SILATURAHMI: Wakil Bupati Malang, menyerahkan cindera mata kepada perwakilan delegasi Nagoya University Jepang. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, menerima kunjungan silaturahmi dan audiens riset delegasi Nagoya University Jepang, bersama akademisi FEB Universitas Brawijaya, guna mendorong Kabupaten Malang, berkembang menjadi laboratorium pembangunan bersama masyarakat, di Ruang Rapat Anusapati.
Dunia riset akademik internasional, tidak boleh dibiarkan hanya berhenti di atas tumpukan kertas laporan majelis ilmiah.
Hasil kajian ilmiah berkelas dunia, sudah saatnya ditarik turun ke tanah rakyat, diterjemahkan menjadi racikan kebijakan publik, yang sanggup menyelesaikan persoalan nyata masyarakat di daerah.
Semangat kolaborasi global itulah yang membuncah di jantung Kabupaten Malang.
Pemerintah Kabupaten Malang, kembali membuka pintu lebar-lebar bagi kerja sama akademik bertaraf internasional.
Pemkab Malang mendorong wilayahnya tidak sekadar dijadikan objek penelitian pasif, melainkan bertransformasi menjadi laboratorium pembangunan hidup bersama masyarakat.
Semangat tersebut mengemuka tatkala Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, menerima kunjungan dan silaturahmi delegasi Nagoya University, Jepang.
Rombongan akademisi Negeri Sakura tersebut, hadir dengan didampingi jajaran akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB).
Pertemuan digelari di Ruang Rapat Anusapati, Jalan Merdeka Timur Nomor 3, Malang, pada kemarin siang.
Audience ini menjadi momentum berharga, untuk memperkuat jejaring penelitian internasional, sekaligus memastikan hasil riset mampu diseminasi menjadi masukan bagi pembangunan Kabupaten Malang.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Diklat Keuangan (BDK) Malang beserta jajaran, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEB UB beserta rombongan, serta Ketua kegiatan KKN Mahasiswa Nagoya University bersama para dosen dan mahasiswa.
Tak ketinggalan, jajaran asisten dan kepala Perangkat Daerah Kabupaten Malang, turut menyambut rombongan riset tersebut.
Dalam sambutannya, Wabup Lathifah membeberkan, Kabupaten Malang memiliki modal geografis dan sosial yang sangat kaya.
Dengan bentang wilayah mencapai lebih dari 3.500 kilometer persegi, Kabupaten Malang berdiri sebagai salah satu daerah terluas di Jawa Timur.
Karakteristik wilayahnya juga sangat kompleks dan bervariasi. Membentang dari deretan kawasan pegunungan, hamparan pertanian dan perkebunan, pusat perkotaan, hingga benteng pesisir pantai laut selatan.
“Keragaman tersebut memberikan ruang yang sangat luas, untuk pengembangan penelitian. Kabupaten Malang dapat menjadi laboratorium pembangunan yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Lathifah Shohib.
Menurut Lathifah, berbagai sektor strategis siap dibuka lebar menjadi lokus riset.
Mulai dari kajian ekonomi desa, pemberdayaan masyarakat, transformasi digital, penguatan ekonomi lokal, pertanian modern, ketenagakerjaan, pariwisata ekologis, hingga pengelolaan lingkungan hidup.
Oleh sebab itu, Pemkab Malang mengajak perguruan tinggi internasional melihat Kabupaten Malang sebagai ruang uji gagasan dan penemu solusi nyata.
“Perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan kapasitas riset, sedangkan pemerintah daerah memegang data, kewenangan, serta ruang implementasi kebijakan. Ketika keduanya bersinergi, hasil riset dapat menjadi rekomendasi kebijakan publik yang bermanfaat,” tegasnya.
Komitmen Pemkab Malang dalam menyokong dunia pendidikan tinggi juga dibuktikan lewat tindakan nyata.
Salah satunya melalui pengucuran bantuan hibah lahan daerah untuk alokasi pengembangan kampus Universitas Brawijaya di Kecamatan Kepanjen.
“Melalui kegiatan diseminasi penelitian internasional ini, diharapkan lahir penelitian berkualitas, jejaring pengetahuan berkelanjutan, serta inovasi yang membawa kemajuan bagi masyarakat,” tambah mantan legislator Senayan tersebut.
Sementara itu, kunjungan penelitian tim Nagoya University di Kabupaten Malang memusatkan lokus pengamatan di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen.
Riset difokuskan pada tiga sektor utama yang saling berkaitan: pariwisata lokal, pertanian, serta pengembangan pendidikan.
Pemilihan Desa Sanankerto sebagai lokus riset menunjukkan bahwa potensi lokal Kabupaten Malang memiliki nilai strategis untuk dikaji dalam perspektif pembangunan berkelanjutan skala dunia.
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kacamata baru bagi Pemkab Malang dalam mengelola potensi daerah secara mandiri.
Kolaborasi tiga pilar antara Nagoya University, Universitas Brawijaya, dan Pemkab Malang menjadi jembatan emas yang menghubungkan ilmu pengetahuan global dengan kearifan lokal.
Dengan modal sumber daya melimpah serta dukungan penuh pemerintah, Kabupaten Malang berpeluang besar berdiri tegak sebagai laboratorium pembangunan global tempat bertemunya kebijakan, partisipasi publik, dan inovasi ilmiah. (PKP/Ra Indrata)




