MALANG POST – Di tengah gempuran modernisasi ritel, warung kelontong tradisional tetap berdiri kukuh sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Berangkat dari kepedulian terhadap eksistensi usaha mikro tersebut, kolaborasi inovatif mahasiswa (FILKOM) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) berhasil lolos dan meraih pendanaan bergengsi dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Tahun 2026.
Keberhasilan ini menjadi pembuktian nyata kualitas riset dibidang kewirausahaan dan teknologi informasi mahasiswa UB di Tingkat Nasional.
Stoqin dirancang sebagai aplikasi all-in-one mobile marketplace grosir dan kasir digital yang terintegrasi dengan analisis penjualan berbasis Artificial Intelligence (AI).
Mengusung jargon “Kelola Warung Jadi Mudah, Belanja Stok Lebih Murah”, platform ini hadir untuk memodernisasi manajemen stok pintar bagi pelaku usaha ritel mikro.
“Stoqin memiliki visi untuk menjadi platform digital terdepan yang memberdayakan jutaan warung kelontong tradisional di Indonesia agar lebih efisien, menguntungkan, dan berkelanjutan di era ekonomi digital,” ujar Johan Arizona, mahasiswa Teknologi Informasi FILKOM 2023 selaku Founder Stoqin.
Lahirnya Stoqin dilatarbelakangi oleh fakta bahwa terdapat sekitar 3,94 juta unit warung kelontong di Indonesia. Sayangnya, mayoritas masih dikelola secara manual. Melalui fitur Point of Sale (POS) berbasis smartphone, pemilik warung kini dapat melakukan pencatatan transaksi, otomatisasi stok, hingga terhubung langsung dengan distributor grosir.

Kekuatan utama Stoqin terletak pada ramuan kolaborasi lintas disiplin yang harmonis. Sektor teknologi, pengembangan sistem, serta aspek User Interface/User Experience (UI/UX) dikawal oleh mahasiswa Departemen Teknologi Informasi FILKOM UB angkatan 2023, yaitu Johan Arizona, Dimas Yoga Pratama, dan Muhammad Rizqullah Almadinah.
Sementara pada ekosistem bisnis, strategi operasional, dan pengelolaan finansial diperkuat oleh mahasiswi Akuntansi FEB, Nafi Satul Fuadhah (2024) dan Syarmi Ayesha Putri Samira (2025).
Tim Stoqin juga mendapatkan pendampingan dan arahan dari Dr. Okta Purnawirawan, S.Pd., M.Pd., Gr., selaku dosen pembimbing yang turut berperan dalam mengarahkan pengembangan ide, penyusunan proposal bisnis, hingga pematangan strategi pengembangan startup.
Okta mengungkapkan rasa bangganya atas inisiatif tinggi yang ditunjukkan oleh tim kolaborasi lintas fakultas ini. Menurutnya, potensi produk yang digarap sudah memiliki fondasi yang kuat sejak awal.
Prestasi gemilang ini bukan sekadar torehan angka di atas kertas, melainkan wujud nyata kontribusi aktif Universitas Brawijaya (UB) dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dunia.
Melalui inovasi Stoqin, sivitas akademika UB menyentuh tiga pilar krusial sekaligus, yaitu SDGsO8 Decent Work and Economic Growth, SDGs09 Industry, Innovation and Infrastructure, serta SDGs11 Sustainable Cities and Communities.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




