MALANG POST – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu, resmi menyiapkan regulasi ketat dan pengawasan berlapis, untuk menjamin kesehatan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Senin (18/5/2026).
Langkah taktis ini diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan keliling (sidak) secara acak, di seluruh peternakan dan lapak musiman, pengetatan lalu lintas ternak, hingga penerbitan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) oleh otoritas veteriner setempat.
Urusan isi perut dan ibadah rakyat tidak boleh main-main. Iduladha segera tiba. Lapak-lapak kambing dan sapi mulai menjamur di pinggir jalan Kota Batu.
Pemerintah tidak mau kecolongan. Mereka tidak ingin penyakit ternak menyelinap di antara riuhnya transaksi kurban.
Kepala Distan KP Kota Batu, Hendry Suseno, sudah memegang cetak biru pergerakan pasukannya. Skemanya jelas. Hitung mundur sudah dimulai.
“Sekitar 10 hari sebelum Iduladha kami akan melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus pendataan hewan ternak kurban yang dijual, baik di lapak penjualan maupun di peternakan,” ujar Hendry Suseno, Senin (18/5/2026).
Pagar Betis 10 Ribu Dosis Vaksin
Pemeriksaan acak di lapak itu sebenarnya hanya urusan hilir. Di hulu, Distan KP sudah curi start sejak awal tahun. Mereka sudah memasang benteng pertahanan yang kokoh.

Foto ilustrasi pemeriksaan hewan kurban di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Tengok saja datanya: sepanjang Februari hingga April 2026 kemarin, jarum suntik petugas sudah bekerja keras. Sebanyak 10 ribu dosis vaksin telah disuntikkan ke tubuh sapi, kambing, dan domba di seluruh penjuru Kota Batu.
Targetnya satu: menjinakkan hantu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Penyakit ini sempat menjadi momok menakutkan bagi para peternak beberapa tahun lalu. Menghancurkan ekonomi rakyat dalam sekejap. Pemerintah emoh tragedi itu berulang.
“Tim kesehatan hewan telah melaksanakan vaksinasi PMK terhadap ternak sejak awal tahun sebagai langkah pencegahan menjelang Iduladha,” jelas Hendry.
Logika pencegahannya berlapis. Selain imun ternak dikuatkan lewat vaksin, pintu gerbang keluar-masuk Kota Batu juga dijaga ketat. Sapi atau kambing dari luar daerah tidak bisa melenggang kangkung begitu saja masuk ke kota wisata ini.
Ada syarat mutlak: wajib mengantongi SKKH. Surat ini adalah paspor bagi ternak. Dikeluarkan oleh otoritas veteriner daerah asal setelah melalui pemeriksaan klinis yang ketat. Tanpa surat itu? Silakan putar balik.
Gotong Royong Sipil hingga Kampus
Menariknya, pengawasan tahun ini tidak hanya mengandalkan pundak PNS atau petugas dinas yang jumlahnya terbatas. Hendry tahu cara menggalang kekuatan publik.
Distan KP membangun koalisi besar. Mereka menggandeng Dewan Masjid, Kementerian Agama, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI). Aspek syariat dikunci. Higienitas dijaga.
Bukan itu saja. Sektor akademis pun ikut ditarik ke lapangan. Kampus dilibatkan. Pasukan mahasiswa dari fakultas kedokteran hewan diterjunkan ke titik-titik penjualan.
Bagi mahasiswa, ini adalah laboratorium riil. Bagi pemerintah, ini adalah tambahan tenaga gratis yang sangat berharga untuk mempercepat pendataan dan pemeriksaan fisik ternak secara detail—mulai dari cek gigi, suhu tubuh, hingga kesehatan kuku dan mulut.
Iduladha di Kota Batu tahun ini tampaknya bakal berjalan di atas rel yang aman. Rakyat bisa membeli hewan kurban dengan hati tenang, peternak terlindungi, dan para konsumen mendapatkan daging yang benar-benar bersih, sehat, dan bebas dari penyakit menular. Sebuah seni kolaborasi pertahanan pangan kota yang patut ditiru. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




