Elyta Yoja Novita Syafara, mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Negeri Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST –Membanggakan, mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Negeri Malang (UM), Elyta Yoja Novita Syafara, berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional Indonesia Youth Excursion Network (IYEN) 2026 yang berlangsung di Malaysia-Singapura.
Bersama timnya, mahasiswa angkatan 2025 tersebut meraih empat penghargaan sekaligus di ajang internasional yang digelar pada Senin-Kamis (18-21 Mei 2026) itu, yakni 2nd Best Innovation Project, 1st Best Video Innovation, 2nd Best Presentation Project dan predikat Best Team.
Prestasi ini tidak hanya menjadi capaian personal bagi Elyta dan timnya, tetapi juga mempertegas kapasitas mahasiswa UM dalam menghasilkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat global.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan melalui gagasan kreatif dan kolaboratif.
Bagi Elyta, kompetisi internasional bukan semata-mata ajang meraih penghargaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan kompetensi akademik, memperluas perspektif global, serta membangun jejaring dengan peserta dari berbagai negara.
Pengalaman tersebut dinilai penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja dan persaingan global yang semakin dinamis.
“Saya tertarik mengikuti kompetisi ini karena memberikan kesempatan untuk menguji kemampuan, memperluas wawasan global, serta berinteraksi dengan peserta dari berbagai latar belakang. Selain itu, kompetisi ini juga melatih pengembangan inovasi para pemuda dalam perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs),” ujar Elyta.
Partisipasi Elyta dalam IYEN 2026 juga sejalan dengan komitmen mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan dan pengembangan kompetensi generasi muda.

Elyta (paling kiri) bersama timnya meraih empat penghargaan internasional sekaligus. (Foto: Istimewa)
Termasuk juga SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi lintas negara dan budaya.
Di balik pencapaian tersebut, terdapat proses persiapan yang matang. Elyta mengungkapkan bahwa dirinya bersama tim melakukan persiapan selama kurang lebih satu bulan sebelum kompetisi berlangsung.
Berbagai kegiatan dilakukan secara intensif, mulai dari pendalaman materi, penyusunan proyek inovasi, latihan presentasi, hingga diskusi rutin melalui platform daring untuk menyempurnakan gagasan yang diusung.
Tahapan seleksi yang harus dilalui peserta juga berlangsung ketat. Proses diawali dengan pendaftaran dan pengumpulan dokumen sesuai ketentuan penyelenggara.
Selanjutnya, peserta mengikuti sejumlah tahapan penilaian, mulai dari seleksi administrasi hingga focus group discussion (FGD) yang menjadi salah satu penentu kelolosan menuju tahap berikutnya.
Dalam perjalanannya, Elyta menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam membagi waktu antara perkuliahan, kegiatan organisasi, dan persiapan kompetisi.
Selain itu, ia bersama tim dituntut untuk terus menyempurnakan kualitas inovasi agar mampu bersaing dengan peserta dari berbagai negara yang memiliki latar belakang dan keunggulan masing-masing.
Meski demikian, tantangan tersebut justru menjadi proses pembelajaran yang berharga. Elyta mengaku memperoleh pengalaman dalam mengelola waktu, meningkatkan kemampuan komunikasi, memperkuat kerja sama tim, serta membangun konsistensi dalam mencapai target.
Kompetensi tersebut menjadi nilai tambah yang bermanfaat tidak hanya selama kompetisi, tetapi juga untuk pengembangan akademik dan karier di masa depan.
Menurut Elyta, mahasiswa yang ingin berprestasi di tingkat internasional perlu memiliki kemauan belajar yang tinggi, disiplin, kemampuan beradaptasi, serta kepercayaan diri.
Selain itu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan penguasaan bahasa asing menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan global.
Keberhasilan yang diraih Elyta diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mengambil peluang dan mengembangkan potensi melalui berbagai kompetisi internasional.
“Saya berharap semakin banyak mahasiswa UM yang berani mencoba, keluar dari zona nyaman, dan memanfaatkan berbagai peluang kompetisi internasional.”
“Dengan persiapan yang matang, semangat belajar yang kuat, serta dukungan dari kampus, saya yakin mahasiswa UM mampu menunjukkan prestasi dan mengharumkan nama universitas di tingkat dunia,” tuturnya.
Capaian Elyta menjadi bukti bahwa semangat belajar, kerja keras, dan keberanian berinovasi mampu membuka jalan menuju prestasi internasional.
Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif, keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan yang berkontribusi dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan melalui inovasi dan kolaborasi lintas negara. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




