Armada Trans Jatim di Malang Raya saat diluncurkan pada 21 November 2025. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST -Dinilai sukses menjadi kendaraan umum massal dan membantu kurangi kendaraan pribadi, terutama saat longsor weekend (libur) panjang, Walikota Malang, Wahyu Hidayat, mengusulkan ke Gubernur Jatim agar bus Trans Jatim di Malang Raya ditambah.
Wahyu mengusulkan penambahannya dua atau tiga koridor, guna memperkuat konektivitas di wilayah Malang Raya. Yaitu, Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang.
Dikatakan Wahyu, kebutuhan transportasi massal lintas daerah semakin penting karena pergerakan masyarakat tidak hanya terjadi di dalam Kota Malang, tetapi juga melibatkan Kota Batu dan Kabupaten Malang.
“Saya minta ada dua atau tiga koridor tambahan. Karena pergerakan masyarakat itu tidak hanya di dalam kota, tetapi juga dari luar daerah,” kata Wahyu seusai sidang paripurna di DPRD Kota Malang, kemarin lalu.
Ia mencontohkan kawasan strategis seperti Alun-alun dan Kayutangan yang banyak dikunjungi masyarakat dari luar Kota Malang, sehingga membutuhkan dukungan transportasi publik yang terintegrasi.
“Saya pernah bertanya ke beberapa pengunjung Alun-alun Merdeka dan Kayutangan, demikian juga dari laporan, mereka banyak juga yang datang dari daerah di luar Kota Malang. Pergerakan di kawasan itu banyak dari luar kota, jadi perlu konektivitas yang lebih baik,” jelasnya.
Wahyu Hidayat menilai, layanan transportasi berbasis koridor antarwilayah seperti Trans Jatim terbukti lebih efektif dibandingkan konsep Buy The Service (BTS) dalam kota. “Waktu saya masih menjabat Pj (penjabat walikota-red), BTS dalam kota kurang optimal,” paparnya.
Wahyu mengusulkan sejumlah rute strategis yang dapat menghubungkan pusat-pusat mobilitas di Malang Raya, seperti Terminal Arjosari, Bandara Abdul Rachman Saleh, Kepanjen, sampai Kota Batu.
“Misalnya dari Arjosari ke bandara, ke Kota Malang, ke Kepanjen, sampai Batu. Atau dari Terminal Hamid Rusdi ke Singosari, bahkan sampai Lawang” papar Wahyu Hidayat.
Ia menilai keberadaan bus Trans Jatim mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, terutama saat momen libur Natal dan Tahun Baru 2026 lalu. “Trans Jatim kemarin saat Nataru sangat membantu, banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi,” ujar Wahyu.
Ia menambahkan, saat ini jumlah armada bus masih dinilai cukup, sehingga fokus utama adalah perluasan jaringan koridor. Wahyu Hidayat juga menegaskan bahwa pengembangan transportasi ini tidak membebani APBD Kota Malang, karena didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Seperti diketahui, 21 November 2025 sebagai titik awal diluncurkannya bus Trans Jatim bernama Gajayana untuk Malang Raya. Bus ini melayani rute Terminal Hamid Rusdi – TeTerminaMadyopuro-Kayutangan-Jalsn Ijen-Jl Bandung-Terminal Landungsari – Dau-Terminal Batu.
Nama “Gajayana” diambil dari Raja Kerajaan Kanjuruhan yang membawa kerajaannya mencapai puncak kejayaan. Pemilihan nama ini juga diberi makna baru sebagai akronim “Gerbang Akses Transportasi Jawa Timur yang Andal dan Nyaman”.
Untuk Koridor 1 Malang Raya, disiapkan 14 armada operasional dan 1 armada cadangan. Seluruh unit menggunakan warna biru khas Malang Raya, sekaligus menegaskan kedekatannya dengan identitas Aremania.
Untuk jalur yang dilewati, Koridor 1 Malang Raya yang akan dilalui oleh bus Gajayana menghubungkan tiga terminal tipe B yang berada di bawah kewenangan Pemprov Jawa Timur. Yaitu, Terminal Hamid Rusdi, Terminal Landungsari, dan Terminal Batu. Dengan jalur ini, pemerintah ingin terminal-terminal tersebut kembali menjadi pusat aktivitas penumpang dan ekonomi lokal.
Ada 62 shelter dan rambu stop bus yang disiapkan di sepanjang rute demi memastikan pemerataan akses bagi masyarakat. Sementara untuk jam operasional layanan, bus beroperasi setiap hari pukul 04.00–22.00 WIB. Tarif dari Trans Jatim Koridor 1 Malang yakni Rp 5.000 untuk penumpang umum dan Rp 2.500 untuk pelajar, santri, dan mahasiswa. Saat ini bus Trans Jatim menjadi transportasi umum yang diminati masyarakat di Malang Raya.(Eka Nurcahyo)




