KEPALA Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Era transaksi nontunai di kawasan Malang Raya dan sekitarnya, melompat makin pesat. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang mencatat volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di tujuh kabupaten/kota wilayah kerjanya, tumbuh fantastis hingga 166 persen secara tahunan (year-on-year), Kamis (30/7/2026).
Era transaksi nontunai di kawasan Malang Raya dan sekitarnya melompat makin jauh. Penggunaan instrumen pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tidak lagi sekadar gaya hidup, melainkan telah menjadi urat nadi utama penggerak ekonomi kerakyatan, khususnya bagi para pelaku UMKM.
Bukti sahih lonjakan tersebut dibeberkan langsung oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang. Volume transaksi QRIS di tujuh kabupaten/kota wilayah kerja BI Malang mencatatkan pertumbuhan fantastis hingga 166 persen secara tahunan (year-on-year).
Capaian pertumbuhan supermasif ini disampaikan Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi, dalam pembukaan ajang Sapta Rona Pesona (SRP) 2026 yang berlangsung di Atrium Malang Town Square, Kamis (30/7/2026).
“Volume transaksi QRIS di wilayah kerja kami naik pesat 166 persen jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Ini merupakan pertumbuhan yang sangat atraktif. Kecepatan adaptasi masyarakat dan pedagang lokal dalam memanfaatkan QRIS patut kita acungi jempol,” puji Indra.
Bagi Bank Indonesia, akselerasi QRIS tidak dipandang sebatas modernisasi alat bayar digital. Lebih dari itu, QRIS adalah “jembatan emas” bagi jutaan UMKM untuk masuk ke dalam ekosistem keuangan formal (keuangan inklusif).
Dengan mencatatkan transaksi secara digital via QRIS, para pedagang kecil—mulai dari penjual bakso, pedagang pasar tradisional, hingga perajin kriya modern—mempunyai rekam jejak keuangan (financial record) yang rapi dan terukur. Rekam jejak inilah yang nantinya menjadi penilai utama perbankan saat UMKM mengajukan tambahan modal usaha.

DEPUTI Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur sekaligus Koordinator BI Wilayah Jawa, Prof. Rifki Ismal. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Sistem Pembayaran Mandiri Karya Anak Bangsa
Keberhasilan akselerasi QRIS di Malang ini mendapat apresiasi khusus dari Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur sekaligus Koordinator BI Wilayah Jawa, Prof. Rifki Ismal. Dalam paparannya, Prof. Rifki menyebut QRIS sebagai salah satu karya monumental bangsa di bidang sistem pembayaran yang diakui secara global.
“Banyak negara lain iri melihat keberhasilan Indonesia mengintegrasikan sistem pembayaran lewat QRIS. Kenapa? Karena QRIS berhasil memangkas dan mengeliminasi biaya-biaya transaksi asing yang biasanya mengalir ke luar negeri,” ungkap Prof. Rifki.
Ia menjelaskan, ketika masyarakat bertransaksi menggunakan platform digital asing, ada porsi biaya (fee) yang tersedot keluar dari Tanah Air. Sebaliknya, ekosistem QRIS sepenuhnya merupakan karya anak bangsa yang efisien dan independen.
“Kalau pakai QRIS, perbankannya lokal, masyarakat yang bertransaksi warga Indonesia, dan keuntungan mutlak berputar kembali untuk memperkuat ekonomi masyarakat kita sendiri. Ini pahlawan ekonomi yang nyata,” tambahnya.
Tiga Pilar Strategis Pengembangan UMKM
Rifki kemudian mengaitkan pentingnya QRIS dengan tiga pilar utama Bank Indonesia dalam melakukan pembinaan dan pengembangan UMKM secara nasional:
- Korporatisasi: BI mendorong agar usaha mikro tidak selamanya jalan di tempat sebagai usaha rumahan serabutan. UMKM harus naik kelas, memiliki kelembagaan resmi, dan transparan. Transaksi digital lewat QRIS menjadi basis utama terciptanya transparansi laporan keuangan tersebut.
- Peningkatan Kapasitas dan Kualitas Produk: Produk UMKM tidak boleh hanya jago di kandang sendiri, melainkan harus dikemas dengan standar mutu tinggi agar mampu melintas batas hingga pasar ekspor (go export).
- Penguatan Akses Pembiayaan: Di sinilah BI secara rutin menggelar ajang penjodohan bisnis (business matching) dan Bulan Pembiayaan—seperti yang disisipkan dalam ajang Sapta Rona Pesona 2026—guna mempertemukan pihak perbankan langsung dengan para pelaku UMKM.
Urgensi memoles UMKM lewat kanal QRIS dan pembiayaan perbankan sangat beralasan jika melihat kontribusi megahnya terhadap struktur ekonomi nasional.
Berdasarkan data kementerian terkait, saat ini terdapat 65,5 juta unit usaha di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 99 persen struktur unit usaha di Tanah Air didominasi oleh UMKM. Sektor ini juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi mencapai 97 persen, serta menyumbang hingga 62 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Sementara di tingkat regional Jawa Timur, kontribusi UMKM tak kalah mencolok dengan menyumbangkan 60 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan menyerap 97 persen tenaga kerja lokal.
“UMKM itu tulang punggung ekonomi kita. Karena itu, digitalisasi lewat QRIS, peningkatan kapasitas, hingga kemudahan akses kredit perbankan akan terus kita dorong secara masif melalui gelaran Sapta Rona Pesona hingga kegiatan skala nasional di Surabaya dan Jakarta nanti,” tutup Prof. Rifki. (Ra Indrata)




