Wisatawan saat feeding di Jatim Park 2. (Foto: JTP Group for Malang Post)
MALANG POST – Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu memperketat pengawasan dan monitoring di seluruh destinasi serta akomodasi hotel, menjelang tibanya gelombang libur panjang semester genap sekolah mulai Senin, 22 Juni 2026 pekan depan. Langkah antisipatif tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, di Kota Batu, Jumat (19/6/2026) hari ini, guna menjamin keamanan, kelancaran manajemen parkir, hingga penanganan lonjakan volume sampah di ruang publik akibat prediksi kenaikan kunjungan wisatawan yang mencapai 40 persen.
Musim libur sekolah itu berkah bagi industri pariwisata. Uang berputar gila-gilaan. Hotel penuh, restoran laris, tempat rekreasi panen tiket. Mulai tanggal 22 Juni 2026 depan, anak-anak sekolah resmi memasuki masa libur akademik. Dan tujuan utama pelesiran mereka sudah bisa ditebak: Kota Batu.
Kota Apel ini harus bersiap menghadapi serbuan.
Seperti tahun-tahun yang lalu, objek wisata unggulan pasti akan disesaki manusia. Mulai dari taman rekreasi modern, wisata alam pegunungan, hingga ruang publik gratisan seperti Alun-alun Kota Batu diproyeksikan bakal padat merayap.
Mendatangkan turis itu perkara gampang. Yang susah adalah memastikan mereka pulang dengan hati senang. Aman. Nyaman. Tidak kapok datang lagi.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, bergerak taktis. Dia tidak mau jajarannya kecolongan. Pola pengawasan rutin langsung dinyalakan. Objek wisata disisir, hotel-hotel dipantau. Aspek keselamatan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

BERLIBUR: Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Kita lakukan monitoring terkait kesiapan masing-masing destinasi wisata maupun akomodasi yang ada di Kota Batu, termasuk dari sisi keselamatan,” ujar Onny, Jumat (19/6).
Tapi, ada satu musuh klasik yang selalu datang berbarengan dengan tibanya para turis: sampah.
Begitu kunjungan membeludak, volume sampah di ruang publik langsung melompat drastis. Titik paling rawan ada di Alun-alun, taman hutan kota, hingga sepanjang jalur protokol utama. Pemandangan indah bisa mendadak rusak karena ceceran plastik.
Sadar akan potensi kekumuhan itu, Onny tidak mau bekerja sendiri. Dia menggandeng OPD terkait untuk melakukan patroli bersama. Fokusnya dua: melakukan pemantauan sekaligus mengedukasi wisatawan agar tahu diri.
Onny paham betul, mematok angka nol sampah saat liburan itu mustahil. Tidak bisa dipungkiri. Maka, strategi digeser pada budaya wisata yang bertanggung jawab. Turis dipaksa mulai membiasakan diri memilah sampah sebelum dibuang ke tong.
Urusan bersiap-siap ini juga bukan sekadar kemauan daerah. Ada perintah tertulis dari Surabaya. Surat edaran dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur sudah mendarat di meja Onny. Isinya tegas: seluruh destinasi wajib siaga menghadapi kepadatan ekstrem.
Tiga PR besar dari provinsi langsung ditekan: tata kelola parkir agar jalanan tidak macet total, kesiapan jalur evakuasi darurat, hingga penyediaan fasilitas kesehatan. “Per hari ini, kita mendorong semua destinasi bersiap diri,” cetus Onny.
Toh, Onny tetap optimis liburan kali ini berjalan mulus. Cetak birunya sudah ada. Kaca benggalanya adalah periode liburan Januari dan Februari lalu. Kala itu, grafik kunjungan wisatawan ke Batu melonjak 30 hingga 40 persen dari hari normal.
Logika angkanya sederhana. Jika pada akhir pekan biasa sebuah tempat wisata hanya dikunjungi 1.000 orang, maka saat musim libur sekolah ini jumlahnya diprediksi melesat menjadi 1.300 sampai 1.400 wisatawan per hari. Raksasa.
“Insya Allah kita sudah siap seperti sebelumnya,” pungkas Onny.
Pintu gerbang Kota Batu kini sudah dibuka lebar-lebar. Karpet merah sudah digelar untuk menyambut puluhan ribu anak sekolah. Sekarang tinggal bagaimana ketegasan aparat di lapangan: apakah manajemen parkir dan urusan sampah ini bisa dikunci dengan rapi, atau Kota Batu kembali harus pasrah terkepung macet dan sampah plastik. Kita lihat saja mulai Senin depan! (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




