MALANG POST – Dinas Kesehatan Kota Malang mengonfirmasi bahwa tren kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Malang mulai melandai dan terkendali, setelah sempat melonjak tajam hingga 6.000 pasien pada pertengahan Agustus 2026 lalu, Sabtu (19/9/2026).
Lonjakan penyakit saluran pernapasan di musim pancaroba selalu mengintai kelompok usia rentan. Ketika ancaman polusi debu berpadu dengan residu asap rokok di lingkungan rumah tangga, balita menjadi korban yang paling ringkih terpapar musibah kesehatan.
Kewaspadaan itulah yang kini terus digelorakan oleh Dinas Kesehatan Kota Malang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar, membeberkan bahwa kasus ISPA sempat melonjak signifikan pada minggu ke-33, tepatnya kurun 16 hingga 22 Agustus 2026.
Dalam kondisi normal, kunjungan pasien ISPA berada di kisaran 2.200 pasien per minggu. Namun pada pekan tersebut, angka pelaporan dari 39 fasilitas kesehatan menembus 6.000 pasien.
“Meski sempat melonjak, kasus ISPA dalam tiga minggu terakhir mulai melandai dan kondisinya terkendali di seluruh lima kecamatan,” terang Meifta dalam talkshow Idjen Talk Radio City Guide FM, Sabtu (19/9/2026).
Data Dinkes mencatat balita usia 0 hingga 4 tahun berdiri sebagai penderita terbanyak, disusul anak usia 5-14 tahun dan kelompok lansia.
Dokter Spesialis Anak RSUD Karsa Husada Batu, dr. Maya Chusniyah, menjelaskan bahwa saluran pernapasan balita masih dalam tahap pertumbuhan sehingga sangat peka terhadap paparan lingkungan.
Ia menyoroti bahaya paparan rokok tingkat ketiga (third hand smoke), yaitu racun pengendap yang melekat pada pakaian, kulit, atau ruangan perokok meski aktivitas merokok telah usai.
“Jika batuk pilek berlangsung lebih dari 14 hari, itu bukan lagi ISPA akut biasa. Mesti segera diperiksakan ke faskes untuk mengantisipasi penyakit lain seperti tuberkulosis (TB),” imbau dr. Maya.
Dari kacamata lingkungan, Dosen Kesehatan Lingkungan Universitas Widya Gama Malang, Misbahul Subhi, mengingatkan dampak buruk cuaca kering dan debu kendaraan.
Ia menekankan pentingnya pemantauan kualitas udara karena partikel halus seperti PM 2,5 tidak sanggup dilihat mata telanjang.
Guna memperkuat deteksi dini, Dinkes Kota Malang menyiagakan Puskesmas Dinoyo dan RSSA sebagai sentinel Influenza-Like Illness (ILI).
Sampel usap (swab) pasien akan diuji ke laboratorium rujukan di Surabaya dan Jakarta demi memetakan tipe virus secara akurat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




