TUMPUKAN SAMPAH: Penampakan tumpukan sampah di TPA Tlekung Kota Batu berasal dari sampah-sampah perkotaan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, secara resmi bakal mengubah total sistem tata kelola pembuangan akhir di TPA Tlekung, dengan menghentikan penerimaan pasokan sampah mentah campuran mulai Jumat (19/6/2026). Langkah radikal yang dipaparkan langsung oleh Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni, tersebut direalisasikan melalui program hibah internasional Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) guna mentransformasikan TPA konvensional menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) modern yang hanya menerima sampah residu sisa akhir dari tingkat rumah tangga dan desa.
Membuang semua jenis sampah ke dalam satu lubang raksasa itu cara kuno. Cara malas. Sampah organik, plastik, kertas, hingga popok bayi dicampur jadi satu lalu ditimbun di satu lokasi. Akibatnya sudah bisa ditebak: lahan cepat penuh, bau busuknya menyengat hidung, dan air lindi beracun perlahan merembes merusak air tanah warga.
Persoalan klasik itulah yang bertahun-tahun menjadi duri dalam daging di TPA Tlekung, Kota Batu.
Kini, wajah pengelolaan sampah di Kota Wisata ini dipaksa berubah total. Radikal. Tidak ada lagi cerita truk-truk mengangkut sampah campuran yang masih mentah langsung dibuang begitu saja ke Tlekung. Mulai sekarang, lokasi tersebut dikunci: hanya boleh menerima sampah residu. Yaitu jenis sampah sisa akhir yang memang benar-benar sudah tidak bisa diolah lagi dengan teknologi apa pun.
Perubahan besar ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni. Kota Batu beruntung mendapatkan program hibah mentereng. Namanya Local Service Delivery Improvement Project (LSDP). Intinya: pembenahan sistem sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir. TPA Tlekung resmi bertransformasi menjadi TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu).

KEPALA Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Namun, Dian Fachroni buru-buru menginjak rem ekspektasi. Mengubah kebiasaan lama itu tidak bisa instan seperti membalik telapak tangan.
“Perubahan fungsi tersebut tidak bisa berjalan penuh sebelum sistem di hulu berjalan optimal,” ujar Dian Fachroni, Jumat (19/6) hari ini.
Hulu itu ada di mana? Di dapur kita masing-masing. Di rumah tangga. Di tingkat RT, RW, hingga desa. Skema TPST ini menuntut pola hidup baru. Sampah wajib dipilah, diolah, dan dikurangi volumenya sejak dari rumah.
Jika warga di hulu sudah disiplin memilah, maka yang diangkut ke Tlekung hanya tinggal ampasnya saja. Residu akhir. Dampak ekonominya dahsyat. Volume sampah yang ditimbun di lahan pembuangan langsung anjlok signifikan. Imbasnya, usia pakai lahan TPA milik Pemkot Batu bisa diperpanjang bertahun-tahun lagi. Emoh overload cepat-cepat.
“Sistem tersebut mencakup peningkatan pemilahan sampah dari sumbernya, baik di tingkat rumah tangga maupun desa,” jelas Dian.
Siasat modern ini sekaligus menjadi jawaban atas jeritan warga sekitar Tlekung yang selama ini kenyang memprotes bau menyengat dan pencemaran air.
Lewat penguatan sistem baru ini, DLH ingin mengubah cara pandang masyarakat. Sampah jangan lagi dilihat sebagai musuh atau barang buangan tak berguna. Sampah adalah sumber daya ekonomi baru. Ada nilai duitnya jika dikelola dengan benar, baik lewat jalur daur ulang maupun pengolahan lanjutan menjadi kompos atau energi.
Bagi kota sekelas Batu, urusan kebersihan lingkungan ini taruhannya sangat mahal. Ini bukan sekadar urusan pelayanan publik biasa di atas kertas dinas. Ini adalah urusan menjaga kualitas udara, kemurnian air bawah tanah, dan keindahan wajah kota di mata jutaan wisatawan yang datang berlibur.
Peta jalan baru sudah dihamparkan oleh Dian Fachroni lewat proyek LSDP. Kini bola ada di tangan kita semua: berani atau tidak kita mulai memilah sampah dari dapur sendiri demi menjaga marwah keindahan Bumi Arema. Mari kita mulai dari rumah masing-masing! (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




