraih nilai rerata luar biasa: 95,00. Isi rapor TKA-nya mentereng: Matematika dapat 93,33 dan Bahasa Indonesia 96,67. Lalu ada M. Habibi Abdurrohman. Rerata nilainya genap 90,00. Yang hebat, Bahasa Indonesia-nya tembus angka sempurna: 100!

Bukan hanya Habibi yang berhak sombong positif. Satu temannya lagi, Akhmad Musyafak Ma’ruf, juga sukses mencetak angka 100 mutlak untuk mapel Bahasa Indonesia.
Waka Kurikulum MTsN 6 Malang, Sri Endarwati, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Hari Sabtu kemarin (20/6), dia membeberkan pencapaian anak didiknya.
“Rerata TKA siswa kami di atas rata-rata nasional. Kalau nasional hanya kisaran 60,83, anak-anak kami secara umum sudah menembus angka 75 lebih untuk Bahasa Indonesia,” kata Endar.
Bagaimana dengan momok Matematika? Di MTsN 6 Malang, momok itu berhasil diredam. Rerata nilainya berada di angka 44 lebih. Masih di atas rerata nasional yang cuma kepala empat pas-pasan. Secara total, ada 2 siswa yang meraih nilai 100 di Bahasa Indonesia, dan 5 siswa nangkring di angka 96,6. Kategori sangat memuaskan.
Pertanyaannya: kok bisa? Apakah nilai tinggi ini jatuh dari langit? Atau sekadar faktor keberuntungan?
Tentu tidak. Endah membuka rahasia dapurnya. Nilai mentereng itu linear dengan apa yang dikerjakan pihak madrasah di dalam kelas sehari-hari. Ada sistem yang didesain secara khusus.
Di madrasah ini, hampir semua kelas menerapkan program layanan peminatan. Strategi pembinaannya dibuat berlapis. Pertama, pembinaan dilakukan secara umum. Kedua, ada jam tambahan yang disuntikkan ke dalam struktur intra-kurikuler. Ketiga, ada suplemen khusus yang digelar setiap hari Jumat.
Bagi anak-anak yang terdeteksi punya potensi lebih, penanganannya beda lagi. Mereka diberi porsi tambahan khusus. Tujuannya agar mereka bisa mengunyah dan menguasai materi pelajaran dengan ritme yang lebih cepat.
Urusan mendongkrak Matematika juga ada jalurnya. Endah mengakui, siswa yang mendominasi prestasi akademik dan TKA tinggi di mapel hitungan ini sebagian besar berasal dari kelas olimpiade. Mereka memang dicetak untuk bertarung di jalur angka.
Sedangkan untuk Bahasa Indonesia, racikannya ada pada konsistensi guru. Tim pengajar di MTsN 6 Malang dipaksa habis-habisan memberikan metode terbaik. Hasilnya nyata: rerata siswa secara umum sukses menyentuh angka 75.
Ternyata, jika dikelola dengan manajemen kelas yang benar, momok ujian nasional jenis apa pun tetap bisa ditaklukkan. Matsanega sudah membuktikannya. (Ra Indrata)




