MALANG POST – Hari Raya Idul Fitri, yang sering dikenal dengan lebaran, adalah momen istimewa yang ditunggu setiap tahun. Selain sebagai waktu untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, Lebaran juga menjadi ajang berkumpul dengan keluarga besar, teman, dan saudara yang mungkin sudah lama tidak bertemu.
Suasana kebahagiaan dan kehangatan memenuhi setiap rumah melalui tradisi-tradisi seperti saling bermaaf-maafan, memberikan angpao, serta menikmati hidangan khas yang hanya ada pada hari istimewa ini.
Lebaran juga menjadi waktu untuk mempererat silaturahmi, memperkuat ikatan keluarga, dan menyatukan hati dalam kebahagiaan meski dengan perbedaan. Dengan makna yang mendalam, Idul Fitri menjadi simbol kemenangan, kedamaian, dan harapan baru bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Namun, belakangan ini makna Lebaran tampaknya mulai bergeser. Tidak lagi hanya tentang berbagi kebahagiaan dan bermaaf-maafan, melainkan juga menjadi ajang untuk menunjukkan pencapaian dan status sosial. Ada kecenderungan menjadikan momen ini sebagai ajang pamer pencapaian pribadi.
Tidak jarang kita mendengar pertanyaan seperti, “Sudah punya rumah?”, “Mobilnya apa sekarang?”, atau “Anakmu sekolah di mana?”, yang mengarah pada pengukuran keberhasilan materi. Bagi yang merantau, momen mudik sering kali menjadi kesempatan untuk menunjukkan apakah status kehidupan sudah sesuai ekspektasi keluarga besar.
Tentu saja, tidak ada yang salah dengan merayakan pencapaian atau kebahagiaan pribadi. Namun, ada baiknya kita menyadari bahwa Lebaran seharusnya tidak menjadi ajang pamer atau gengsi antar anggota keluarga.
Sebaliknya, tujuan utama perayaan ini adalah menjalin kembali tali silaturahmi, mempererat hubungan yang sempat renggang, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Kekuatan kebersamaan dan saling memaafkan adalah inti Lebaran, dan itu perlu dijaga.
Nilai hedonisme yang mengarah pada kebanggaan atas kepemilikan material seperti rumah, mobil, atau jabatan memang sering menghiasi percakapan di meja makan atau ruang diskusi keluarga besar. Jika dibiarkan berkembang, suasana Lebaran yang hangat bisa berubah menjadi ajang uji gengsi dan bahkan rivalitas dalam keluarga. Perasaan tidak enak atau cemburu bisa muncul, yang seharusnya tidak terjadi dalam suasana penuh kebahagiaan seperti ini.
Oleh karena itu, penting bagi kita mengendalikan sikap hedonis tersebut dan menjadikan Lebaran waktu untuk introspeksi diri serta berbagi kebaikan. Membiarkan Lebaran menjadi lebih dari sekadar pamer kesuksesan pribadi akan memperkaya makna perayaan ini.
Lebaran seharusnya menjadi momen yang lebih bermakna, di mana keluarga besar dapat merayakan kebersamaan tanpa beban sosial atau kompetisi. Mengendalikan ekspektasi sosial dan lebih fokus pada tujuan utama, yaitu silaturahmi, akan membawa kebahagiaan tulus dan berkesan.
Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi, memperbaiki hubungan yang rusak, serta saling memaafkan tanpa dibebani norma atau standar material. Inilah esensi sesungguhnya Hari Raya Idul Fitri. (***)




