MALANG POST – Universitas Negeri Malang (UM), terus melakukan riset dan inovasi sebagai upaya menghadirkan solusi terhadap permasalahan ditengah masyarakat. Salah satunya mendorong pemanfaatan limbah tuna di Kabupaten Pacitan menjadi produk kolagen bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi ini membuka peluang lahirnya industri baru berbasis sumber daya laut sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Selama ini, limbah tuna seperti duri, tulang, dan kulit ikan masih belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang dibutuhkan industri pangan, kosmetik dan farmasi.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi UM, Zahra Firdaus, mendorong pemanfaatan limbah tuna melalui pendekatan bioprospeksi.
Pendekatan ini berfokus pada eksplorasi sumber daya hayati untuk menghasilkan produk bernilai tambah, termasuk kolagen yang banyak digunakan dalam industri pangan, kosmetik dan farmasi.
Bersama rekan peneliti dan dosen pembimbing, Zahra melakukan kajian laboratorium untuk mengidentifikasi kandungan kolagen pada limbah duri tuna. Penelitian tersebut tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan model pengolahan sederhana yang dapat diterapkan oleh pelaku UMKM di Pacitan.
Pemanfaatan limbah tuna menjadi kolagen dinilai memiliki sejumlah manfaat strategis. Selain mengurangi volume limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, inovasi ini juga mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan. Dengan demikian, pelaku UMKM tidak hanya memperoleh keuntungan dari produk utama, tetapi juga dari hasil samping yang sebelumnya terbuang.
Kolagen berbasis ikan juga memiliki prospek pasar yang menjanjikan. Produk ini dinilai lebih ramah lingkungan serta sesuai dengan kebutuhan konsumen yang mencari bahan baku halal dan berkelanjutan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi masyarakat pesisir untuk mengembangkan usaha baru berbasis pengolahan limbah perikanan.
Proses pengolahan duri tuna menjadi kolagen dilakukan melalui beberapa tahapan. Mulai dari pembersihan bahan baku, penghilangan lemak dan mineral, ekstraksi kolagen hingga pengeringan menjadi serbuk.
Dalam pengembangannya, UM berperan tidak hanya sebagai pusat penelitian, tetapi juga sebagai fasilitator transfer teknologi, penyusun standar proses produksi, serta pendamping masyarakat dalam penerapan inovasi.
Salah satu pelaku usaha tahu tuna di Pacitan, Ibu Sari, mengakui bahwa limbah duri tuna selalu dihasilkan setiap hari selama proses produksi berlangsung.
“Setiap hari produksi pasti menghasilkan sisa duri dan bagian ikan lainnya. Selama ini kami hanya memisahkan dari daging yang akan diolah, tetapi belum ada pemanfaatan lebih lanjut karena fokus kami masih pada kualitas produk utama,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi menjadi langkah penting untuk membantu UMKM memahami potensi ekonomi dari limbah yang selama ini belum tersentuh.
“Kalau memang ada pendampingan dari kampus seperti UM, tentu ini sangat membantu. Kami jadi lebih paham bagaimana cara mengelola limbah dengan benar, dan mungkin ke depan bisa ikut merasakan manfaat ekonominya,” katanya.
Ibu Sari berharap kolaborasi antara UMKM, perguruan tinggi, dan pemerintah dapat terus diperkuat agar hasil penelitian benar-benar diterapkan di masyarakat.
“Kami berharap ini tidak hanya menjadi penelitian saja, tetapi benar-benar bisa diterapkan. Kalau ada mahasiswa yang turun langsung mendampingi, kami tentu lebih siap untuk mencoba,” tambahnya.
Pengembangan kolagen dari limbah tuna sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan seluruh bagian ikan untuk menghasilkan nilai tambah tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat daya saing daerah melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.
Lebih jauh, program tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penciptaan peluang usaha baru, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah secara optimal, SDG 14 tentang Ekosistem Laut melalui pengurangan pencemaran pesisir, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah.
Melalui riset terapan, pendampingan UMKM, dan kerja sama multipihak, inovasi pengolahan limbah tuna menjadi kolagen berpotensi memperkuat posisi Pacitan sebagai pusat industri olahan laut berkelanjutan. Tidak hanya dikenal melalui produk tahu tuna, Pacitan juga memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai sentra produk turunan tuna berbasis riset dan bioteknologi.
Dari pesisir selatan Jawa, inisiatif ini menunjukkan bahwa limbah bukan lagi sekadar sisa produksi. Dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan kolaborasi yang tepat, limbah tuna dapat berubah menjadi sumber ekonomi baru yang mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




