Mahasiswa FTAB saat sosialisasi dan penyerahan inovasi mesin pencuci telur semi otomatis di UMKM Telur Asin 1001. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Kelompok 55 Program Mahasiswa Membangun Mitra FTAB Universitas Brawijaya mengimplementasikan alat pencuci telur semi otomatis bagi UMKM Telur Asin “1001” di Kelurahan Tunggulwulung, Lowokwaru, Kota Malang, Rabu (30/9/2026), untuk memodernisasi efisiensi serta higienitas proses produksi usaha.
Kelompok 55 Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menyerahkan dan mengimplementasikan alat pencuci telur semi otomatis kepada UMKM Telur Asin “1001” di Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Kegiatan ini merupakan wujud nyata penerapan teknologi tepat guna untuk membantu meningkatkan efisiensi dan higienitas proses produksi olahan telur asin. Penerapan inovasi mekanisasi tersebut dilatarbelakangi oleh proses pembersihan telur di UMKM mitra yang sebelumnya masih dilakukan secara manual menggunakan tangan dan spons cuci.
Proses konvensional tersebut menyita waktu serta menguras tenaga pekerja secara signifikan, terutama saat kapasitas produksi harian melonjak. Selain itu, kontak langsung tangan pekerja dengan air dan bahan pembersih secara berulang-ulang berpotensi memicu iritasi kulit.
Kelompok 55 ini beranggotakan Mochammad Danish Al Fachrudin, Nakata Tristan Akiko, Annisa Nurul Hidayah, Muhammad Naufal Abdalla, Kathleen Lauren Wahyudo, Laura Anabella Nalsalisa, Abiawan Dasa Abdinata, Natalia Clarisa Clara Belinda, Dwi Nur Rochman Satya Putra, Rheino Guizha Azzaro, Muhammad Ryan Wildan, Nabila Salsa Devanti, Muhammad Fathur Kanazakia, Keysa Alya Lestari Atmaja, dan Gerald Efraim Pangapul Rajagukguk, di bawah bimbingan dosen DPL Ubaidillah, S.TP., M.Si., serta Putri Setiani, S.T., M.E.S., Ph.D.
Tim mahasiswa menghadirkan satu unit instrumen pencuci telur semi otomatis yang diperoleh melalui jalur pengadaan resmi Program 3M FTAB UB dari mitra manufaktur AJ Bengkel. Alat ini dilengkapi dengan silinder sikat pemutar (roller brush) yang digerakkan oleh motor listrik presisi serta didukung oleh instalasi saluran sirkulasi air.
Silinder sikat tersebut berfungsi menggosok permukaan cangkang telur secara merata saat telur dialirkan melalui kompartemen pembersihan. Melalui sistem mekanis ini, beberapa butir telur dapat dibersihkan secara simultan sehingga waktu pemrosesan menjadi jauh lebih cepat dan praktis.
Berdasarkan rancangan teknis, unit mesin ini memiliki kapasitas pembersihan hingga 10 butir telur per siklus (batch) dengan estimasi durasi pencucian sekitar 3–4 menit per siklus.
Rangkaian alur implementasi dilaksanakan melalui beberapa tahapan sistematis, mulai dari survei pendahuluan, koordinasi teknis bersama mitra, uji kelaikan alat, instalasi unit, hingga simulasi pencucian menggunakan bahan baku telur milik UMKM.
Para mahasiswa kemudian menyelenggarakan sesi sosialisasi dan peragaan (demonstrasi) mengenai pengoperasian, pemeliharaan berkala, serta penanganan keselamatan kerja alat. Pemilik UMKM juga didampingi secara intensif untuk mempraktikkan langsung penggunaan mesin pencuci tersebut.
Pemilik UMKM Telur Asin “1001”, Listyoningsih, menyambut antusias hadirnya teknologi tepat guna tersebut karena terbukti mampu memangkas durasi dan beban kerja pembersihan telur.
“Kami sangat terbantu dengan adanya alat pencuci ini karena proses mencuci telur menjadi jauh lebih cepat dan praktis. Jika sebelumnya kami harus menggosok telur satu per satu menggunakan tangan, kini pekerjaan terasa jauh lebih ringan,” kata Listyoningsih, Rabu (30/9/2026).
Dosen Pembimbing Lapangan, Ubaidillah, S.TP., M.Si., berharap bantuan inovasi teknologi ini dapat memberikan dampak kemanfaatan ekonomi yang berkelanjutan bagi kemajuan UMKM mitra. Ia juga menegaskan komitmen pendampingan paska-program apabila ditemukan kendala teknis pada mesin.
“Apabila ke depan Ibu menemukan kendala teknis atau gangguan dalam pengoperasian alat, silakan berkoordinasi langsung dengan tim kami. Kami siap membantu pendampingan dan perbaikan agar alat ini dapat terus beroperasi seoptimal mungkin,” urai Ubaidillah.
Melalui program 3M FTAB UB ini, para mahasiswa tidak hanya berhasil memberikan solusi konkret bagi permasalahan UMKM lokal, melainkan juga mengasah kecakapan kepemimpinan, kepedulian sosial, serta penerapan keilmuan teknologi pertanian secara nyata di tengah masyarakat. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




