SIAGA: Tim gabungan yang berada di pos pantau untuk penanganan Karhutla dan kekeringan. (Foto: Suseno/Malang Post)
MALANG POST – Kebakaran hutan di kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang, belum sepenuhnya berakhir. Hingga Selasa (29/9/2026) malam, luas kawasan terdampak kebakaran di wilayah BKPH Kepanjen tercatat mencapai 405,5 hektare.
Luas tersebut tersebar di empat kecamatan. Kecamatan Wagir menjadi wilayah dengan area terdampak paling luas, yakni 366 hektare. Berikutnya Kecamatan Ngajum 22 hektare, Kecamatan Dau 12,5 hektare, dan Kecamatan Wonosari 5 hektare.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, mengatakan sejumlah titik api telah berhasil dipadamkan. Namun, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali api.
“Walaupun pos lapangan sudah dicabut, pos pantau tetap melakukan observasi, pemantauan dan pemadaman secara berkelanjutan,” ujar Sadono, Rabu (30/9/2026).
Sejumlah Titik Sudah Padam
Pemantauan pada Selasa malam dilakukan dari sejumlah lokasi. Di antaranya Pos Pantau Merkusi Precet, jalur Kraton Gunung Kawi, Pos Pantau Dalisodo, serta kawasan Bukit Jabal di Dusun Sumberbendo, Desa Kucur, Kecamatan Dau.

PERSIAPAN: Petugas gabungan saat mempersiapkan kolam penampungan air. (Foto: Suseno/Malang Post)
Di Pos Pantau Merkusi Precet, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, tujuh personel dari Polsek Wagir, Koramil, Perhutani dan pos wisata pendakian Batu Tulis melakukan pemantauan.
Dari hasil observasi, tidak ditemukan tanda-tanda api. Kondisi kawasan tersebut dinyatakan padam.
Pemantauan berbeda ditemukan dari jalur Kraton Gunung Kawi. Tim gabungan mendapati lokasi yang sebelumnya terbakar di Petak 193 Puncak Pitrang, Blok Sapen dan Waruan. Titik lain berada di kawasan hutan pinus Petak 160 B-1 RPH Gendogo.
Tim kemudian melakukan pemadaman di Petak 160 B-1 dengan membuat ilaran untuk membatasi pergerakan api. Luas area terdampak di lokasi tersebut sekitar 0,7 hektare.
Sebanyak 26 personel yang terdiri atas warga Kampung Baru, Desa Wonosari, bersama Perhutani dilibatkan dalam penanganan. Setelah dilakukan pemadaman, kondisi api di lokasi dinyatakan padam.
Meski demikian, penanganan di kawasan Puncak Pitrang Blok Sapen masih dipersiapkan karena menjadi salah satu titik yang memerlukan tindak lanjut.
45 Personel Disiapkan untuk Pemadaman Lanjutan
Pemadaman lanjutan di kawasan Gunung Kawi Puncak Pitrang Blok Sapen, Petak 193, dijadwalkan pada Rabu (30/9/2026).
Sedikitnya 45 personel disiapkan untuk kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 20 warga Dusun Gendogo, 15 warga Dusun Maduarjo, Desa Balesari, serta 10 personel dari PT Lembah Indah Malang.
Selain pemadaman, tim tetap melakukan pemantauan dari sejumlah pos untuk memastikan tidak muncul titik api baru.
Di Pos Dalisodo, misalnya, tim tidak menemukan titik api dan kondisi dinyatakan padam. Pemantauan dilakukan Kepala Dusun Sengon Jefri bersama Wakil Ketua LKDPH Misnan.
Kondisi serupa ditemukan di Pos Pantau Bukit Jabal, Dusun Sumberbendo, Desa Kucur, Kecamatan Dau. Tidak ditemukan titik api baru di lokasi tersebut.
Namun, kawasan hutan tetap mendapat perhatian karena sebagian wilayah sebelumnya mengalami kebakaran dalam luasan cukup besar.
Libatkan Banyak Unsur
Penanganan kebakaran Gunung Kawi dilakukan secara bersama-sama. Unsur yang terlibat meliputi BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, TNI, Polri, Perhutani, pemerintah kecamatan dan desa, puskesmas, LMDH, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, pengelola lokasi pendakian, hingga juru kunci Kraton Gunung Kawi.
Sejumlah perusahaan juga ikut mendukung penanganan di lapangan, di antaranya PT Greenfields Indonesia, PT Lembah Indah Malang, Marva Telekomunikasi dan Buana Solusindo.
Dengan luasan kawasan terdampak mencapai 405,5 hektare, pemantauan menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran.
Terlebih, sejumlah lokasi berada di kawasan hutan dengan kondisi medan yang membutuhkan penanganan langsung dan terkoordinasi.
Tim gabungan masih melanjutkan pemantauan dan menyiapkan pemadaman di titik yang dinilai membutuhkan penanganan lanjutan, agar api tidak kembali muncul dan meluas ke kawasan hutan lainnya. (Suseno/Ra Indrata)




