Oleh: Dahlan Iskan
Gara-gara berkunjung ke Paputungan, saya tidak sempat mampir ke pabrik yang sangat ternama di Manado: pabrik minuman keras Cap Tikus. Padahal, saya pernah berjanji kepada pemiliknya, Johnny Lieke: jika ke Manado, saya akan mampir ke Cap Tikus.
Yang bisa saya paksakan adalah berkunjung ke Bukit Doa. Namun, tempat itu ternyata sudah tutup. Jalan masuknya sudah diportal. Suasana pun sudah terlalu gelap: pukul 19.30 WITA, telat setengah jam. Maka, kami belok kiri, menanjak lagi ke bukit di atasnya: Makatete Hills. Ada kafe di situ yang baru akan tutup satu jam lagi.
Masih ada tiga meja yang terisi pengunjung yang sedang menikmati minuman. Kami memilih teras samping yang luas dan tanpa atap. Kami memindahkan meja dan kursi ke dekat pagar agar bisa melihat seluruh pemandangan Kota Manado di bawah sana pada waktu malam.
Saya duduk di kursi tersebut. Bukan untuk menikmati pemandangan, melainkan untuk menulis: redaksi sudah menunggu tulisan saya yang harus diterbitkan pukul 04.00 WIB keesokan harinya. Ketika menulis dipepet waktu seperti itu, kadang muncul omelan otomatis: penulisan yang dikejar tenggat sering kali mengabaikan ketepatan waktu terbit pukul 04.00 WIB tersebut.
Saya tidak pernah bertanya mengapa terbitnya telat dan mengapa tidak menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saja. Biarlah AI yang secara disiplin menayangkan (posting) tulisan tepat pukul 04.00.00.00 WIB.

Begitu selesai menulis, pemberitahuan datang bahwa kafe harus segera tutup. Saya menengok Kota Manado dari ketinggian sekali lagi. Hanya kelihatan gemerlap lampu-lampunya.
“Orang lain banyak yang datang ke bukit ini pukul 17.00 WITA menjelang matahari terbenam. Indahnya tak terpermanai,” ujar staf kafe tersebut.
Dari situ, sebenarnya saya ingin memaksakan diri ke Bitung melalui jalan tol sekalian merasakan Tol Manado–Bitung peninggalan Presiden Jokowi. Namun, waktu sudah terlalu malam.
Akhirnya, saya menginap di NDC. Hotel melati tua di situ kabarnya telah disulap menjadi bangunan baru: Hotel NDC.
Saya pernah ke Bunaken melalui dermaga NDC ini—Nusantara Diving Club. Dulu kelihatannya masih serba sederhana, kini sudah menjadi primadona di Manado. Bukan yang paling ramai, melainkan yang paling baru.
Dermaga paling ramai untuk naik kapal ke Bunaken berada di Mega Mal, sedangkan yang teramai kedua berada di Marina Bay. Dua-duanya berada di kawasan Manado Boulevard—di daerah kawasan tepi laut (waterfront city) yang dulunya merupakan area reklamasi laut. Saya juga pernah ke Bunaken melalui kedua dermaga tersebut.
Benar adanya, NDC kini telah menjelma menjadi hotel bintang empat yang gemerlap. Arsitektur lobi masuknya sangat mengesankan. Di balik arsitektur lobi tersebut, terdapat dua kolam renang dengan konsep mewah (fancy): di tengah kolam renang ada wahana permainan anak-anak.

Saya ingin menikmatinya sekejap sambil menikmati minuman di kafe pinggir kolam renang itu. Namun, tidak ada pelayan. Saya pun naik ke lobinya yang indah dan gemerlap. Ada restoran besar di situ; saya ingin makan salad sambil menikmati suasana lobi. Pilihan saya hanya salad agar tidak terlalu “berat”. Timbangan badan saya sudah naik 2 kilogram dalam tiga bulan terakhir. Apalagi, siang sebelumnya saya sudah makan banyak sekali: ikan mas goreng, dabu-dabu, kangkung, dan tumis bunga pepaya untuk porsi dua orang.
“Sudah tutup, Pak. Pesanan terakhir (last order)-nya sudah lewat setengah jam lalu,” ujar petugas di restoran itu. Ya sudah. Balik ke kamar hotel dan tidur! Pukul 04.00 WITA, saya sudah harus meninggalkan hotel menuju bandara. Saya kembali harus transit melalui Makassar. Dua jam lebih di Makassar, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain membaca di bandara.
Eh… ternyata bisa! Bisa senam selama satu jam. Apalagi hari itu saya punya “utang”: pagi hari belum sempat senam karena berangkat terlalu subuh. Maka, saya teringat Nova Gosal, si pesenam lima “i” itu. Saya mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya menggunakan huruf Mandarin: bisakah mencarikan lokasi senam yang dekat dengan bandara? Bisa, hanya 10 menit dari bandara.
“Di mana?” tanya saya. “Di halaman dealer Wuling Makassar,” jawabnya. “Bisa diizinkan?” “Pimpinannya teman saya,” ujar Nova.
Maka, saya mengirimkan lagu-lagu senam kepada Nova agar diunggah (install) ke sistem suara (sound system). Suaminya yang menjemput saya di bandara. Ternyata Nova mengajak teman-teman lima “i” lainnya untuk ikut bersenam.
Di depan deretan mobil Wuling, kami pun bersenam-senam. Ternyata pihak Wuling juga menyediakan sarapan nasi kuning khas Makassar serta berbagai kue. Namun, tidak ada waktu untuk memakannya.
Saya pun meminta izin membawa sarapan gratis itu ke bandara. Kalaupun tidak sempat memakannya di ruang tunggu, bisa saya nikmati di dalam pesawat karena perut ini belum kemasukan makanan apa pun sejak kemarin sore. Eh, ada: air putih setengah liter saat bangun tidur dan setengah liter lagi yang diberikan Nova di lokasi penjemputan.
Utang senam pun terbayar.
Tinggal satu utang lagi: menuliskan pengalaman pertama saya di Makassar saat transit selama lima jam dalam perjalanan pergi ke Manado dua hari sebelumnya.

