Oleh: Dahlan Iskan
Mendengar heboh “desil”, saya teringat “desi”—desimeter. Sudah sekian lama istilah desimeter meninggal dunia. Orang lebih suka menyebut “10 sentimeter”, tidak mau lagi mengatakan “satu desimeter”. Mirip dengan orang yang tidak mau lagi menyebut “satu yard”, melainkan memilih bilang “90 sentimeter”.
Maka, di mana-mana saya mendapat pertanyaan ini: apa itu desil? Mengapa heboh sekali?
Desil adalah per sepuluh. Maksudnya, masyarakat dibagi menjadi 10 kelompok: sepuluh persen pertama, kedua, ketiga, hingga kesepuluh. Pembagian itu berdasarkan tingkat kesejahteraan; lebih tepatnya berdasarkan besarnya pengeluaran setiap bulannya.
Jika Anda tergolong desil 1, berarti Anda termasuk 10 persen kelompok masyarakat termiskin di Indonesia. Istilah tersebut digunakan untuk menghindarkan sebutan “kelompok sangat miskin”. Jika Anda disebut sebagai orang desil 1, rasanya lebih sopan dibandingkan jika disebut kelompok orang sangat miskin.
Ups… Bukan itu tujuannya. Istilah desil diciptakan untuk menstandarkan pengelompokan di masyarakat.
Selama ini kita hanya mengenal istilah sangat miskin, miskin, hampir miskin, kelas menengah, dan kaya. Setiap lembaga bisa membuat pengelompokan yang berbeda. Kini hanya ada satu istilah: desil. Tinggal menyebut desil berapa.
Misalkan Anda disebut desil sepuluh, itu berarti Anda tergolong patriot—layak mengutangi Danantara melalui Patriot Bond. Maka, setelah Anda membaca Disway hari ini, coba-cobalah Anda memperkirakan tergolong di desil berapa.
Bagi negara seperti Indonesia, desil dianggap penting terutama terkait dengan bantuan sosial. Misalnya, masyarakat desil 1 layak mendapat lima jenis bantuan dari negara: uang tunai, subsidi listrik, subsidi elpiji, subsidi iuran BPJS, dan subsidi rumah melalui KPR. Kelompok desil dua mungkin hanya berhak atas empat dari lima jenis bantuan tersebut. Desil tiga mendapat tiga dari lima, desil empat hanya mendapat dua jenis, dan seterusnya. Tidak seperti itu secara harfiah, tetapi begitulah kira-kira cara berpikir para pembuat sistem desil.
Hal itu bergantung pada kebijakan pemerintah. Penerapan sistem desil itu sendiri mestinya merupakan langkah maju yang baik. Bahwa kemudian akan muncul kehebohan, tentu tidak bisa dihindari. Problem utamanya terletak pada orang yang berada di “perbatasan desil”. Misalkan Anda masuk desil tiga, tetapi posisi Anda berada di paling bawah. Hampir saja Anda sulit dibedakan dengan anggota desil dua yang posisinya di paling atas. Ibaratnya, nilai Anda 5,9—hampir enam, tetapi tetap bukan enam.
Menggunakan sistem apa pun pasti ada hebohnya. Sistem pengelompokan yang lama pun memiliki kelemahan dan pernah membuat heboh berkali-kali. Hal yang penting, setelah menggunakan sistem desil, teruslah lakukan evaluasi agar kelemahan yang muncul dapat segera diatasi.
Persoalannya terletak pada pendataan yang menentukan seseorang masuk desil berapa. Pemerintah memiliki banyak versi data ekonomi. Salah satunya berdasarkan kemampuan belanja Anda setiap tahun, ada pula data berdasarkan pendapatan setahun. Pada masa Orde Baru, pernah ada ukuran masyarakat tidak lagi miskin jika lantai rumahnya sudah diplester dengan semen. Pernah pula ada ukuran jika tembok rumahnya sudah terbuat dari bata. Kelak, jika sistem desil ditolak, mungkin salah satu ukuran yang akan digunakan adalah rumahnya menggunakan genteng atau seng.
Sistem desil di Indonesia hanyalah meniru hal yang dilakukan negara lain. Kita termasuk yang ketinggalan. Negara maju juga memiliki cara untuk menentukan pengelompokan masyarakatnya, bukan berdasarkan kemampuan belanja, melainkan berdasarkan kemampuan mereka membayar pajak.
Di sana tidak ada istilah desil, melainkan kuantil. Masyarakat hanya dibagi menjadi lima: miskin, menengah bawah, menengah atas, kaya, dan superkaya.
Kegunaan yang lebih penting dari sistem desil dan kuantil adalah untuk mengukur tingkat ketimpangan di masyarakat. Dengan potret desil yang ada, pemerintah harusnya prihatin: mengapa ketimpangan ekonomi begitu besar? Untuk itulah desil ada, bukan ‘dibelokkan’ hanya untuk urusan bantuan sosial.
Jangan-jangan heboh desil sekarang ini justru membuat orang melupakan tujuan utama perumusan desil. Jangan-jangan masyarakat justru lupa terhadap kenyataan adanya kesenjangan.
Mungkin saja di negara seperti Denmark pembagiannya hanya ada tiga: mampu, kaya, dan kaya sekali—karena di sana sudah tidak ada lagi masyarakat yang miskin. Baiknya kita tunggu komentar dari “perusuh kaburan” seperti Bung Liang yang sekarang tinggal di Denmark.
Tentu hal yang penting bukanlah menggunakan desil, kuantil, atau tidak menggunakan apa-apa sama sekali. Hal yang jauh lebih penting adalah kapan tidak ada lagi desil dua dan desil satu—setidaknya hilangkan desil 1 terlebih dahulu. (Dahlan Iskan)


