PETIK STROBERI: Wisatawan saat mengunjungi wisata petik stroberi di Desa Wisata Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Pengembangan desa wisata di Kota Batu terus diarahkan agar semakin adaptif dengan tren pariwisata baru. Pemkot Batu mulai merumuskan langkah percepatan yang tidak hanya berfokus pada destinasi, tetapi juga penguatan kelembagaan, digitalisasi promosi, hingga pengembangan sport tourism.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto menegaskan, desa wisata memiliki posisi penting dalam ekosistem pariwisata Kota Batu. Keberadaannya tidak hanya menjadi pelengkap destinasi utama, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak kunjungan wisata berbasis potensi desa.
Menurut Heli, pengelolaan desa wisata harus terus beradaptasi dengan perkembangan sektor pariwisata. Selain promosi destinasi, aspek keberlanjutan lingkungan juga harus menjadi perhatian utama.
“Desa wisata harus mampu menjadi penggerak pariwisata yang berkelanjutan. Tidak hanya mempromosikan potensi desa, tetapi juga memastikan pengelolaan lingkungan berjalan baik, termasuk edukasi pengelolaan sampah dan konservasi alam,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Upaya menjaga keberlanjutan tersebut dinilai penting, karena sebagian besar desa wisata di Kota Batu bertumpu pada kekuatan lanskap alam dan aktivitas wisata berbasis lingkungan. Tanpa pengelolaan yang baik, potensi tersebut justru bisa terancam.
Di sisi lain, Pemkot Batu juga mendorong pengembangan sport tourism sebagai salah satu daya tarik baru bagi desa wisata. Potensi bentang alam pegunungan dan pedesaan di Kota Batu dinilai sangat mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga berbasis rekreasi.
Mulai dari kegiatan lari lintas alam, bersepeda, hingga berbagai aktivitas outdoor dinilai memiliki peluang besar untuk menarik kunjungan wisatawan. Karena itu, potensi tersebut mulai dipetakan agar dapat dikembangkan secara terarah.

PERTEMUAN: Fordewi Kota Batu saat melakukan pertemuan dengan Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto dan Dinas Pariwisata Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto menambahkan, bahwa penguatan desa wisata tidak hanya menyentuh aspek destinasi, tetapi juga kelembagaan organisasi yang menaungi pengelola desa wisata, yakni Forum Desa Wisata (Fordewi).
Ia menyebut, dalam waktu dekat kepengurusan Fordewi yang baru akan segera ditetapkan. Masa kepengurusan sebelumnya telah berakhir sehingga diperlukan struktur organisasi yang definitif agar program pengembangan desa wisata dapat berjalan lebih optimal.
“Keberadaan kepengurusan yang definitif penting agar koordinasi program pengembangan desa wisata bisa berjalan lebih efektif,” jelasnya.
Selain penguatan kelembagaan, Pemkot Batu juga menyiapkan langkah strategis dalam bidang promosi. Promosi desa wisata tidak hanya difokuskan di tingkat lokal, tetapi juga diperluas hingga skala regional dan nasional.
Salah satu program yang tengah disiapkan adalah pembuatan bank konten (content bank) bersama pengelola desa wisata. Program ini bertujuan menyediakan materi promosi visual berkualitas tinggi yang dapat digunakan secara bersama.
Melalui program tersebut, setiap desa wisata akan memiliki dokumentasi foto dan video profesional, termasuk pengambilan gambar menggunakan drone. Konten tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk promosi di media sosial, situs resmi pemerintah, maupun berbagai kanal promosi lainnya.
“Setiap desa wisata akan memiliki materi promosi yang kuat. Konten visual ini penting untuk meningkatkan daya tarik promosi di era digital,” terang Onny.
Tak hanya promosi digital, pengelola desa wisata juga didorong untuk mulai mengelola data wisatawan secara lebih sistematis. Data tersebut dinilai penting untuk menyusun strategi promosi yang lebih tepat sasaran.
Beberapa data yang perlu dihimpun antara lain asal daerah wisatawan, lama tinggal, hingga pola pengeluaran selama berada di desa wisata. Dengan basis data yang lebih akurat, strategi pengembangan wisata dapat dirancang secara lebih terarah.
“Kalau kita memiliki data yang jelas, promosi bisa dilakukan lebih efektif. Kita bisa tahu segmen pasar yang datang dan bagaimana strategi menarik mereka kembali,” tutupnya. (Ananto Wibowo)




