Sesi foto bersama para guru SMK Negeri 5 Kota Malang. (Foto: Itimewa)
MALANG POST – Tim Pengabdian Masyarakat Laboratorium Rekayasa Perangkat Lunak Filkom Universitas Brawijaya menggelar pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan bagi 60 guru SMKN 5 Kota Malang, Jumat (2/10/2026), guna mengoptimalkan penyusunan modul ajar digital, penyusunan prompt, dan instrumen evaluasi pembelajaran.
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB) membekali 60 guru SMK Negeri 5 Kota Malang dengan keterampilan mengoperasikan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengakselerasi kualitas pembelajaran vokasi. Pelatihan yang digelar pada Jumat (2/10/2026) ini merupakan perwujudan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Laboratorium Rekayasa Perangkat Lunak (LAB RPL) Filkom UB.
Kegiatan ini dipimpin oleh tim dosen pelaksana PKM yang terdiri atas Dr. Achmad Arwan, S.Kom., M.Kom., Ir. Nurudin Santoso, S.T., M.T., dan Bayu Priyambadha, S.Kom., M.Kom., Ph.D. Pelaksanaan pelatihan didukung oleh tim asisten mahasiswa LAB RPL, yakni Hanifah Nur Mawaddah dan Mohammad Geisar Rampan.
Pelatihan dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas teknis para guru dalam merancang instruksi presisi (prompt engineering), mengonstruksi materi ajar interaktif, hingga menyusun instrumen soal evaluasi berbasis AI.
Penguatan Literasi Digital
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi, seremonial pembukaan, pengerjaan tes awal (pre-test), dan sesi foto bersama. Pre-test difungsikan untuk memetakan pemahaman awal para peserta mengenai konsep dasar AI.
Sesi pertama diisi oleh Nurudin Santoso yang memaparkan materi fundamental penggunaan AI serta teknik perancangan prompt. Peserta diberi penekanan mengenai krusialnya literasi digital, terutama ketaatan dalam menyaring informasi, membedakan misinformasi dan disinformasi, serta menguji validitas sumber data.

PEMATERI: Achmad Arwan saat menjelaskan materi prompt engineering. (Foto: Istimewa)
Kemampuan mitigasi ini menjadi fondasi utama agar para pendidik tidak menelan mentah-mentah luaran AI, melainkan mampu melakukan verifikasi ketepatan materi sebelum diimplementasikan di ruang kelas.
Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan formula 4P, yakni Persona (peran), Perintah (tugas), Parameter (batasan), dan Penyajian (format output). Formula ini membantu guru merumuskan instruksi terstruktur sesuai kebutuhan kurikulum vokasi.
Praktik Menyusun Prompt dan Materi Ajar
Sesi berikutnya disampaikan oleh Achmad Arwan yang membedah modul prompt engineering, yakni seni merancang instruksi spesifik agar sistem AI menghasilkan keluaran yang akurat.
Peserta mendalami elemen Persona, Task, Context, dan Format. Selain itu, para guru dilatih menerapkan teknik pemahaman contoh (few-shot prompting), pemecahan tugas kompleks secara bertahap, serta penajaman hasil via instruksi lanjutan.
Pada sesi praktik, para guru berlatih melakukan penjelajahan ide (brainstorming) menggunakan platform AI untuk menyusun draf materi ajar yang selanjutnya dikonversi menjadi salindia presentasi. Peserta juga berlatih menyusun draf soal pilihan ganda untuk mengukur ranah kognitif tingkat C1 (mengingat) dan C2 (memahami) lengkap dengan kunci jawaban.
Kendati AI memberi kemudahan teknis, tim pengabdi menegaskan bahwa luaran mesin tetap wajib melalui proses peninjauan ulang (review) oleh guru guna memastikan keselarasan dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik.
Hasil Tes Menunjukkan Peningkatan
Usai sesi praktik, para peserta mengikuti tes akhir (post-test) selama 10–15 menit untuk mengukur tingkat pemahaman pascapelatihan.
Berdasarkan rekapitulasi 25 item pertanyaan, rata-rata persentase jawaban benar peserta mengalami kenaikan dari 69,93 persen pada pre-test menjadi 83,16 persen pada post-test, atau melonjak sebesar 13,23 poin persentase.
Peningkatan paling signifikan terlihat pada pemahaman mengenai halusinasi AI (AI hallucination)—kondisi ketika AI menyajikan data fiktif secara meyakinkan. Persentase jawaban benar pada aspek ini melesat dari 43,3 persen menjadi 76,7 persen.
Pemahaman mengenai mekanisme kerja sederhana AI generatif turut meningkat dari 50 persen menjadi 69,8 persen, sedangkan pemahaman definisi prompt engineering naik dari 71,7 persen menjadi 93 persen. Pada aspek etika dan keamanan digital, pemahaman terkait perlindungan data pribadi meningkat dari 86,7 persen menjadi 93 persen.
Namun, data statistik ini perlu ditinjau secara proporsional mengingat komposisi responden pre-test tercatat sebanyak 60 orang, sedangkan post-test diikuti 43 orang akibat kendala alokasi waktu peserta.
Dorong Pembelajaran Adaptif
Melalui kegiatan PKM ini, Filkom UB berharap jajaran pendidik SMKN 5 Kota Malang semakin terampil memanfaatkan AI secara bijak dan profesional. Pemanfaatan AI diproyeksikan dapat mengefisiensikan beban administratif guru tanpa mengikis peran sentral pendidik dalam mengawal proses mental dan etika belajar siswa. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




