MALANG POST – Maestro keramik Muchlis Arif merangkum 40 tahun perjalanan karya dan pengetahuan kesenimanannya, ke dalam buku berjudul “Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian” di Matahati Ceramic, Kota Batu, Minggu (6/9/2026), guna mendokumentasikan rekam jejak sekaligus memperkuat ekosistem seni rupa di Indonesia.
Segenggam lempung ternyata bisa membawa Muchlis Arif bertemu dengan banyak dunia, mulai dari ruang seni, pendidikan, UMKM, hingga berbagai kalangan dan institusi. Bahkan, material sederhana itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menekuni seni keramik selama 40 tahun.
Perjalanan tersebut kini dirangkum dalam sebuah buku berjudul Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian. Buku setebal 193 halaman itu diluncurkan bersamaan dengan pameran karya sang maestro keramik di Matahati Ceramic, Kota Batu.
Muchlis Arif merupakan maestro keramik yang mendapat predikat dari Kementerian Kebudayaan RI. Sebagai seorang maestro, ia tidak hanya mendokumentasikan karya fisik, melainkan juga menuangkan pengetahuan dan perjalanan kesenimanannya dalam bentuk buku.
Buku tersebut menjadi semacam catatan perjalanan Arif sejak mulai menekuni dunia keramik pada 1986. Saat ini, buku masih dicetak secara terbatas sembari menunggu kata sambutan dari Menteri Kebudayaan RI yang direncanakan diberikan pada November mendatang.
Isinya dibagi menjadi tiga bab besar, yakni Romantisme, Langkah Manis, dan Relung Nalar. Ketiganya membawa pembaca menyusuri perjalanan Arif dari titik paling awal hingga cara ia membangun ekosistem seni.
“Ini menceritakan perjalanan panjang sejarah saya,” ujar Arif, Minggu (6/9/2026).
Bab pertama, Romantisme, dibuka dengan subbab Segenggam Lempung, Seluas Dunia. Arif ingin menunjukkan bahwa lempung bukan sekadar tanah yang dibentuk menjadi benda. Dari material tersebut, berbagai kemungkinan bisa lahir. Bahkan, keramik membawanya berinteraksi dengan berbagai kalangan dan institusi.
“Dengan segenggam lempung kita menggenggam dunia. Lempung bisa bicara macam-macam. Bayangkan lempung bisa bertemu Coca-Cola, bertemu Nestle, hingga bertemu militer. Kami berikan pelatihan kreativitas, akhirnya bertemu dengan mereka,” tuturnya.
Kisah berikutnya berjudul Sendiri Tapi Tak Sendiri. Arif mengisahkan perjalanan panjangnya yang tidak pernah benar-benar dijalani seorang diri. Keluarga, terutama istri, menjadi bagian penting dalam proses berkesenian tersebut.

TOKOH: Maestro Keramik, Muchlis Arif saat menunjukkan buku karyanya berjudul Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kemudian ada Berbagi Semakin Bertambah. Subbab ini merekam prinsip yang ia pegang sejak lama, yakni membagikan ilmu dan kreativitas kepada orang lain. Menurut Arif, berbagi pengetahuan bukan berarti membuat seseorang kehilangan ilmu. Sebaliknya, proses tersebut justru membuat kemampuan terus berkembang. “Ilmu dibagikan, nanti kita tambah pintar. Ilmu dibagikan, kita tidak gampang pikun,” katanya.
Ada pula Dua Jiwa Satu Hati di Matahati. Bagian ini menceritakan kolaborasinya bersama sang istri. Berbekal pengalaman sang istri yang merupakan alumnus Bali dan banyak berinteraksi dengan warga asing, keduanya kemudian mengembangkan karya yang sempat dipasarkan untuk ekspor ke Italia. Mereka memadukan desain grafis dengan seni rupa murni dalam pengembangan produk eco-design.
Bab pertama ditutup dengan Cinta Seniman dalam Pengabdian Total, yang menjadi refleksi Arif mengenai totalitas dalam menjalani profesi sebagai seniman.
Bab kedua, Langkah Manis, lebih banyak berbicara tentang cara Arif membangun ekosistem seni. Salah satunya melalui subbab Membangun Ekosistem dari Pinggir. Arif mengaku tidak memilih jalur yang lazim ditempuh sebagian pelaku seni dengan berpusat pada kota-kota besar dan ruang seni yang sudah mapan.
Ia memilih membangun pasar dan apresiasi dari lingkungan terdekat. “Selama istri saya suka, banyak perempuan lain yang suka dengan karya saya. Kalau satu keluarga suka, banyak keluarga lain yang suka. Tidak usah muluk-muluk, itu saja,” ujarnya.
Menurut Arif, ekosistem tidak harus dibangun dari pusat. Justru dari lingkaran kecil di pinggiran, apresiasi terhadap seni bisa tumbuh perlahan. “Ini dibangun pelan-pelan dari ekosistem pinggiran, tidak dari kota. Biasanya dari sentral, tetapi ini tidak. Kami dari pinggiran,” katanya.
