MALANG POST – Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menghadiri langsung pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) II Aremania Utas, yang digelar di Kota Wisata Batu pada akhir pekan ini. Kehadiran ribuan suporter Singo Edan dari berbagai daerah tersebut, tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga dinilai sukses membawa efek domino yang menggerakkan sektor ekonomi kerakyatan, mulai dari perhotelan, kuliner, hingga pelaku UMKM lokal di Kota Batu.
Kota Batu mendadak biru. Ribuan Aremania dari berbagai penjuru daerah tumpah ruah di sana. Mereka punya agenda besar: menggelar Musyawarah Nasional (Munas) II Aremania Utas.
Bagi Kota Batu, ini bukan sekadar urusan kumpul-kumpul suporter. Ini berkah ekonomi.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, yang hadir langsung membuka acara, langsung bisa membaca pergerakan itu. Kehadiran ribuan massa otomatis memicu efek domino bagi perputaran ekonomi daerah. Hotel-hotel terisi. Warung kuliner laris manis. Tempat wisata ramai, dan produk UMKM lokal ikut kecipratan untung. Perputaran uangnya nyata.
“Kota Batu ini bagian yang tidak terpisahkan dari Malang Raya. Kami menyambut baik munas ini. Selain memperkuat persaudaraan, dampaknya positif bagi ekonomi masyarakat,” ujar Heli.
Polanya memang sudah berubah. Kultur Aremania sejak lama bukan lagi sekadar soal urusan teriak-teriak mendukung tim di atas tribun stadion. Kultur itu kini telah bermutasi menjadi ekosistem sosial dan bisnis yang raksasa. Tengok saja: industri atribut, merchandise kreatif, hingga berbagai lini usaha berbasis komunitas lahir dari fanatisme ini.
Maka dari itu, Heli sangat mengapresiasi lahirnya Presidium Aremania. Lembaga ini dinilai mampu menjadi ruang komunikasi sekaligus jembatan koordinasi yang mapan dengan berbagai pihak. Suporter harus tertata, dewasa, tertib, dan membawa manfaat.

HADIR LANGSUNG: Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat hadir langsung dalam pembukaan Munas ll Aremania Utas di Selecta Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Melihat ribuan Aremania berkumpul, ingatan Heli langsung melompat ke masa lalu. Ke masa mudanya. Di hadapan para peserta munas, dia mendadak bernostalgia. Menjadi Aremania garis keras di zaman dulu.
Dia bercerita pernah merasakan langsung bagaimana panas dan getirnya atmosfer laga tandang (away days). Salah satunya saat mengawal Arema bertanding ke Surakarta.
Zaman dulu, jangan harap ada manajemen suporter yang rapi seperti sekarang. Belum ada wadah resmi yang mengurus atau menjadi tempat mengadu jika ada masalah di perjalanan maupun di stadion. Suporter bergerak sendiri-sendiri, bermodalkan nekat dan solidaritas jalanan.
Heli lalu mengingat satu momen dramatis. Kala itu, situasi di luar stadion memanas. Terjadi gesekan hebat antarsuporter. Dalam kondisi genting dan tidak kondusif, para Aremania kebingungan mencari perlindungan atau bantuan hukum.
“Sak kenek-kenek e,” kata Heli, menggunakan istilah khas Malangan. Artinya: seadanya.
“Sak onone seng kira-kira dipercaya bisa membantu konco-konco Aremania. Entah Pak RT, Pak Lurah, atau siapa saja yang bisa ditelepon saat itu,” kenangnya, yang langsung disambut tawa riuh para peserta munas.
Cerita masa lalu itu dilemparkan Heli bukan tanpa maksud. Dia ingin menunjukkan betapa jauhnya Aremania telah melangkah dan berubah. Sekarang, dengan adanya Presidium Aremania, koordinasi menjadi lebih jelas dan terarah. Baik koordinasi dengan aparat penegak hukum maupun dengan kelompok suporter lain di seluruh penjuru Indonesia.
Tugas organisasi suporter zaman sekarang memang sudah bergeser jauh. Bukan lagi sekadar mengatur koreografi di tribun stadion. Organisasi harus bisa menjadi penengah, penghubung, sekaligus benteng solidaritas. Jika ada anak-anak muda yang melakukan kekhilafan di lapangan, presidium inilah yang maju menjadi penyambung komunikasi dengan aparat terkait.
Pemkot Batu berharap esensi utama Aremania—yaitu semangat seduluran—tetap dijaga sekokoh batu karang. Dengan organisasi yang semakin matang dan solid, Aremania tidak hanya akan dikenal sebagai suporter yang fanatik di lapangan, melainkan sebagai sebuah komunitas besar yang memberi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




