MALANG POST – KONI Kota Malang bersama Pemkot Malang, menggelar Bimbingan Teknis Pencarian Bibit Atlet Berprestasi Usia Dini bagi guru olahraga SD dan SMP, di Kantor Disdikbud Kota Malang, Kamis (10/9/2026), guna menjaring potensi atlet sekolah demi mengejar target 222 medali emas Porprov Jatim.
Target besar dipatok oleh Kota Malang dalam mengarungi kompetisi dan capaian prestasi olahraga. Pemkot Malang melalui KONI dan Disporapar serta pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya terus berupaya mencari dan menggali atlet-atlet unggul dari bangku sekolah untuk berprestasi di tingkat Jawa Timur, nasional, bahkan internasional.
Proyek regenerasi atlet tersebut mulai dilakukan oleh KONI Kota Malang melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pencarian Bibit Atlet Berprestasi Usia Dini bagi guru olahraga SD dan SMP se-Kota Malang di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Kamis (10/9/2026).
“Untuk target Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X Jatim 2027 di Surabaya, Kota Malang ingin mendampingi (membersamai) Surabaya dalam meraih medali emas, yaitu 200 medali emas. Dalam Porprov IX 2025 lalu, kita sudah mencetak sejarah, yaitu meraih medali emas di atas 100 keping. Dari seluruh kabupaten dan kota di Jatim, hanya Surabaya dan Kota Malang yang meraih di atas 100 medali emas,” kata Ketua Umum KONI Kota Malang, R. Djoni Sudjatmoko.
Oleh karena itu, dalam Porprov X 2027 dengan tuan rumah Surabaya, Kota Malang ingin berjalan beriringan. Sebab, Surabaya juga belum pernah meraih medali emas di atas 200 keping.
Setelah menyamai capaian tersebut, Djoni optimistis Kota Malang mampu mengungguli Surabaya. Menurutnya, Kota Malang tidak perlu takut menghadapi Surabaya. Menurut Djoni, Surabaya itu bukan tidak tertandingi, melainkan bisa diungguli selama ada kekompakan, persatuan, serta sinergi antara KONI, cabang olahraga, dan para guru olahraga—mulai dari jenjang SD, SMP, hingga jenjang selanjutnya—dalam mencari potensi calon atlet dan membina atlet.
Ia menilai atlet dari jenjang SD dan SMP saat ini justru memiliki nilai strategis karena masih memiliki waktu panjang untuk berkembang sebelum memasuki arena Porprov 2029 dan 2031.

BIMTEK: Suasana bimtek pencarian bibit atlet berprestasi usia dini bagi guru SD dan SMP se Kota Malang. (Foto: Istimewa)
“Acara ini rutin kami lakukan melalui kolaborasi dengan guru-guru olahraga SD dan SMP. Intinya, atlet-atlet Kota Malang semuanya berasal dari sekolah, selain ada juga yang dari kampus,” ujar Djoni.
KONI Kota Malang kini membutuhkan pendataan yang lebih kuat untuk mengetahui pelajar yang memiliki potensi menjadi atlet andalan. Dari proses tersebut, pembinaan dapat dilakukan lebih awal dan tidak lagi bersifat instan menjelang penyelenggaraan Porprov.
Djoni bahkan memasang target yang jauh lebih berani. Kota Malang tidak hanya ingin mempertahankan posisi sebagai salah satu kekuatan olahraga Jawa Timur, melainkan mulai membidik Surabaya yang selama ini menjadi salah satu kekuatan terbesar olahraga di provinsi ini.
“Porprov 2029 dan 2031 harus kita persiapkan dari sekarang. Target maksimum 2031 kita sudah harus mampu mengalahkan Surabaya. Harapannya, 2029 kita sudah mampu. Kemudian pada 2031 sudah menjadi batas akhir kita harus mampu menjadi nomor satu di Jawa Timur,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menilai bahwa guru olahraga memiliki posisi strategis dalam proses pencarian atlet. Mereka berada paling dekat dengan siswa sehingga lebih mudah mengenali kemampuan, karakter fisik, hingga potensi olahraga yang dimiliki oleh masing-masing siswa.
“Siswa-siswi ini akan menjadi bibit atlet yang nantinya mewakili Kota Malang dalam Porprov. Terutama dari jenjang SD dan SMP, mereka bisa mewakili Kota Malang di cabang olahraga tertentu. Guru-guru olahraga yang paling mengetahui kemampuan mereka,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, persoalan pembinaan atlet tidak bisa hanya diletakkan pada kemampuan individu. Potensi yang sudah ditemukan juga membutuhkan ekosistem pendukung, termasuk fasilitas olahraga yang memadai di sekolah.
Oleh karena itu, Pemkot Malang membuka peluang untuk melakukan intervensi terhadap sekolah yang masih memiliki keterbatasan sarana dan prasarana olahraga. “Selain kemampuan atlet dan sumber daya manusianya, kami juga memperhatikan sarana dan prasarana. Dalam bimtek ini nanti akan disampaikan sekolah mana yang masih kurang fasilitasnya. Hal itu akan ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian dikoordinasikan dengan Disporapar dan KONI,” jelas Wahyu.
Kebutuhan fasilitas itu, lanjut Wahyu, dapat masuk dalam perencanaan anggaran pemerintah daerah apabila berkaitan langsung dengan penguatan pembinaan atlet. “Jika memang dibutuhkan untuk mendukung sarana dan prasarana, nanti bisa kami alokasikan dalam APBD,” imbuhnya.
Potensi atlet pelajar Kota Malang sendiri dinilai cukup besar. Wahyu menyebut sejumlah atlet yang memperkuat Kota Malang pada Porprov 2025 juga berasal dari jenjang pendidikan SD, SMP, hingga SMA. Artinya, jalur sekolah bukan sekadar tempat mencari calon atlet, melainkan telah menjadi salah satu mata rantai penting dalam regenerasi olahraga Kota Malang.
Pendampingan terhadap guru olahraga juga mulai diperkuat. Pembinaan melibatkan sejumlah unsur, mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, Dinas Pendidikan, hingga Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang.
“Ada pembinaan dari Kemenpora, Dinas Pendidikan, maupun KONI. Guru-gurunya juga dibimbing supaya nantinya bisa melatih siswa-siswanya,” ujar Wahyu.
Di level terdekat, Pemkot Malang tetap memasang target tinggi untuk Porprov X Jatim 2027. Sebanyak 222 medali emas menjadi angka yang harus dikejar oleh kontingen Kota Malang.
Target itu bukan sekadar angka yang dilempar tanpa perhitungan. Wahyu menyebut KONI telah melakukan kalkulasi berdasarkan potensi atlet dan kekuatan yang dimiliki Kota Malang. “Target 222 emas memang harus ada. Tentu kita berupaya karena KONI sudah melakukan perhitungan yang matang dengan kemampuan yang ada di Kota Malang. Mudah-mudahan 222 medali emas ini bisa kita dapatkan,” tegas Wahyu. (Eka Nurcahyo)