Hari itu, beberapa pengusaha bergabung untuk makan siang bersama di Makassar. Di samping Nova dan suaminya, ada David Gozal, Saiman Sutanto Chen, dan beberapa rekan lainnya, termasuk teman-teman Disway Sulsel.
Saya pikir, setelah melahap ikan kudu-kudu, kami akan langsung kembali ke bandara. Ternyata tidak.
“Mampir dulu ke kafe saya,” ujar David. “Sempat? Masih ada waktu?” “Mampir sebentar saja. Harus mampir,” tegas David. “Saya kan pernah makan di sana?” “Ada hal baru yang ingin saya pamerkan,” katanya.
Sebagai pebisnis kafe yang sudah berpengalaman puluhan tahun, David pusing melihat persaingan kafe yang menjamur belakangan ini. Semua orang membuka kafe. “Toko bahan bangunan pun bikin kafe,” katanya.
“Padahal, saya tidak bisa membuka toko bahan bangunan di kafe saya,” seloroh David.
David terus berputar otak agar bisnis kafenya tetap hidup. Lalu, muncullah tren bisnis terbaru: permainan Mahjong. David pun mengombinasikan konsep kafe dengan permainan Mahjong. Ia membeli 10 meja Mahjong.
Saya harus melihatnya.
“Bisa main Mahjong?” tanya David. “Tidak bisa. Cara mainnya pun saya tidak tahu,” jawab saya. “Hanya seperti permainan kartu remi, tetapi ini menggunakan dadu batu,” jawabnya. “Kalau remi saya bisa. Kalau Mahjong…,” saya tidak melanjutkan kalimat itu.
Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan pesantren, kata Mahjong itu sendiri terasa sangat asing di telinga saya. Dulu, sesekali saya mendengar kata Mahjong jika ada penggerebekan perjudian Mahjong oleh polisi. Jadi, di benak saya, Mahjong identik dengan judi: haram.
Pemahaman saya itu berubah secara berangsur-angsur. Ternyata, apa saja bisa dijadikan sarana judi—termasuk golf, remi, dan sepak bola. Apa pun bentuknya, bergantung pada orangnya, bukan salah permainan Mahjong-nya.
Waktu bermain remi pada masa remaja dulu, kami tidak pernah berjudi. Permainan itu hanya untuk hiburan antarteman. Eh… ternyata pernah juga “berjudi”: yang kalah menerima hukuman telinganya dijepit dengan jepitan baju!
Perubahan pemahaman kedua terjadi saat tiba-tiba seorang pengusaha melampiaskan kebahagiaannya kepada saya. Mengapa ia bahagia?

“Karena saya bisa membahagiakan ibu saya tanpa mengganggu waktu saya untuk mencari uang,” ujarnya. “Dengan cara apa?” “Setiap hari saya memberi uang Rp5 juta kepada ibu. Dengan uang itu, beliau bisa mentraktir teman-teman sebayanya, lalu seharian penuh bermain Mahjong,” katanya. “Oh…,” kata saya sambil menahan kaget di dalam hati. “Saya beruntung ibu saya suka bermain judi Mahjong. Saya lihat ibu bahagia sekali setiap hari bisa bermain Mahjong bersama teman-temannya,” katanya polos.
Saya manggut-manggut sambil terus menahan kaget.
Pada masa itu, permainan Mahjong belum secanggih sekarang. Setiap kali selesai satu putaran (game), dadu-dadu batu itu dikumpulkan di tengah meja, lalu diacak secara manual agar pembagian ulang terasa adil. Ketika akan memulai, pemain harus menata kembali dadu sebanyak 144 buah sedemikian rupa, yang mana cukup memakan waktu.
Meja Mahjong sekarang sudah serba otomatis: begitu selesai satu putaran, dadu-dadunya masuk sendiri ke balik meja. Pemain tinggal menekan tombol untuk mendapatkan satu set dadu baru yang sudah teracak oleh sistem dan tersusun rapi. Kini, Anda bisa bermain Mahjong tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan pada zaman dahulu.
David pun mengajari saya bermain Mahjong satu putaran. Belum terlalu mahir, tetapi saya sudah harus bergegas ke bandara.
Setibanya di Surabaya, saya bercerita mengenai pesatnya pertumbuhan permainan Mahjong di Makassar. Dalam kurun waktu tiga bulan, sudah ada 10 lokasi permainan Mahjong.
Ternyata saya terlambat tahu. “Di Surabaya juga sudah menjamur,” ujar seorang teman. Begitu pula di kota-kota lainnya.
Maka, setelah musim kafe, musim padel, dan musim kemarau, kini tiba musim Mahjong. (Dahlan Iskan)



