PANEM MELON: Bersama Ketua TP PKK, Bupati Malang tampak memanen melon jenis Golden Melon di green house di Sumberoto. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, H M. Sanusi, memimpin langsung jalannya dua agenda panen komoditas unggulan berbasis teknologi rumah kaca (green house) di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, pada Senin siang (18/5/2026).
Langkah strategis ini, menandai keberhasilan integrasi ekonomi pesisir Malang Selatan. Kelompok Sumberoto Makmur Sejahtera, sukses memanen 8 ton garam tunnel premium per bulan di kawasan Pantai Modangan.
Sementara Dana Mulia Farm (DMF), memulai panen perdana melon hidroponik varietas golden yang siap menembus pasar ekspor Singapura dan Hongkong.
Desa Sumberoto ini unik. Letaknya di ujung selatan Kabupaten Malang. Berbatasan langsung dengan deburan ombak Samudra Hindia. Dulu, kawasan ini diidentikkan dengan lahan kering yang keras.
Sekarang? Tidak lagi. Sumberoto sedang bersolek menjadi laboratorium pertanian dan perikanan modern yang seksi.
Kuncinya ada dua: inovasi teknologi dan ketekunan melihat celah pasar. Rakyat di sana tidak lagi menanti kebaikan cuaca. Mereka menjinakkan alam menggunakan teknologi green house berangka tertutup plastik Ultra Violet (UV).
Kalkulasi Cerdas dari Pinggir Pantai Modangan
Abah Sanusi—sapaan akrab Bupati Malang—dibuat geleng-geleng kepala saat menginjakkan kaki di area ladang garam dekat Pantai Modangan. Di sana, air laut tidak lagi dialirkan ke tanah lapang berdebu. Air laut disuling, dialirkan ke dalam lorong-lorong plastik tertutup.
Teknologinya mentereng. Para petani menerapkan metode Greenhouse Salt Tunnel (GST) dan Continuously Dynamic Mixing (CDM).
Hasilnya mengagumkan. Garam yang lahir dari perut lorong plastik ini warnanya sangat putih, bersih, dan berkilau. Kadar NaCl-nya menembus angka di atas 95 persen. Ini bukan lagi garam konsumsi biasa. Ini garam spesifikasi industri.

PANEN GARAM: Bupati Malang, HM Sanusi, ketika memimpin langsung panen garam tunnel premium di kawasan Pantai Modangan. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
Mari kita masuk ke dalam kalkulasi bisnisnya. Abah Sanusi selalu menyukai angka yang produktif.
“Di sini produksi garam tunnelnya sudah berkembang pesat. Dari awalnya hanya 1 hingga 2 ton, saat ini per bulan sudah mencapai 8 ton,” ujar Abah Sanusi dengan mata berbinar.
Harganya pun ikut terdongkrak naik. Dulu, garam curah tradisional hanya dihargai Rp1.500 per kilogram. Sekarang, karena kualitasnya premium, pembeli berebut di angka Rp3.000 per kilogram.
Maka, hitung-hitungan di atas kertas menjadi sangat indah:
- Omset Produksi: 8.000 kg x Rp3.000 = Rp24.000.000 per bulan.
- Biaya Operasional: Hanya kisaran Rp4.000.000 saja.
- Keuntungan Bersih: Rp20.000.000 per bulan masuk kantong kelompok tani.
Pasar luar daerah bahkan sudah mengantre. Berapapun jumlah produksi yang dihasilkan dari pesisir Modangan ini, pasar siap menelan semuanya.
Mengetahui potensi raksasa ini, Pemkab Malang yang sebelumnya sudah mengucurkan hibah 32 unit green house tunnel—ditambah 10 unit dari dana APBN—berjanji akan melipatgandakan bantuan fasilitas ini pada tahun depan.
Melon Hidroponik yang Melompati Batas Negara
Belum habis kekaguman di ladang garam, Abah Sanusi bersama Ketua TP PKK Kabupaten Malang, Hj. Anis Zaidah, bergeser ke area Dana Mulia Farm (DMF). Lokasinya masih di Desa Sumberoto.
Di sana, pemandangannya berbeda lagi. Ada 10 unit green house raksasa berukuran masing-masing 10×30 meter. Isinya adalah ribuan batang tanaman melon yang bergelantungan rapi dengan sistem hidroponik.
Senin siang itu, buahnya sudah menguning sempurna. Jenisnya golden melon. Kulitnya mulus tanpa cacat.
Secara simbolis, Abah Sanusi mengambil gunting. Krek. Pangkal buah dipotong. Menandai panen perdana setelah tanaman dirawat dengan presisi selama 100 hari kalender.
“Tentu saja kami mendukung penuh program budidaya melon menuju swasembada ketahanan pangan. Hasil produksinya sangat bagus dan pasarnya sangat menjanjikan,” tegas Sanusi.
Kualitas melon dari Dana Mulia Farm ini bukan kaleng-kaleng. Standarnya sudah standar supermarket internasional.
Maka wajar, jika pasar dalam negeri dirasa terlalu sempit. Pihak manajemen DMF kini tengah bersiap mengirimkan truk-truk kontainer berisi melon golden ini langsung ke Singapura dan Hongkong.
Donomulyo yang dulu kering, kini berhasil membuktikan bahwa dengan sentuhan teknologi green house, air asin bisa diubah menjadi rupiah yang gurih, dan lahan gersang bisa melahirkan buah manis kelas dunia.
Kebijakan bupati untuk memperbanyak rumah kaca di Malang Selatan tampaknya bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah kebutuhan mutlak demi kemandirian ekonomi rakyat. (PKP/Ra Indrata)