Strategi serupa ia terapkan melalui pottery class di Matahati Ceramic. Ketika pertama kali dari Jogja-Solo ke Kota Batu, Arif sempat berpikir tentang siapa yang akan membeli karyanya. Jawabannya justru ditemukan dari dunia pendidikan anak usia dini.
Ia memilih “menjual ilmu” terlebih dahulu. Anak-anak TK diajak bermain dan berkreasi menggunakan lempung. “Anak TK senang bermain lempung. Bayar Rp5.000,00 satu anak pun tidak apa-apa. Kalau 30 orang, sudah Rp150.000,00,” tuturnya.
Bagi Arif, angka tersebut bukan semata-mata soal nominal. Pottery class menjadi bagian dari cara membangun ekosistem sekaligus menjaga keberlangsungan aktivitas seni. “Jika berbicara tentang hidup, ada finansial dan kebebasan finansial. Finansialnya ya ini dulu, yang penting laku terlebih dahulu meski Rp150.000,00. Baru kita berkarya yang harganya mahal,” jelasnya.
Bab ini juga memuat perjalanan Creativity Training Matahati Ceramic, serta berbagai agenda exhibition, art talk, dan artist talk yang digelar di ruang seni miliknya. Salah satu gagasan menarik yang dituangkan adalah tentang kritik seni. Arif menilai kritik tidak harus selalu datang dari kurator atau akademisi.
“Padahal kritik sejatinya masih ada. Istri saya yang mengkritik, tetangga, anak yang mengkritik, kan tidak apa-apa dikritik orang awam,” katanya. Menurutnya, kritik yang berdampak tetap memiliki nilai, siapa pun yang menyampaikannya.
Bab kedua juga memuat Lempung Jembatan Kemanusiaan. Keramik, menurut Arif, bukan hanya ruang berkarya bagi orang-orang yang dianggap normal. Material tersebut juga dapat dimanfaatkan dalam kegiatan bersama anak berkebutuhan khusus, termasuk sebagai bagian dari aktivitas terapi.
Memasuki bab ketiga, Relung Nalar, pembaca diajak melihat pengalaman Arif dari sisi yang lebih reflektif, salah satunya melalui subbab Ada Kopi, Konsep, dan Karya. Di bagian ini, Arif menceritakan pengalaman menarik selama menghadapi berbagai krisis ekonomi.
Krisis moneter 1998, misalnya. Ketika banyak sektor terpukul, pesanan keramiknya justru meningkat karena sebagian pembelinya berasal dari pasar internasional. “Saat krismon 1998 saya malah laris karena dolar dari Rp2.500,00 jadi Rp15.000,00. Orang luar negeri biasanya beli satu dolar dapat satu, lalu satu dolar dapat enam, jadi tambah laris,” ungkapnya.
Hal serupa kembali terjadi pada krisis 2008. Bahkan ketika pandemi, produk seperti cangkir kopi justru mengalami peningkatan permintaan. “Krisis kedua di 2008 saya juga laris. Termasuk saat pandemi, justru cangkir kopi malah laris. Ini unik tetapi aneh,” ujarnya.
Bab ini juga memuat Berbagi yang Bertumbuh Bersama UMKM, yang menceritakan berbagai pelatihan yang diberikan Arif kepada pelaku UMKM. Kemudian ada Mengejar Matahari Mengajar dengan Matahati. Bagian tersebut mengisahkan perjalanan Arif mengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Ia menggambarkan perjalanan Batu–Surabaya yang ditempuh puluhan tahun bukan untuk mengejar jabatan maupun materi. Mengajar dipandangnya sebagai kesempatan mengamalkan ilmu. “Saya konsepkan perjalanan ke Unesa itu ke kampus mengamalkan ilmu, bukan mencari jabatan ataupun uang,” katanya.
Perjalanan tersebut bahkan harus ditempuh dengan biaya yang tidak sedikit. Sekali perjalanan menggunakan jalan tol bisa mencapai sekitar Rp600.000,00. Dengan frekuensi empat kali seminggu, biaya perjalanan mencapai sekitar Rp2.400.000,00 per minggu.
Namun, Arif tetap menjalaninya selama puluhan tahun. “Saya yakin rezeki akan mengikuti. Buktinya 25 tahun dari Batu ke Surabaya tiap hari, biaya jalan tolnya Rp600.000,00 sekali jalan, masuk empat kali seminggu saja Rp2,4 juta. Kalau sebulan sudah berapa. Dari dulu tetap dijalani, buktinya tidak ada masalah,” tuturnya.
Bagian terakhir buku tersebut berjudul Berkesenian Bersama Muhammadiyah. Arif menuangkan gagasannya bahwa gerakan keagamaan juga dapat memiliki warna seni. Ia merujuk pada sosok Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang menurutnya pernah memainkan biola sebagai bagian dari pendekatan dakwah.
“Intinya saya ingin, meski gerakan agama, harus ada warna seninya,” pungkas Arif. (Ananto Wibowo)




